Konflik Timur Tengah Picu Pembatalan Penerbangan ke Bali, Pariwisata Jawa Timur Ikut Terdampak
Reporter
Irsya Richa
Editor
Sri Kurnia Mahiruni
05 - Mar - 2026, 12:27
JATIMTIMES - Konflik yang memanas di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai memunculkan kekhawatiran di berbagai sektor, termasuk pariwisata. Pelaku industri wisata di Jawa Timur berharap situasi tersebut tidak berlangsung lama karena dampaknya mulai terasa, terutama pada pergerakan wisatawan mancanegara.
Ketua DPD Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Jawa Timur, Sujai Asmed, mengatakan bahwa efek konflik geopolitik tersebut perlahan mulai memengaruhi arus kunjungan wisatawan asing ke Indonesia. Salah satu indikasinya adalah adanya pembatalan penerbangan menuju Bali dari sejumlah maskapai internasional yang biasanya menjadi pintu masuk wisatawan sebelum melanjutkan perjalanan ke beberapa destinasi di Jawa Timur.
“Kami berharap konflik di Timur Tengah tidak berkepanjangan. Dampaknya sudah mulai terasa di sektor pariwisata, terutama setelah ada pembatalan penerbangan menuju Bali dari maskapai internasional. Padahal biasanya wisatawan tersebut melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur,” kata Sujai.
Menurutnya, situasi tersebut juga berdampak langsung kepada para pramuwisata di Jawa Timur. Beberapa anggota HPI yang selama ini menangani wisatawan asal Eropa mulai menerima pembatalan pesanan perjalanan wisata.
“Sudah ada beberapa pembatalan order dari tamu-tamu Eropa yang sebelumnya dijadwalkan berkunjung. Anggota HPI Jawa Timur yang biasa meng-handle wisatawan tersebut juga mulai merasakan dampaknya,” imbuh Sujai, Kamis (5/3/2026).
Sujai menjelaskan, konflik di Timur Tengah berpotensi mempengaruhi pariwisata Indonesia melalui beberapa faktor. Salah satunya adalah gangguan terhadap rute penerbangan internasional.
Banyak jalur penerbangan dari Eropa menuju Asia melewati wilayah Timur Tengah, sehingga situasi konflik bisa memaksa maskapai mengubah rute atau bahkan membatalkan penerbangan.
“Jika jalur penerbangan terganggu, biaya operasional maskapai bisa meningkat dan harga tiket pesawat ikut naik. Kondisi ini tentu membuat wisatawan lebih selektif dalam memilih destinasi perjalanan,” jelasnya.
Selain itu, ketidakpastian keamanan global juga dapat mempengaruhi minat perjalanan wisata. Beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis biasanya mengeluarkan travel advisory atau peringatan perjalanan kepada warganya ketika situasi geopolitik memanas.
“Ketika ada peringatan perjalanan dari negara asal wisatawan, biasanya mereka akan menunda atau membatalkan rencana liburan ke luar negeri. Hal ini tentu berpengaruh pada kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia,” katanya.
Baca Juga : BPC HIPMI Bondowoso Dukung Penuh MUNAS HIPMI XVIII Digelar di Jawa Timur
Tidak hanya itu, konflik juga berpotensi memicu gejolak ekonomi global. Kenaikan harga minyak, inflasi, hingga ketidakstabilan ekonomi dunia dapat menekan daya beli masyarakat, termasuk untuk aktivitas wisata.
Meski demikian, Sujai melihat masih ada peluang yang bisa dimanfaatkan oleh Indonesia di tengah situasi global yang tidak menentu ini. Indonesia dinilai dapat memposisikan diri sebagai destinasi wisata yang aman dan stabil bagi wisatawan internasional.
“Indonesia justru memiliki peluang untuk menonjolkan diri sebagai destinasi wisata yang aman dan nyaman. Ini bisa menjadi alternatif bagi wisatawan yang biasanya bepergian ke Timur Tengah atau beberapa kawasan lain yang sedang terdampak konflik,” ujarnya.
Ia juga mendorong pemerintah dan pelaku industri pariwisata untuk memperkuat promosi ke pasar yang lebih stabil, seperti negara-negara ASEAN, Australia, China, dan kawasan Asia Timur.
Di sisi lain, pengembangan wisata domestik juga dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan sektor pariwisata di tengah ketidakpastian global.
“Promosi wisata domestik perlu terus diperkuat agar sektor pariwisata tidak terlalu bergantung pada wisatawan mancanegara. Dengan begitu, ketika situasi global tidak menentu, industri pariwisata kita tetap bisa bertahan,” tutupnya.
