JATIMTIMES - Di tengah tradisi Idul Adha yang identik dengan sapi, kambing, atau unta, ada kisah tak biasa dari dua sahabat Nabi Muhammad SAW. Mereka bukan orang yang menolak kurban, tetapi justru menghadirkan pesan lain tentang makna berbagi dan kemampuan. Dua sahabat itu adalah Bilal bin Rabah dan Abdullah bin Abbas.
Hari Raya Idul Adha memang lekat dengan syariat penyembelihan hewan kurban. Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37: “Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”
Baca Juga : Waspada Haji Ilegal: Kenali Ciri-cirinya agar Tak Tertipu dan Terhindar dari Sanksi
Ayat tersebut menegaskan bahwa inti ibadah kurban bukan semata besar kecilnya hewan yang disembelih, melainkan keikhlasan dan ketakwaan orang yang melakukannya.
Karena itu, kisah Bilal bin Rabah dan Ibnu Abbas sering dianggap sebagai pengingat bahwa semangat Idul Adha tidak boleh berhenti hanya pada simbol kemewahan kurban. Ada nilai sosial dan kepedulian yang jauh lebih utama.
Dalam sejumlah riwayat yang dikutip dari ceramah Gus Baha serta Adi Hidayat, Bilal bin Rabah diceritakan lebih memilih menyembelih ayam pada momentum Idul Adha. Daging ayam itu kemudian dibagikan kepada anak yatim dan fakir miskin.
Muazin kesayangan Rasulullah SAW tersebut bahkan pernah mengatakan, “Aku tidak peduli dengan apa yang orang-orang sajikan. Aku bisa menyembelih ayam dan bersedekah dengannya kepada anak-anak yatim dan orang-orang miskin.”
Pernyataan itu bukan bentuk penolakan terhadap syariat kurban. Bilal justru sedang menunjukkan bahwa berbagi tidak boleh terhalang oleh keterbatasan ekonomi. Ketika orang lain mampu menyembelih unta atau sapi, ia memilih memberi sesuai kemampuan yang dimiliki.
Kisah serupa juga datang dari Abdullah bin Abbas. Sepupu Rasulullah SAW yang dikenal sebagai ahli tafsir itu disebut kerap membeli daging untuk dibagikan kepada masyarakat pada hari raya. Bahkan dalam beberapa riwayat, Ibnu Abbas juga pernah menyembelih ayam saat Idul Adha.
Sejak muda, Ibnu Abbas dikenal memiliki semangat sedekah yang tinggi. Ia tidak ingin momentum hari raya berlalu tanpa menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain, meski yang dibagikan bukan hewan kurban seperti lazimnya masyarakat Arab kala itu.
Baca Juga : Abdul Halim DPRD Jatim Ingatkan Performa Bank Jatim hingga PJU Tak Boleh Kendur
Di situlah letak pesan menarik dari dua sahabat Rasulullah tersebut. Mereka tidak sedang mengubah syariat kurban. Ayam tetap bukan hewan sah untuk ibadah kurban dalam Islam. Para ulama sepakat bahwa hewan kurban hanya terbatas pada hewan ternak seperti kambing, domba, sapi, dan unta.
Namun, Bilal dan Ibnu Abbas memperlihatkan bahwa semangat Idul Adha tidak hanya milik orang kaya. Orang yang belum mampu berkurban tetap dapat memuliakan hari raya dengan berbagi makanan, bersedekah, dan membahagiakan sesama.
Rasulullah SAW sendiri pernah bersabda: “Hari-hari tasyrik adalah hari makan, minum, dan berdzikir kepada Allah.” (HR Muslim)
Hadis itu kerap dimaknai bahwa Idul Adha bukan sekadar ritual penyembelihan, tetapi juga momentum memperkuat solidaritas sosial. Karena itu, memberi hidangan terbaik kepada keluarga, tetangga, atau kaum dhuafa juga menjadi bagian dari syiar hari raya.
Di era sekarang, ketika Idul Adha kadang berubah menjadi ajang menunjukkan besarnya hewan kurban, kisah Bilal dan Ibnu Abbas terasa relevan kembali. Keduanya mengajarkan bahwa nilai terbesar dalam perayaan kurban bukan terletak pada ukuran hewan, melainkan seberapa besar kepedulian yang lahir dari hati seseorang.
