Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Jejak Martalaya: Panglima Sultan Agung dan Bupati Madiun dalam Penaklukan Pasuruan

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

06 - Jan - 2026, 16:54

Placeholder
Makam Tumenggung Martalaya, panglima perang Mataram dan Bupati Madiun, di Kompleks Makam Kuno Kuncen, Kota Madiun.(Foto: Aunur Rofiq/JatimTIMES)

JATIMTIMES - Pada awal abad ke-17, Jawa adalah medan perebutan hegemoni yang kompleks. Mataram, kerajaan agraris di pedalaman Jawa, di bawah Sultan Agung (1613–1646), tengah membangun fondasi kekuasaan yang hendak menaklukkan seluruh tanah Jawa. Ambisi Sultan Agung tidak hanya diarahkan ke jantung politik pedalaman, melainkan juga ke jalur perdagangan strategis di pesisir utara. Pasuruan, sebuah kota pelabuhan di timur laut Jawa, menjadi salah satu sasaran penting dalam ekspansi ini.

Penaklukan Pasuruan tahun 1616–1617 menjadi peristiwa kunci dalam konsolidasi Mataram. Peristiwa ini menampilkan figur-figur militer dan politik penting, mulai dari Tumenggung Martalaya, panglima perang Mataram, hingga Tumenggung Kapulungan, pembela Pasuruan yang goyah di tengah pertempuran. Laporan mengenai peristiwa ini terekam dalam sejumlah sumber Jawa, seperti Babad Tanah Djawi, Serat Kandha, serta catatan Belanda yang dikompilasi oleh Meinsma, Colenbrander, dan Coolhaas.

Baca Juga : Pendaftaran SPAN-PTKIN 2026 Resmi Dibuka, UIN Maliki Malang Siap Jaring Siswa Berprestasi

Namun, seperti halnya peristiwa besar lain dalam sejarah Jawa, kisah penaklukan Pasuruan bukan sekadar catatan militer. Ia adalah cermin dari pertarungan ideologi, spiritualitas politik, dan dendam sejarah yang mengikat kerajaan-kerajaan Jawa Timur dengan Mataram.

Masjid Kuno Kuncen

Mataram dan Ambisi Sultan Agung

Sejak naik takhta pada 1613, Sultan Agung berhadapan dengan situasi politik yang tidak sederhana. Jawa masih terbagi ke dalam sejumlah pusat kekuasaan. Di barat, Banten dan Batavia (yang baru berdiri di bawah VOC sejak 1619) menguasai jalur perdagangan internasional. Di timur, Surabaya memimpin jaringan pelabuhan dan kerajaan kecil seperti Pasuruan, Tuban, dan Gresik.

Sultan Agung sadar bahwa kekuatan politik tidak dapat dilepaskan dari kontrol atas jalur niaga. Karena itu, ia melancarkan serangkaian ekspedisi militer ke pesisir. Tahun 1614, pasukan Mataram berhasil menundukkan Wirasaba. Pada 1615, Mataram mengalahkan pasukan Surabaya di Siwalan, membuka jalan bagi ekspansi lebih lanjut. Penaklukan Pasuruan 1616–1617 menjadi kelanjutan logis dari strategi ini.

Sultan Agung

Martalaya: Panglima Perang Mataram

Tokoh sentral dalam ekspedisi ini adalah Tumenggung atau Adipati Martalaya. Dalam Babad Tanah Djawi (1939–1941, VIII: 58–67) disebutkan bahwa Martalaya ditunjuk langsung oleh Sultan Agung untuk memimpin pengepungan Pasuruan. Ia bukan sekadar panglima lapangan, melainkan figur kepercayaan raja yang bertugas menjaga disiplin dan ketertiban pasukan.

Martalaya lahir dari garis keturunan bangsawan utama Jawa. Ia merupakan putra Raden Ayu Retno Dumilah, putri sulung Panembahan Timur atau Pangeran Maskumambang, bupati pertama Madiun. Panembahan Timur adalah putra bungsu Sultan Trenggono dari Demak dengan Kanjeng Ratu Pembayun, putri Sunan Kalijaga dan Siti Zaenab binti Syekh Siti Jenar. Retno Dumilah menikah dengan Panembahan Senopati, pendiri Mataram Islam. Dari perkawinan ini lahir tiga tokoh penting yaitu Pangeran Pringgalaya, Tumenggung Martalaya, dan Panembahan Juminah.

Dengan latar silsilah itu, Martalaya menempati posisi strategis dalam jejaring politik Jawa abad ke-16 dan ke-17. Ia merupakan cucu Sultan Trenggono, cicit Sunan Kalijaga, sekaligus keturunan langsung Panembahan Senopati melalui garis ibunya. Pertautan darah Demak, Pajang, dan Mataram menjadikannya bukan hanya panglima perang, tetapi juga simbol kesinambungan dinasti Islam Jawa yang mendapat amanat untuk menegakkan hegemoni Mataram di pesisir timur.

Hubungan Martalaya dengan Sultan Agung Hanyakrakusuma juga sangat dekat. Martalaya adalah paman Sultan Agung. Sang raja besar Mataram ini merupakan putra Panembahan Hanyakrawati dengan permaisuri Ratu Mas Hadi, putri Pangeran Benawa dari Pajang dan cucu Sultan Hadiwijaya. Adapun Panembahan Hanyakrawati sendiri adalah putra Panembahan Senopati dengan Waskitajawi dari Pati. Dengan demikian, Sultan Agung masih satu garis darah dengan Martalaya melalui ikatan keluarga Senopati.

Kedekatan genealogis ini memberi dasar kuat mengapa Sultan Agung mempercayakan operasi militer besar seperti ekspedisi Pasuruan kepada Martalaya. Ia bukan hanya panglima lapangan, melainkan juga anggota keluarga inti yang merepresentasikan legitimasi politik dan spiritual Mataram di pesisir timur.

Kepercayaan itu segera diwujudkan dalam strategi nyata di medan perang. Dalam ekspedisi penaklukan Pasuruan, Sultan Agung memberikan instruksi rinci: para sentana kerajaan diperintahkan berkemah di selatan kota, Martalaya di tenggara, sementara pasukan Pajang tidak boleh berkemah jauh dari pos Martalaya. Pasukan elit Alap-alap ditempatkan di utara kota. Serangan hanya boleh dilakukan pada hari Jumat. Aturan ini sarat makna religius sekaligus strategi militer. Jumat merupakan hari suci umat Islam sehingga penyerangan pada hari itu memiliki legitimasi spiritual sekaligus memberi efek psikologis kepada musuh.

Untuk mengawasi pelaksanaan strategi, Sultan Agung menunjuk Tumenggung Jaya Suponta sebagai pengawas lapangan. Tugasnya memastikan seluruh laskar bekerja sebaik-baiknya, sekaligus menjadi mata dan telinga raja di medan perang.

Makam Martalaya

Pasuruan di Bawah Bayang Surabaya

Pasuruan bukan kota kecil. Letaknya di pesisir timur, dekat jalur perdagangan Laut Jawa, menjadikannya simpul penting antara pedalaman dan dunia maritim. Sejak 1615, Pasuruan dijaga oleh Tumenggung Kapulungan, seorang bangsawan Jawa Timur yang dikenal gagah namun penuh intrik.

Kekuatan Pasuruan sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari jaringan politik Surabaya. Sebagai pusat kekuasaan pesisir, Surabaya kerap bertindak sebagai pelindung kota-kota tetangganya. Namun, pada saat Mataram mulai mengepung Pasuruan, Surabaya tampak tidak sepenuhnya mampu memberi bantuan. Kapal Belanda yang berlabuh di Surabaya pada September 1616 mencatat absennya Raja Surabaya karena ia sedang berada di medan perang. Pertanyaannya: apakah ia tengah berusaha membantu Pasuruan, ataukah sekadar membentengi wilayahnya sendiri?

Sultan Agung

Jalannya Pengepungan

Pasukan Mataram bergerak dari Solo ke arah timur sambil menimbulkan kerusakan hebat di sepanjang jalur. Setiba di Pasuruan, mereka menempati posisi sesuai perintah Sultan.

Tumenggung Kapulungan, yang semula tampak percaya diri, mulai goyah. Pada Kamis malam, ia mengumpulkan pasukannya untuk melancarkan serangan balik. Namun, bukannya memimpin dengan tegas, ia justru memerintahkan istri-istrinya bersiap mundur. Perintah itu menjadi tanda kehancuran moral.

Benar saja, ketika pertempuran pecah, Kapulungan melarikan diri ke arah barat menuju Surabaya, meninggalkan pasukannya dalam kekacauan. Babad Tanah Djawi mencatat bagaimana para bawahannya marah besar, bahkan melontarkan caci maki atas pengkhianatan itu. Istri-istri Kapulungan akhirnya jatuh ke tangan pasukan Mataram.

Keesokan harinya, Jumat, pasukan Martalaya menyerbu kota. Pasuruan jatuh, dibakar, dan dijarah. Sejumlah catatan menyebut bahwa Kapulungan hanya selamat berkat tipu muslihat. Menurut Serat Kandha (hlm. 735–736), ia berteriak “Pembunuhan! Amok!” untuk mengalihkan perhatian Mataram ke prajurit Pasuruan yang mengejarnya, sehingga ia bisa lolos.

Perang

Intrik dalam Tubuh Mataram

Baca Juga : Trotoar di Kota Batu Dipercantik Lampu Hias, Pemkot Kebut Pengerjaan di Awal Tahun

Kemenangan Mataram di Pasuruan tidak menutup babak baru persoalan. Dalam perjalanan pulang, Tumenggung Jaya Suponta melaksanakan perintah rahasia Sultan Agung: membubarkan tentara Mataram di sebuah rangkah atau rintangan, dekat Jurang Parahu. Perintah ini mengejutkan para adipati. Martalaya, Adipati Purbaya, dan Mandurareja menolak keras.

Babad mencatat bahwa Mandurareja bahkan mencoba menerobos rangkah itu. Ketegangan internal ini berakhir dengan kompromi: Jaya Suponta meninggalkan pos, dan pasukan Mataram bisa pulang tanpa bentrok. Namun, insiden ini memperlihatkan politik dalam Mataram sendiri. Sultan Agung tampaknya menggunakan strategi “pecah-belah” untuk menguji kesetiaan para adipati, sekaligus memastikan bahwa hasil rampasan perang tidak semuanya dikuasai oleh prajurit.

Catatan lain menyebut bahwa perintah itu bertujuan memisahkan Mandurareja dari pusat kekuasaan, karena raja tidak mempercayainya. Apapun alasannya, peristiwa ini memperlihatkan betapa politik internal Mataram penuh intrik bahkan di tengah kemenangan militer.

Sultan Agung

Perspektif Belanda

Sementara itu, berita penaklukan Pasuruan juga sampai ke telinga Belanda. Catatan Colenbrander dan Coolhaas (1919–1953) menyebut bahwa pada 1617, penguasa Jakarta (Jayakarta) memberi kabar kepada Jan Pieterszoon Coen di Banten mengenai jatuhnya Pasuruan. Laporan itu menggambarkan situasi genting: di timur hanya Surabaya dan Tuban yang tersisa, sementara Pasuruan sudah dimenangkan Mataram.

Menariknya, kabar ini datang agak terlambat. Hal itu menunjukkan keterbatasan arus informasi pada masa itu, sekaligus menegaskan betapa cepat gerak maju Mataram di Jawa Timur.

JP Coen

Tahun yang Membingungkan: 1616 atau 1617?

Salah satu perdebatan historiografis mengenai penaklukan Pasuruan adalah persoalan kronologi. Babad Sangkala menyebut tahun 1617, sementara sejumlah bukti lapangan menunjuk 1616. Sebuah kapal Belanda yang berlabuh di Surabaya pada September 1616, misalnya, mencatat absennya Raja Surabaya karena berada di medan perang. Jika benar demikian, maka penaklukan kemungkinan besar terjadi pada 1616.

Perbedaan catatan ini mencerminkan tantangan dalam menggunakan sumber-sumber Jawa. Babad lebih bersifat literer dan simbolik ketimbang kronologis, sementara sumber Belanda lebih presisi tetapi sering kali memandang peristiwa Jawa dengan bias kolonial. Sejarawan modern harus menempatkan keduanya dalam dialog kritis.

Jatuhnya Pasuruan memiliki sejumlah implikasi penting. Pertama, ia menandai semakin kuatnya dominasi Mataram atas Jawa Timur. Setelah Pasuruan, tinggal Surabaya yang menjadi benteng terakhir pesisir timur. Kedua, ia memperlihatkan keruntuhan solidaritas di antara kerajaan-kerajaan pesisir. Kapulungan lari ke Surabaya, tetapi tidak ada perlawanan berarti dari sekutu lain.

Ketiga, penaklukan ini memperlihatkan ideologi kekuasaan Sultan Agung. Perintah menyerang hanya pada hari Jumat menunjukkan bahwa ekspedisi militer dipandang sebagai jihad politik, sarat makna religius. Dengan demikian, perang bukan hanya perebutan wilayah, tetapi juga legitimasi spiritual bagi Sultan Agung sebagai raja Islam Jawa.

Keempat, intrik dalam tubuh Mataram memperlihatkan bagaimana kemenangan militer tidak otomatis berarti stabilitas politik. Martalaya, Jaya Suponta, Mandurareja, dan Purbaya adalah figur-figur yang terus bersaing memperebutkan pengaruh di istana.

Tempur

Martalaya dalam Bayangan Sejarah

Meski menjadi tokoh sentral dalam penaklukan Pasuruan, nama Martalaya kemudian tenggelam di balik sosok besar Sultan Agung. Babad mencatat perannya dengan rinci, tetapi historiografi modern lebih banyak menyoroti Sultan Agung sebagai aktor tunggal. Padahal, tanpa Martalaya dan disiplin militernya, penaklukan Pasuruan mungkin tidak berlangsung cepat.

Sejak tahun 1616, Martalaya sudah tampil sebagai panglima utama dalam ekspansi Mataram ke pesisir utara Jawa. Penaklukan Lasem berlangsung mudah, tetapi ekspedisi berikutnya ke Pasuruan pada tahun 1617 menuntut strategi yang lebih matang.

Peran terakhir Martalaya dalam penaklukan Jawa Timur tercatat dalam serangan ke Tuban. Kota pantai itu jatuh dengan mudah, sementara bupatinya bersama keluarga melarikan diri ke Madura. Sumber Jawa juga menyebut Pangeran Pringgalaya atau putranya turut terlibat dalam penyerangan ke Blambangan.

Martalaya kemudian tercatat menjabat sebagai Bupati Madiun. Ia mewakili lapisan bangsawan militer yang menjadi tulang punggung kekuasaan Mataram. Perannya tidak hanya sebagai panglima perang, tetapi juga pengelola wilayah. Pada tahun 1645 ia wafat, dan kedudukannya sebagai Bupati Madiun digantikan Pangeran Balitar, putra dari Panembahan Juminah yang merupakan kakak kandung Martalaya. Setahun kemudian, Sultan Agung juga mangkat dan digantikan Susuhunan Amangkurat I.

Martalaya dimakamkan di Makam Kuno Kuncen yang berada di kompleks Masjid Nurhidayatullah, Kelurahan Kuncen, Kecamatan Taman, Kota Madiun. Kompleks makam ini merupakan situs penting sejarah dan religi, tempat bersemayam para tokoh besar Madiun, di antaranya Panembahan Timur, kakek Martalaya sekaligus pendiri Masjid Kuno Kuncen pada tahun 1568, Raden Mas Bagus Petak yang merupakan putra Pangeran Mangkubumi sekaligus keponakan Panembahan Senapati, Adipati Martalaya, Adipati Balitar, Tumenggung Balitar Tumapel, dan para keturunannya.

Kisah Martalaya menunjukkan bahwa ekspansi Mataram tidak semata lahir dari visi seorang raja, tetapi juga dari peran penting putra Retno Dumilah asal Madiun. Kekuatan Mataram berdiri di atas kerja keras para panglima dan prajurit di medan perang, dan Martalaya menjadi contoh nyata bagaimana kekuatan militer Madiun menopang hegemoni Mataram di tanah Jawa.


Topik

Serba Serbi sultan agung martalaya madiun pasuruan



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tulungagung Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri