Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Kesehatan

Jarang Dibahas! Jerawat Ternyata Bisa Mengganggu Kesehatan Mental Remaja, Ini Penjelasan Dokter Kulit

Penulis : Mutmainah J - Editor : Dede Nana

03 - Jan - 2026, 10:03

Placeholder
Ilustrasi wajah berjerawat. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Jerawat kerap dipandang sebagai masalah kulit yang biasa terjadi pada semua orang, terutama pada masa remaja. Namun bagi sebagian orang, kemunculannya di wajah dapat menimbulkan tekanan yang jauh lebih besar dari sekadar gangguan penampilan. 

Rasa tidak percaya diri, kecemasan, hingga keinginan untuk menjauh dari lingkungan sosial sering kali muncul bersamaan dengan jerawat yang sulit dikendalikan.

Baca Juga : Akhir Pekan Awal 2026 Makin Seru! Ini Rekomendasi Film Bioskop yang Wajib Ditonton

Belakangan, para ahli mulai menyoroti hubungan antara jerawat dan kesehatan mental. Kondisi kulit ini ternyata dapat berdampak pada cara remaja memandang diri sendiri, terutama ketika jerawat muncul di fase kehidupan yang penuh perubahan.

Dokter spesialis kulit Dr Akriti Gupta menilai jerawat pada remaja tidak bisa dipisahkan dari aspek psikologis. Menurutnya, masa remaja merupakan periode krusial dalam pembentukan identitas, sehingga perubahan pada penampilan kerap dirasakan lebih sensitif.

“Bagi banyak remaja, jerawat bukan sekadar masalah kulit. Kondisi ini bisa membawa beban emosional yang cukup berat,” ujar Dr Gupta, seperti dikutip dari Hindustan Times, Sabtu (3/1/2026).

Ia menjelaskan, banyak pasien remaja yang datang untuk berkonsultasi bukan hanya karena ingin kulitnya bersih, tetapi karena jerawat mulai memengaruhi rasa percaya diri mereka. Tak jarang, jerawat membuat remaja merasa menjadi pusat perhatian dan merasa dinilai oleh orang lain.

Dalam keseharian, dampaknya bisa terlihat dari perubahan perilaku. Sebagian remaja menjadi lebih pendiam, enggan berinteraksi, menghindari kegiatan sosial, bahkan memilih tidak berangkat ke sekolah ketika jerawat sedang parah.

Menurut Dr Gupta, gejala emosional akibat jerawat sering kali tidak disadari oleh orang tua maupun lingkungan sekitar. Perubahan suasana hati, mudah tersinggung, kehilangan minat pada aktivitas yang sebelumnya disukai, hingga kecenderungan menggunakan filter media sosial secara berlebihan kerap dianggap sebagai fase wajar remaja.

“Ketika remaja terlalu fokus memeriksa wajahnya di cermin, itu biasanya bukan soal penampilan semata, tetapi rasa cemas yang mendalam,” kata Dr Gupta.

Lebih lanjut, ia menekankan adanya hubungan dua arah antara jerawat dan kondisi mental. Jerawat dapat memicu stres dan perasaan tertekan, sementara stres yang berkepanjangan juga bisa memperburuk jerawat. Faktor seperti ketidakseimbangan hormon, kualitas tidur yang menurun, serta peradangan akibat stres berperan dalam memperparah kondisi kulit.

“Kondisi ini dapat menciptakan siklus yang saling memengaruhi, di mana stres dan jerawat terus memperkuat satu sama lain,” ujarnya.

Tekanan dari media sosial turut memperbesar masalah. Paparan standar kecantikan yang tidak realistis dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain membuat banyak remaja merasa penampilan mereka selalu kurang. Dalam situasi ini, jerawat sering kali menjadi simbol dari perasaan tidak cukup baik.

Meski demikian, Dr Gupta menegaskan bahwa kondisi ini dapat diatasi dengan pendekatan yang tepat. Perkembangan dunia dermatologi saat ini memungkinkan penanganan jerawat yang lebih efektif dan terarah. Pilihan perawatan pun beragam, mulai dari penggunaan obat topikal, perawatan kulit ringan, hingga terapi yang disesuaikan dengan kondisi hormonal pasien.

Ia juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi remaja. Mengabaikan keluhan atau meminta anak “tidak terlalu memikirkan” jerawat justru bisa memperburuk kondisi psikologis mereka.

Baca Juga : Super Flu Hantui Indonesia, Orang Tua Wajib Tahu 12 Gejalanya pada Anak

“Yang dibutuhkan remaja adalah pemahaman dan dukungan, bukan sekadar nasihat,” ujarnya.

Langkah Dasar Merawat Jerawat pada Remaja

Dr Gupta merekomendasikan beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk membantu mengendalikan jerawat:

1. Membersihkan wajah dengan pembersih lembut dua kali sehari untuk mengontrol minyak tanpa mengiritasi kulit.

2. Menggunakan retinoid topikal pada malam hari untuk mencegah pori-pori tersumbat.

3. Mengaplikasikan benzoyl peroxide atau asam salisilat untuk jerawat aktif dan peradangan.

4. Menghindari kebiasaan memencet jerawat karena dapat memperparah bekas dan memperlambat penyembuhan.

5. Berkonsultasi ke dokter kulit sejak dini jika jerawat bersifat hormonal, menetap, atau berisiko meninggalkan bekas.

“Menangani jerawat pada remaja bukan hanya soal kosmetik, tetapi juga bagian dari perawatan kesehatan mental,” tutur Dr Gupta.

“Kulit yang lebih bersih memang penting, tetapi ketenangan pikiran jauh lebih berharga. Ketika keduanya ditangani bersamaan, proses pemulihan akan jauh lebih optimal, baik secara fisik maupun emosional,” pungkasnya.


Topik

Kesehatan jerawat dampak jerawat remaja tips atasi jerawat



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tulungagung Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Dede Nana