JATIMTIMES - Kasus pelecehan terhadap seorang penumpang perempuan di bus rute Malang-Denpasar yang viral di media sosial akhirnya mendapat tindak lanjut dari pihak MTrans. Perusahaan menyatakan telah memutus hubungan kerja (PHK) terhadap oknum helper yang diduga melakukan tindakan tidak pantas kepada penumpang.
Pernyataan tersebut disampaikan MTrans melalui akun Threads resminya setelah unggahan korban menuai perhatian luas dari warganet.
Baca Juga : Kronologi Nama Gus Miftah Muncul di Sidang Korupsi Proyek DJKA, Disebut Terima Rp 100 Juta
"Terima kasih atas perhatiannya. Perlu kami sampaikan bahwa oknum Mitra Kerja (Helper) yang dimaksud telah di-PHK dan sudah tidak lagi bekerja sama dengan MTrans. Kami berkomitmen untuk menindak tegas setiap pelanggaran yang bertentangan dengan standar etika dan ketentuan perusahaan," tulis MTrans melalui akun Threads resminya, dikutip Selasa (14/7/2026).
Perusahaan juga menyampaikan permohonan maaf kepada korban maupun masyarakat. "Kami menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang telah terjadi." ungkapnya.
MTrans menjelaskan bahwa kepercayaan dan rasa aman penumpang menjadi prioritas utama. "Kami memahami bahwa kepercayaan dan rasa aman penumpang adalah hal yang sangat penting. Setiap masukan yang disampaikan menjadi perhatian serius bagi kami dan telah kami tindak lanjuti sesuai ketentuan yang berlaku." ucapnya.
Perusahaan memastikan akan terus melakukan evaluasi agar pelayanan kepada penumpang semakin baik. "Terima kasih atas kepercayaan, perhatian, dan pengertiannya. MTrans berkomitmen untuk terus melakukan evaluasi demi memberikan pelayanan yang lebih baik." jelasnya.
Sebelumnya, seorang penumpang perempuan melalui akun Threads @r.linzhao mengaku mengalami kejadian yang membuatnya trauma saat menaiki bus MTrans rute Malang-Denpasar pada 24 Juni 2026.
Ia mengaku sejak awal sengaja memilih duduk bersebelahan dengan penumpang perempuan agar merasa lebih aman selama perjalanan.
"Sebelum booking kursi aku sengaja nanya ke petugas, 'yang sebelahnya cewek kursi nomor berapa ya? aku maunya duduk sebelahan sama cewek.'" ujarnya.
Namun setelah bus berangkat, kursi di sebelahnya ternyata kosong sehingga ia menggunakan dua kursi untuk beristirahat.
Di tengah perjalanan, korban mengaku dihubungi oleh salah seorang kru melalui WhatsApp yang menawarkan bantuan untuk merebahkan sandaran kursinya.
"Dia bilang, 'kak daripada bobonya gitu mending kursinya aku bantu senderin ke belakang gimana?' karena aku pikir itu memang pelayanan ke penumpang, aku jawab 'boleh'." tulisnya.
Korban mengatakan dirinya kemudian tertidur hingga terbangun karena seseorang menepuk tubuhnya.
Menurut pengakuannya, kru tersebut justru duduk di kursinya, memegang rambutnya, lalu mengatakan, "berantakan nih rambutnya karena tidur." Korban mengaku langsung menepis tangan pelaku karena merasa tidak nyaman.
Tak berhenti di situ, ia mengaku kru tersebut kembali berkata, "bobo sini," sambil menunjuk bahunya.
Korban menolak ajakan tersebut. Namun, menurut pengakuannya, kepalanya sempat ditarik ke arah bahu kru sebelum akhirnya berhasil menghindar.
Yang membuatnya semakin takut, kru itu disebut tetap duduk di sampingnya hingga beberapa kali kaki mereka bersentuhan.

Isi chat dari crew MTrans kepada penumpang. (Foto: Threads)
Baca Juga : Polemik Jalan Tembus Griyashanta Picu Konflik Antar-Warga, Dewan Nilai Pemkot Malang Kurang Tegas
Korban mengaku tidak berteriak saat kejadian berlangsung karena situasi yang menurutnya tidak memungkinkan.
"Kejadian itu tengah malam sampe terang, aku sendirian, bus lagi jalan, aku capek banget, dan aku gak tahu dia bakal bereaksi seperti apa kalau aku melawan." jelasnya.
Ia mengatakan saat itu yang ada di pikirannya hanyalah bertahan hingga tiba di Denpasar. Setibanya di Bali, korban langsung melaporkan kejadian tersebut ke kantor MTrans.
Menurut pengakuannya, pihak perusahaan kemudian membuat video permintaan maaf dari kru yang bersangkutan serta menyampaikan bahwa yang bersangkutan dinonaktifkan sementara sambil menunggu keputusan kantor pusat.
Setelah menceritakan pengalamannya di media sosial, korban mengaku mendapat banyak pesan dari perempuan lain yang mengaku memiliki pengalaman serupa.
Salah satu pesan yang diunggah korban berasal dari seorang perempuan yang mengaku melakukan perjalanan sehari sebelum kejadian.
"Pada tanggal 23 Juni aku berangkat dari Malang jam 7 malam. Aku bertiga sama adik perempuanku dan anakku umur 4 tahun. Waktu naik bus barangku dibantu sama crew." tulis korban di Threads menirukan korban lain yang mengalami hal serupa.
Perempuan tersebut mengaku sempat dipanggil turun dari bus dengan alasan bagasi dikhawatirkan tertukar. Namun, menurut pengakuannya, kru justru meminta nomor telepon.
"Aku gak kasih. Tapi setelah itu kok malah ada WhatsApp masuk. Aku jadi kepikiran nomor itu didapat dari mana. Jujur aku ngerasa diteror." jelasnya.
Korban mengatakan masih ada beberapa perempuan lain yang juga menghubunginya dengan cerita yang hampir serupa.
Meski kasus ini viral, korban menegaskan dirinya tidak bermaksud menjatuhkan nama perusahaan. "Postingan ini bukan buat menyudutkan MTrans sebagai perusahaan. Aku berharap perusahaan terus memperbaiki pengawasan dan menangani setiap laporan seperti ini dengan serius." ucapnya.
Ia menambahkan bahwa yang diperjuangkannya adalah rasa aman bagi setiap perempuan saat menggunakan transportasi umum.
"Aku gak cari sensasi, aku gak cari viral. Aku cuma gak mau ada perempuan lain yang naik bus dengan rasa aman, tapi pulangnya malah bawa trauma seperti yang aku rasakan." pungkasnya.
