JATIMTIMES - Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran dan Amerika Serikat saling melontarkan klaim berbeda terkait aktivitas militer di Selat Hormuz. Jalur laut yang menjadi urat nadi distribusi energi global ini kini kembali berada dalam bayang-bayang konflik, meski upaya diplomasi masih terus berjalan.
Pemerintah Iran dengan tegas membantah pernyataan Amerika Serikat yang mengklaim kapal perangnya telah memasuki Selat Hormuz untuk menjalankan operasi pembersihan ranjau laut. Bantahan ini disampaikan melalui kantor berita semi-resmi Tasnim yang mengutip pernyataan dari militer Iran serta Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Baca Juga : Bank Indonesia Buka Lowongan Besar-besaran 2026, Lulusan S1 Bisa Daftar hingga 17 April
Juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menegaskan bahwa tidak ada satu pun kapal perang AS yang melintasi jalur strategis tersebut. Ia juga menyebut klaim yang disampaikan Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, sebagai tidak berdasar. “Inisiatif dalam lalu lintas dan perlintasan kapal apa pun berada di tangan angkatan bersenjata Iran,” kata Zolfaghari, dikutip dari Anadolu Agency, Minggu (12/4/2026).
Pernyataan ini sekaligus menegaskan posisi Iran yang menganggap dirinya sebagai pihak yang memiliki otoritas penuh atas pengelolaan lalu lintas di Selat Hormuz. IRGC bahkan menyebut bahwa mereka menjalankan “manajemen cerdas” dalam menjaga keamanan dan stabilitas jalur pelayaran tersebut.
Lebih lanjut, Iran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka, namun hanya bagi kapal-kapal nonmiliter yang mematuhi aturan yang telah ditetapkan. Sementara untuk kapal militer asing, Teheran memberikan peringatan keras.
Menurut pernyataan resmi IRGC, setiap upaya masuknya kapal perang ke wilayah tersebut akan direspons dengan “ketegasan dan tekad penuh”, yang mengindikasikan potensi eskalasi jika terjadi pelanggaran.
Di sisi lain, Amerika Serikat melalui CENTCOM justru menyampaikan narasi berbeda. Laksamana Brad Cooper sebelumnya menyatakan bahwa dua kapal perusak berpeluru kendali milik AS telah berhasil melintasi Selat Hormuz sebagai bagian dari misi menjaga keamanan jalur pelayaran internasional.
Operasi tersebut disebut bertujuan untuk mengantisipasi ancaman ranjau laut yang, menurut klaim AS, dipasang oleh Iran di kawasan tersebut. “Kami memulai proses pembentukan jalur pelayaran aman dan akan segera membagikannya kepada industri maritim,” ujar Cooper.
Tak hanya itu, militer AS juga berencana meningkatkan intensitas operasi dengan mengerahkan tambahan kekuatan, termasuk drone bawah laut yang dirancang untuk mendeteksi dan menetralisir ranjau.
Perbedaan klaim antara kedua negara ini terjadi di momen yang cukup sensitif. Hanya beberapa jam sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat baru saja menyelesaikan putaran terbaru perundingan langsung yang berlangsung di Islamabad, Pakistan.
Baca Juga : India Blokir Meme dan Satire soal PM Modi, Warga Ramai Kritisi Sensor Pemerintah
Menurut laporan media Iran, kedua pihak saat ini tengah memasuki tahap pembahasan draf tertulis sebagai kelanjutan dari negosiasi tersebut. Meski belum ada kesepakatan final, langkah ini dinilai sebagai kemajuan penting dalam upaya meredakan konflik yang telah berlangsung lama.
Pakistan, sebagai tuan rumah perundingan, memainkan peran strategis dalam mempertemukan kedua negara yang telah lama tidak memiliki hubungan diplomatik formal sejak 1979. Pertemuan ini bahkan disebut sebagai salah satu kontak paling signifikan dalam beberapa dekade terakhir.
Namun, situasi di lapangan menunjukkan bahwa ketegangan belum sepenuhnya mereda. Selat Hormuz yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia menjadi titik krusial yang dapat memicu dampak global jika terjadi konflik terbuka.
Ketidakpastian ini juga memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri maritim dan energi internasional, yang sangat bergantung pada stabilitas jalur tersebut.
Dengan pernyataan yang saling bertolak belakang antara Iran dan AS, serta meningkatnya aktivitas militer di kawasan, masa depan keamanan Selat Hormuz masih menjadi tanda tanya besar. Dunia kini menanti apakah jalur diplomasi mampu meredakan situasi, atau justru ketegangan akan semakin meluas.
