JATIMTIMES – Para pembudidaya tanaman hias di Kota Batu kini bisa bernapas lebih lega saat memasuki momentum bulan Muharram atau Suro dalam penanggalan Jawa. Dampak dari mitos pantangan menggelar pesta yang biasanya memicu penurunan omzet dari kebutuhan dekorasi secara drastis, kini berhasil teratasi dengan permintaan luar pulau yang masih tinggi.
Kelesuan pasar di dalam Pulau Jawa terselamatkan berkat adanya lonjakan permintaan yang datang dari luar daerah serta maraknya momen kelulusan sekolah. Supplier Bunga Potong Kota Batu, Jumadi, menjelaskan bahwa dinamika pasar pada musim Suro tahun ini menunjukkan tren yang jauh lebih positif dibandingkan periode sebelumnya.
Jika pada tahun lalu banyak hasil panen kelopak bunga yang terpaksa dibuang akibat tidak laku, kondisi kali ini justru berbanding terbalik.
"Kalau Suro tahun lalu itu benar-benar sepi, sampai banyak bunga yang terpaksa dibuang karena tidak terserap. Tapi tahun ini kita agak lega karena momennya bertepatan dengan persiapan Hari Raya Galungan di Bali dan musim kelulusan sekolah," ujar Jumadi saat ditemui, belum lama ini.
Berdasarkan kalkulasi terkini, tingkat penurunan serapan untuk pasar lokal di Pulau Jawa saat ini berada di kisaran 60 persen. Angka kelesuan tersebut tercatat jauh lebih baik daripada histori musim Suro tahun lalu yang sempat terpuruk hingga menyentuh angka 80 persen.
Artinya, para petani di Kota Wisata ini mengalami kenaikan volume penyerapan pasar yang cukup signifikan, yakni sebesar 20 persen. Bergeraknya roda ekonomi ini dipicu oleh kalender adat di Pulau Bali yang tidak terikat oleh pakem mitos bulan Suro seperti halnya masyarakat Jawa.
Menjelang perayaan Hari Raya Galungan, warga di Pulau Dewata justru banyak memanfaatkan hari baik untuk menyelenggarakan ritual keagamaan besar serta pesta perkawinan. Faktor kebudayaan inilah yang membuat jalur ekspedisi pengiriman bunga dari Kota Batu menuju Bali tetap berjalan intensif hampir setiap hari.
Selain Bali, wilayah luar pulau lain yang menjadi jujukan utama pengiriman komoditas mawar dan krisan asal Kota Batu adalah Kota Medan.
Baca Juga : Soroti Politik Uang dan Hoaks, Lilik DPRD Jatim Serukan Penguatan Literasi Politik
Pria asli Desa Bulukerto tersebut membeberkan bahwa untuk pengiriman luar pulau, bunga akan dikemas ke dalam boks berkapasitas besar yang memuat sekitar 500 tangkai per dus.
Isi di dalam kemasan tersebut merupakan produk campuran, mulai dari tanaman krisan, dedaunan hias penunjang dekorasi, hingga bunga mawar dari berbagai macam tingkatan kualitas.
Sementara untuk sisa serapan di pasar domestik Jawa yang sedang minim hajatan nikah, sisa produksi dialihkan untuk menyuplai sektor seremonial keagamaan. Maraknya agenda pengajian umum, santunan anak yatim, hingga kebutuhan buket untuk prosesi wisuda sekolah dinilai sangat efektif dalam menyerap hasil petik petani.
Kondisi pasar yang relatif aman ini juga membuat nilai jual bunga di tingkat petani di Kota Batu tidak sampai anjlok. "Harganya juga masih stabil di angka Rp 2 ribu per tangkai," pungkas Jumadi.
