JATIMTIMES - Di sebuah majelis sederhana, nama Bisyr bin al-Harits disebut dengan nada hormat. Sosok yang dipercaya sebagai wali Allah ini bukan hanya dikagumi para pencari jalan sunyi, tetapi juga dihormati ulama besar dan penguasa pada zamannya. Dalam satu kesempatan, orang-orang berkumpul untuk mendengarkannya berbicara tentang satu perkara yang kerap terasa sepele, tapi berat dijalani: rasa cukup.
Di tengah ceramah itu, seorang pendengar menyela. Ia menantang sikap Bisyr yang dikenal enggan menerima pemberian. Menurut orang tersebut, menolak sumbangan justru bisa memunculkan kesan dimuliakan manusia. “Kalau benar-benar ingin melepaskan diri dari dunia,” katanya, “terimalah saja pemberian itu, lalu berikan secara diam-diam kepada fakir miskin. Setelah itu tetaplah pasrah kepada Allah dan berharap rezeki dari arah yang tak terlihat.” Ucapannya terdengar logis. Para murid pun terdiam, sebagian tampak kagum.
Baca Juga : AS Kembali Incar Greenland, Ini Alasan Pulau Es Arktik Jadi Penting
Bisyr tidak langsung membantah. Ia justru mengajak hadirin berpikir lebih dalam. Dengan suara tenang, ia menjelaskan bahwa orang miskin tidak bisa disamaratakan. Menurutnya, ada tiga golongan. Pertama, mereka yang tak pernah meminta dan bahkan menolak ketika diberi. Kelompok ini, kata Bisyr, adalah para pencari Tuhan sejati; jika mereka memohon kepada Allah, doa mereka nyaris tak berjarak dengan jawaban. Kedua, mereka yang tidak meminta-minta, namun tetap menerima jika ada yang memberi. Mereka berada di jalan tengah, teguh dalam kepasrahan dan kelak akan mendapat jamuan Ilahi di surga. Ketiga, mereka yang bersabar menanti uluran tangan sesuai kemampuan orang lain, sembari menahan diri dari dorongan hawa nafsu.
Penjelasan itu membuat si penyela luluh. Ia mengaku puas dan mendoakan agar Allah pun meridai Bisyr. Selesai perkara debat, tapi pesan tentang keikhlasan justru tertancap lebih dalam.
Kehidupan Bisyr sendiri adalah bukti dari ucapannya. Selama puluhan tahun, ia mengaku menyimpan keinginan-keinginan kecil yang tak pernah ia wujudkan. Ia merindukan daging panggang, ingin mencicipi kacang buncis, namun tak satu pun ia kejar karena tak punya harta. Ia bahkan menghindari meminum air dari saluran yang jelas pemiliknya. Bagi Bisyr, kehati-hatian dalam hal dunia adalah bentuk latihan batin.
Seorang tokoh saleh pernah berkisah tentang pengalamannya berjalan bersama Bisyr di cuaca yang menggigit. Orang-orang membungkus tubuh mereka dengan pakaian tebal, sementara Bisyr justru tampak menggigil tanpa pelindung. Ketika ditanya alasannya, jawabannya sederhana dan menohok: ia teringat pada orang-orang miskin yang tak mampu menghangatkan diri. Karena tak bisa membantu dengan harta, ia memilih ikut merasakan dingin yang sama. Empati, bagi Bisyr, bukan slogan, ia dijalani sampai ke tulang.
Baca Juga : Pertapaan Lawu, Kerajaan Wengker, dan Prasasti Daha: Sejarah Airlangga di Madiun–Ponorogo
Kezuhudan inilah yang membuat banyak orang menjulukinya sebagai wali Allah. Kisah hidupnya dicatat dalam kitab Tadzkiratul Auliya karya Fariduddin Attar pada abad ke-12. Nama lengkapnya Abu Nashr Bisyr bin al-Harits al-Hafi. Ia lahir di sekitar Merv pada pertengahan abad ke-8 Masehi. Setelah meninggalkan kehidupan gemerlap, ia menimba ilmu hadis di Baghdad, lalu memilih jalan asketis, hidup sederhana, berpindah-pindah, bahkan kerap bertelanjang kaki. Ia wafat di Baghdad pada 227 Hijriah atau 841 Masehi, meninggalkan jejak spiritual yang panjang. Keteladanannya membuatnya dikagumi oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan dihormati oleh Khalifah al-Ma'mun.
Julukan “manusia berkaki telanjang” melekat erat padanya. Sejak pertaubatannya, Bisyr nyaris tak pernah memakai alas kaki. Ketika ditanya mengapa, jawabannya terdengar puitis sekaligus tajam. Ia berkata bahwa saat berdamai dengan Allah, ia berada dalam keadaan tanpa alas. Sejak itu, ia merasa malu mengenakan sepatu. Bukankah Allah telah menjadikan bumi sebagai hamparan? Dan bukankah tak pantas berjalan beralas di atas permadani Sang Raja?
