JATIMTIMES - Konflik yang memanas antara Iran dan Amerika Serikat mulai memicu kekhawatiran di kalangan pelaku industri pariwisata. Di Kota Malang, sektor perhotelan mulai mengantisipasi kemungkinan penurunan wisatawan asing seiring terganggunya sejumlah penerbangan dari kawasan Timur Tengah.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Malang, Agoes Basoeki, mengatakan bahwa situasi geopolitik internasional bisa memengaruhi pergerakan wisatawan mancanegara. Jika akses penerbangan dari beberapa negara ditutup atau dibatasi, jumlah wisatawan asing yang datang ke Indonesia, termasuk Kota Malang, berpotensi menurun.
Dengan kondisi tersebut tentu berdampak langsung pada tingkat hunian hotel yang selama ini juga mengandalkan tamu dari luar negeri.
“Keadaan tersebut tentu menyulitkan industri perhotelan karena tamu dari luar negeri tidak bisa datang ketika penerbangan ditutup,” kata Agoes, Minggu (8/3/2026).
Ia menjelaskan, apabila situasi ini berlangsung lama, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha hotel. Rantai ekonomi yang terhubung dengan sektor pariwisata juga bisa ikut terdampak, mulai dari pemasok bahan makanan hingga sektor jasa lainnya.
“Kalau kondisi ini berkelanjutan, efeknya bisa ke mana-mana. Harga minyak bisa naik, bahan pokok juga bisa mahal, dan itu tentu memengaruhi operasional industri perhotelan,” imbuh Agoes.
Meski demikian, Agoes menyebut bahwa tingkat okupansi hotel di Kota Malang saat ini masih relatif stabil. Hal itu karena sebagian besar tamu yang menginap merupakan wisatawan domestik.
“Untuk saat ini kondisi masih stabil, karena sekitar 75 persen tamu yang datang merupakan wisatawan nusantara,” terang Agoes.
Agoes mengaku, pengaruh dari situasi global tersebut mulai terasa, khususnya terhadap jumlah wisatawan asing yang biasanya datang dari berbagai negara, termasuk kawasan Timur Tengah.
Baca Juga : Vidi Aldiano Meninggal Dunia, Ini Perjalanan Karier Sang Pelantun ‘Nuansa Bening’
“Wisatawan mancanegara masih ada yang datang, mungkin dari Timur Tengah. Tapi kalau konflik ini berkepanjangan, tentu akan ada pengaruhnya. Semoga situasinya segera membaik,” tambah Agoes.
Menghadapi kemungkinan tersebut, para pelaku industri perhotelan di Kota Malang mulai mempersiapkan langkah antisipasi. Berbagai strategi tengah dibahas para pengusaha hotel untuk menjaga stabilitas bisnis jika kondisi global semakin tidak menentu.
“Saat ini kami mulai ancang-ancang mencari solusi sambil menunggu langkah pemerintah dalam melakukan komunikasi dan pengendalian situasi,” ungkap Agoes.
Ia menambahkan, sejumlah skenario strategi juga sedang didiskusikan oleh para pelaku usaha perhotelan sebagai langkah antisipasi menghadapi berbagai kemungkinan.
“Para pengusaha sudah mulai menyiapkan strategi-strategi yang bisa dilakukan apabila situasinya semakin sulit,” tutup Agoes.
