Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Kesehatan

Respons Sosial Minim Jadi Alarm Awal Autisme pada Anak

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

05 - May - 2026, 17:19

Placeholder
Founder sekaligus CEO Malang Autism Center (MAC), Mohammad Cahyadi (Anggara Sudiongko/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Kemampuan orang tua dalam membaca sinyal tumbuh kembang anak menjadi faktor krusial dalam mendeteksi gangguan spektrum autisme sejak dini. 

Founder sekaligus CEO Malang Autism Center (MAC), Mohammad Cahyadi, menegaskan bahwa tanda-tanda awal autisme sebenarnya sudah dapat dikenali bahkan sejak usia enam bulan, terutama melalui aspek respons sosial bayi yang tampak sederhana namun sangat fundamental.

Baca Juga : Kota Malang Borong Dua Penghargaan Halal 2026, Wali Kota Wahyu Tancap Gas Perkuat UMKM

Menurut Cahyadi, indikator paling awal yang perlu dicermati adalah bagaimana bayi merespons interaksi sosial dari lingkungan terdekatnya. Pada fase perkembangan normal, bayi umumnya mulai menunjukkan keterlibatan emosional melalui senyum, kontak mata, serta ekspresi wajah ketika diajak berkomunikasi. Respons ini menjadi fondasi penting dalam perkembangan komunikasi dan interaksi sosial ke depan.

“Kalau misalkan enam bulan pertama itu kita ajak bercanda, main, tertawa, dia minimal merespons atau tersenyum. Itu yang disebut respon sosial, terdiri dari ekspresi wajah dan senyum,” ujar Cahyadi saat ditemui di Kelurahan Penanggungan belum lama ini. 

Ia menekankan, ketiadaan atau minimnya respon tersebut patut menjadi perhatian serius. Dalam pengalamannya sebagai praktisi sekaligus orang tua, ia menemukan perbedaan yang cukup kontras antara anak dengan perkembangan tipikal dan anak dengan indikasi autisme. “Anak saya sampai usia satu tahun itu cenderung datar. Sudah diajak bercanda, tetap saja ekspresinya biasa. Itu ciri paling mendasar,” katanya.

Selain aspek sosial, pola ketertarikan anak terhadap objek tertentu juga menjadi indikator penting yang tidak boleh diabaikan. Anak dengan spektrum autisme cenderung menunjukkan fokus yang intens, repetitif, dan berlangsung lama terhadap benda tertentu, khususnya objek yang bergerak atau berputar. Perilaku ini berbeda dengan rasa penasaran anak pada umumnya yang cenderung lebih variatif dan cepat berpindah.

“Dia senang benda berputar dan itu dilihat terus menerus. Kalau diberikan stimulus seperti itu, dia bisa fokus sepanjang hari pada objek tersebut,” jelas Cahyadi.

Fenomena ini, lanjutnya, kerap tanpa disadari diperkuat oleh pola stimulasi yang kurang tepat dari orang tua. Misalnya, kebiasaan memainkan benda berputar di atas bayi yang justru dapat memicu ketertarikan berlebihan jika dilakukan secara terus-menerus. Karena itu, ia mengingatkan bahwa stimulasi harus diberikan secara proporsional dan variatif agar tidak mengunci perhatian anak pada satu jenis rangsangan saja.

Di sisi lain, Cahyadi menggarisbawahi pentingnya membedakan antara autisme dengan gangguan perilaku yang muncul akibat faktor lingkungan. Ia menegaskan bahwa tidak semua anak yang tampak hiperaktif atau sulit diatur dapat langsung dikategorikan sebagai autisme. “Kalau hiperaktif itu belum tentu autisme. Itu memang bisa jadi bagian dari ciri, tapi tidak bisa langsung disimpulkan,” tegasnya.

Dalam beberapa tahun terakhir, ia melihat tren meningkatnya kasus gangguan perilaku pada anak yang dipicu oleh paparan teknologi dan budaya populer. Anak-anak yang terlalu sering terpapar gawai, media sosial, maupun tren global seperti budaya pop, cenderung mengalami kesulitan dalam mengelola emosi dan kontrol diri.

“Kalau karena screen time berlebihan, itu lebih ke behavior problem, bukan autisme,” katanya.

Baca Juga : Gubernur Khofifah Jawab Sederet Kritik DPRD Jatim soal BUMD: Jangan Digebyah-Uyah

Ia mencontohkan fenomena anak yang mengalami tantrum ketika keinginannya tidak terpenuhi, terutama yang berkaitan dengan tren yang sedang populer di lingkungan sosialnya. Kondisi ini, menurutnya, merupakan refleksi dari perubahan pola asuh dan dinamika sosial yang semakin kompleks. “Sekarang banyak anak yang emosinya tidak terkontrol ketika tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Ini kombinasi dari teknologi, pop culture, dan perubahan pola asuh,” ujarnya.

Lebih jauh, Cahyadi menjelaskan bahwa gangguan perilaku akibat faktor eksternal masih memiliki peluang pemulihan yang relatif cepat dibandingkan autisme yang bersifat neurodevelopmental. Dengan intervensi yang tepat dan konsistensi dari orang tua, anak-anak dengan masalah perilaku dapat kembali ke pola perkembangan yang lebih adaptif.

“Kalau itu hanya behavior problem, biasanya dalam enam bulan bisa kembali normal, asal orang tua sadar sejak dini,” jelasnya.

Untuk memastikan kondisi anak, ia mendorong orang tua agar tidak ragu melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan yang memiliki kompetensi di bidang tumbuh kembang anak. Pemeriksaan yang berbasis pendekatan ilmiah dinilai penting untuk mendapatkan diagnosis yang akurat dan menghindari kesalahan persepsi.

“Kalau mau yang valid secara saintifik, bisa langsung ke rumah sakit umum kelas A seperti RS Saiful Anwar. Itu bisa jadi rujukan terbaik,” kata Cahyadi.

Ia menambahkan, meskipun terdapat opsi layanan yang lebih cepat di fasilitas swasta, akses ke rumah sakit rujukan tetap menjadi pilihan utama bagi masyarakat karena standar pemeriksaan yang komprehensif. Namun, ia juga mengingatkan adanya tantangan berupa antrean yang cukup panjang sehingga orang tua perlu memiliki perencanaan sejak awal.

Cahyadi menekankan, bahwa deteksi dini merupakan kunci dalam menentukan efektivitas penanganan, baik untuk autisme maupun gangguan perilaku lainnya. Kepekaan orang tua, ditopang dengan pemahaman yang tepat, menjadi garda terdepan dalam memastikan anak mendapatkan intervensi yang sesuai sejak fase paling awal kehidupannya.


Topik

Kesehatan Malang Autism Center MAC autisme respon sosial



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tulungagung Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Sri Kurnia Mahiruni