Dokter RSI Unisma Ingatkan Bahaya Flu yang Tak Membaik Lebih dari Tiga Hari
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
Yunan Helmy
17 - Jan - 2026, 07:40
JATIMTIMES - Flu kerap dianggap penyakit ringan yang akan sembuh dengan sendirinya. Namun anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Dokter umum Rumah Sakit Islam (RSI) Unisma Malang dr Atika Herawati menegaskan bahwa flu memiliki batas aman pemantauan mandiri. Jika keluhan tak kunjung membaik dalam tiga hari, masyarakat disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
“Flu ringan itu termasuk self limiting disease. Artinya, tubuh sebenarnya mampu menyembuhkan dirinya sendiri selama daya tahan tubuh bagus. Tapi batas maksimalnya tiga hari. Kalau lewat itu keluhan masih ada atau justru memberat, jangan ditunda untuk ke dokter,” ujar dr Atika.
Baca Juga : 11 Awak dan Penumpang Pesawat ATR 42 IAT Belum Ditemukan, Berikut Daftar Namanya
Menurut Atika, masyarakat perlu memahami perbedaan antara flu biasa dan influenza. Flu masuk kategori ringan, sementara influenza adalah kondisi yang lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi. “Kalau sudah muncul keluhan seperti tenggorokan sangat nyeri, hidung sampai merah dan perih, pusing, demam, atau badan terasa sangat tidak nyaman, itu sudah masuk influenza,” jelasnya.
Influenza sendiri disebabkan oleh virus dan terbagi dalam tiga tipe, yakni A, B, dan C.. Di Indonesia, tipe yang paling banyak ditemukan adalah influenza A dan B. Virus ini terus berkembang dan bermutasi, termasuk varian yang belakangan dikenal masyarakat sebagai superflu.
“Superflu itu sebenarnya masih bagian dari influenza tipe A. Hanya saja tipenya berbeda, misalnya dengan kode H3N2 atau H3N1. Untuk memastikan jenisnya, tetap harus melalui pemeriksaan medis,” kata Atika.
Salah satu alasan influenza mudah menyebar adalah cara penularannya yang sangat sederhana. Virus menyebar melalui droplet, yakni percikan cairan dari batuk, bersin, atau bahkan saat berbicara. “Batuk atau bersin itu bisa memercikkan kuman. Kalau mengenai orang lain yang daya tahan tubuhnya sedang turun, penularan bisa langsung terjadi,” jelasnya.
Selain itu, penularan bisa terjadi melalui benda mati. Droplet yang menempel di meja, gagang pintu, atau tangan, lalu tanpa sadar menyentuh mata, hidung, atau mulut, dapat menjadi pintu masuk virus ke dalam tubuh.
Karena itu, Atika menekankan pentingnya kebiasaan memakai masker saat sakit flu dan rajin mencuci tangan, kebiasaan yang sebenarnya sudah dikenal luas sejak pandemi Covid-19.
Belakangan, istilah superflu ramai dibicarakan di masyarakat, termasuk di Malang. Namun, Atika menegaskan bahwa secara klinis, gejalanya hampir sama dengan influenza biasa.
“Demam, nyeri tenggorokan, nyeri sendi, sakit kepala, dan badan terasa tidak enak. Bedanya ada pada tipe virusnya, dan itu hanya bisa diketahui lewat pemeriksaan,” katanya.
Tanpa pemeriksaan laboratorium, superflu tetap diperlakukan seperti influenza pada umumnya, dengan fokus utama menjaga daya tahan tubuh dan memantau perkembangan gejala. Influenza tidak berdampak sama pada semua orang. Anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, lansia, serta penderita penyakit bawaan seperti asma, diabetes, dan penyakit jantung termasuk kelompok yang paling rentan.
“Kalau orang sehat, virus bisa datang lalu pergi. Tapi kalau punya penyakit bawaan, virus ini bisa ‘menumpang’ dan memperberat kondisi yang sudah ada,” terang Atika.
Baca Juga : Cat Warna-warni Surai Kuda di Bromo Tuai Banyak Kritik, Amankah untuk Kesehatan?
Ia mencontohkan penderita asma yang awalnya hanya mengalami batuk pilek. Jika penanganannya terlambat, asma bisa kambuh dan menyebabkan sesak berat hingga harus dirawat inap.
Masyarakat kerap memilih membeli obat bebas saat flu. Menurut Atika, hal ini diperbolehkan selama ada perbaikan kondisi. Namun jika setelah dua hingga tiga hari tidak ada perubahan, langkah itu justru berisiko. Penanganan yang tidak tepat dapat membuat virus menyebar ke saluran pernapasan bawah dan memicu komplikasi seperti bronkitis atau pneumonia, yang dalam istilah awam sering disebut paru-paru basah.
“Kalau sudah minum obat sendiri tapi tidak membaik, itu tanda harus ke dokter. Jangan terus-terusan menahan sakit dengan obat bebas,” tegasnya.
Menurut Atika, kunci melawan influenza tidak semata bergantung pada obat, melainkan pada daya tahan tubuh yang terjaga. Pola hidup sehat menjadi fondasi utama agar tubuh mampu melawan infeksi.
Ia menyarankan sejumlah langkah sederhana yang bisa dilakukan sehari-hari. Antara lain mengonsumsi makanan bergizi seimbang, mencukupi kebutuhan cairan sekitar 1,5–2 liter per hari, lebih dianjurkan air hangat, serta memastikan waktu istirahat yang cukup dengan mengurangi begadang. Selain itu, olahraga ringan secara rutin dan kemampuan mengelola stres menjadi bagian penting dalam menjaga imunitas.
“Stres sangat memengaruhi sistem imun. Saat stres, pola makan dan tidur sering berantakan. Daya tahan tubuh menurun, sehingga penyakit yang ringan bisa berkembang menjadi lebih berat,” jelasnya.
Perubahan cuaca memang kerap dikaitkan dengan meningkatnya kasus flu. Namun, Atika menegaskan bahwa faktor cuaca bukan satu-satunya penyebab. “Pancaroba itu faktor eksternal. Penentunya tetap daya tahan tubuh. Kalau tubuh kuat, flu tidak mudah berkembang,” ujarnya.
Ia menutup dengan pesan agar masyarakat tidak menyepelekan flu, meningkatkan kesadaran diri saat sakit, serta lebih peduli dalam melindungi kelompok rentan di sekitar. “Menerima sakit bukan berarti pasrah. Justru itu bentuk ikhtiar tertinggi, untuk mengobati, mencegah komplikasi, dan menjaga orang lain,” pungkasnya.
