Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Hari Braille Sedunia 4 Januari: Sejarah, Makna, dan Pentingnya Akses Informasi Setara

Penulis : Mutmainah J - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

03 - Jan - 2026, 16:39

Placeholder
Hari Braille Sedunia 4 Januari. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Setiap tanggal 4 Januari, dunia memperingati Hari Braille Sedunia (World Braille Day). Peringatan ini menjadi momentum global untuk menegaskan bahwa kemampuan membaca dan menulis merupakan hak dasar setiap manusia.

Bagi penyandang tunanetra, akses terhadap literasi tersebut terwujud melalui sistem tulisan Braille yang menggunakan titik-titik timbul sebagai media baca. Kehadiran Braille telah membuka pintu pendidikan dan informasi yang sebelumnya sulit dijangkau.

Baca Juga : Arus Balik Nataru Mulai Terasa, Penumpang Tiba Dominasi Stasiun Malang

Sejarah Peringatan Hari Braille Sedunia

Melansir laman National Today, tanggal 4 Januari dipilih karena bertepatan dengan hari kelahiran Louis Braille, pencipta sistem tulisan Braille. Louis Braille lahir pada 4 Januari 1809 di Coupvray, Prancis. Ia kehilangan penglihatannya sejak usia dini akibat kecelakaan. Meski demikian, keterbatasan tersebut tidak memadamkan semangatnya untuk belajar dan berkarya.

Dalam perjalanannya menempuh pendidikan di sekolah khusus tunanetra di Paris, Louis Braille merasakan langsung sulitnya mengakses bahan bacaan. Buku-buku pada masa itu menggunakan huruf timbul berukuran besar yang tidak praktis dan sulit dipahami. Dari pengalaman tersebut, muncul gagasan untuk menciptakan sistem tulisan yang lebih sederhana, efisien, dan mudah digunakan.

Pada usia remaja, Louis Braille berhasil mengembangkan sistem enam titik timbul yang dapat dibaca dengan sentuhan jari. Sistem inilah yang kemudian dikenal sebagai huruf Braille dan menjadi tonggak penting dalam dunia literasi tunanetra.

Meski manfaatnya besar, sistem Braille tidak langsung diterima secara luas. Pada awal kemunculannya, metode ini sempat dipandang sebelah mata dan kurang mendapat dukungan. Namun seiring waktu, efektivitasnya terbukti dan mulai digunakan di berbagai negara hingga akhirnya menjadi standar internasional literasi tunanetra.

Kesadaran global terhadap pentingnya Braille semakin menguat seiring berkembangnya isu hak asasi manusia dan inklusivitas. Puncaknya terjadi pada tahun 2018, ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi menetapkan 4 Januari sebagai World Braille Day. Penetapan ini menegaskan bahwa akses terhadap pendidikan, literasi, dan informasi merupakan bagian dari hak asasi manusia, tanpa memandang kondisi fisik seseorang.

Contoh Tulisan Braille dan Cara Membacanya

Tulisan Braille tersusun dari enam titik timbul yang membentuk satu sel. Setiap kombinasi titik mewakili huruf, angka, atau simbol tertentu. Titik-titik tersebut dibaca dari kiri ke kanan menggunakan ujung jari.

Sebagai contoh:

• Huruf A dalam Braille ditulis dengan satu titik di kiri atas

• Huruf B menggunakan dua titik di kiri atas dan kiri tengah

• Huruf C terdiri dari dua titik di kiri atas dan kanan atas

Kata sederhana seperti “BRAILLE” dalam sistem Braille akan terbentuk dari rangkaian kombinasi titik yang berbeda untuk setiap huruf. Dengan latihan, penyandang tunanetra dapat membaca teks Braille dengan kecepatan yang setara dengan membaca tulisan biasa.

Braille tidak hanya digunakan untuk teks, tetapi juga untuk:

• Angka dan operasi matematika

• Tanda baca

• Notasi musik

• Simbol ilmiah

Hal ini menjadikan Braille sebagai sistem komunikasi yang lengkap dan fleksibel.

Makna dan Peran Braille di Era Modern

Sistem Braille memungkinkan penyandang tunanetra membaca dan menulis secara mandiri. Tidak hanya mencakup huruf alfabet, Braille juga digunakan untuk angka, tanda baca, simbol matematika, hingga notasi musik. Inovasi ini memberikan kemandirian serta memperluas kesempatan belajar dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Baca Juga : Kabar Baik Awal Tahun, Isra Miraj 2026 Hadirkan Long Weekend

Di era digital, peran Braille tetap relevan dan terus berkembang. Selain hadir dalam bentuk buku cetak, Braille kini terintegrasi dengan teknologi modern, seperti layar Braille digital, perangkat elektronik, hingga penanda di fasilitas umum. Meski demikian, tantangan aksesibilitas masih menjadi pekerjaan rumah di banyak negara, termasuk keterbatasan bahan bacaan dan layanan publik yang ramah bagi penyandang tunanetra.

Momentum Mendorong Inklusivitas

Peringatan Hari Braille Sedunia dimanfaatkan oleh berbagai organisasi, lembaga pendidikan, dan komunitas disabilitas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya inklusivitas dan kesetaraan. Beragam kegiatan digelar, mulai dari kampanye literasi Braille, edukasi publik, hingga advokasi kebijakan yang mendukung lingkungan ramah disabilitas.

Lebih dari sekadar mengenang lahirnya sebuah sistem tulisan, Hari Braille Sedunia menjadi simbol perjuangan menuju masyarakat yang adil, setara, dan manusiawi. Dengan membuka akses informasi seluas-luasnya, dunia dapat memastikan tidak ada satu pun individu yang tertinggal dalam memperoleh hak untuk belajar, berkembang, dan berkontribusi.


Topik

Serba Serbi Hari Braille Sedunia World Braille Day sejarah hari braille braille



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tulungagung Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Sri Kurnia Mahiruni