JATIMTIMES - Air mata kerap jatuh dari wajah Khalifah Umar bin Khattab setelah menunaikan sholat. Di waktu lain, orang-orang justru melihatnya tertawa sendiri. Pemandangan itu mengusik Madinah. Bisik-bisik merebak, sebagian bahkan berani menuduh sang pemimpin umat telah kehilangan kewarasan.
Kabar itu cepat menyebar. Umar, sosok tegas yang dikenal lurus, kini dianggap berubah. Ada yang melihatnya menangis dalam sunyi, ada pula yang menyaksikannya tertawa tanpa sebab yang jelas. Kaum Muslimin bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi dengan Amirul Mukminin.
Baca Juga : Profil Lucky Widja, Vokalis Element yang Meninggal Dunia di Usia 49 Tahun
Salman Iskandar dalam buku 11 Kisah Islami Pilihan mencatat, kegelisahan masyarakat makin memuncak karena perilaku Umar tak lagi mudah dipahami. Tuduhan itu terasa pahit, terutama bagi Abdurrahman bin Auf, sahabat dekat Umar, yang merasa tersayat mendengar pemimpin yang ia hormati dicap gila.
Puncak kehebohan terjadi saat Umar berdiri di mimbar Masjid Nabawi. Di tengah khutbah Jumat, suaranya mendadak meninggi. Matanya menatap jauh, seolah menembus batas ruang. “Hai sariyahku. Bukit itu. Bukit itu. Bukit itu,” serunya lantang.
Jemaah terdiam. Sebagian saling pandang. Gumaman pun muncul di antara saf. “Khalifah kita benar-benar sudah tidak waras,” ucap beberapa orang lirih.
Usai sholat, Abdurrahman bin Auf memberanikan diri bertanya. “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau berseru seperti itu di tengah khutbah?”.
Umar menjawab dengan tenang. Ia bercerita bahwa beberapa waktu sebelumnya, ia mengirim pasukan untuk menghadapi pemberontak. Saat khutbah berlangsung, Umar seakan diperlihatkan kondisi pasukannya yang sedang terjepit. “Aku melihat mereka dikepung dari segala arah. Satu-satunya jalan selamat adalah bukit di belakang mereka. Maka aku berseru agar mereka menuju ke sana,” ujar Umar.
Namun keganjilan belum berhenti di situ. Abdurrahman kembali bertanya tentang kebiasaan Umar yang menangis lalu tertawa seusai sholat.
Jawaban Umar membuat suasana berubah hening. “Aku menangis karena teringat masa laluku sebelum Islam. Aku pernah mengubur anak perempuanku hidup-hidup. Dosa itu menempel di ingatanku,” katanya lirih. “Aku tertawa karena mengenang kebodohanku. Dahulu aku membuat berhala dari tepung gandum, menyembahnya, lalu memakannya ketika lapar.”
Baca Juga : Bangkitnya Kota Tua Besuki Menuju Cagar Budaya Nasional, Pendapa Pate Alos Diresmikan Menteri Kebudayaan
Pengakuan itu menampar nurani. Umar tidak sedang gila. Ia sedang dihantui penyesalan yang mendalam. Ia mengingat masa jahiliah sebagai cermin agar tak kembali tersesat.
Abdurrahman pulang dengan hati penuh tanda tanya. Ia belum sepenuhnya yakin, hingga waktu membuktikan segalanya. Beberapa hari kemudian, pasukan yang dikirim Umar kembali ke Madinah membawa kemenangan.
Komandan pasukan menceritakan pengalaman yang mereka alami di medan perang. Saat terkepung dan hampir kalah, mereka mendengar suara yang menyerukan arah bukit. Seruan itu mengubah strategi. Mereka bergerak, bertahan, dan akhirnya menang.
Mendengar kisah itu, Abdurrahman terdiam lalu mengangguk perlahan. Tuduhan pun runtuh dengan sendirinya. Umar bukan kehilangan akal. Ia justru diberi kejernihan yang tak semua mata mampu melihatnya.
Abdurrahman kemudian berkata, “Biarkan Umar dengan sikapnya yang tampak tak biasa. Ia melihat sesuatu yang tak sanggup dijangkau oleh indera kita.”
