JATIMTIMES – Ancaman penyakit kanker payudara masih menjadi momok kesehatan yang serius bagi kaum hawa di wilayah Kota Batu. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu melaporkan adanya dinamika fluktuasi angka temuan kasus yang cukup menyita perhatian dalam kurun waktu dua tahun terakhir.
Berdasarkan data medis terbaru Juni tahun ini, tercatat sedikitnya ada 73 pasien di Kota Batu yang saat ini dinyatakan positif mengidap kanker payudara.
Baca Juga : Terapkan Sistem Zero Landfill, Capaian Reduksi Sampah Kota Batu Tembus 64,5 Persen
Jika dikomparasikan, grafik angka tersebut sejatinya mengalami sedikit penurunan apabila dibandingkan dengan akumulasi kasus pada periode tahun lalu. Pada tahun 2025 kemarin, jumlah warga yang harus menjalani perawatan intensif akibat komplikasi tumor ganas ini menyentuh angka 75 pasien, di mana dua orang di antaranya dilaporkan meninggal dunia.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Batu, dr. Icang Sarrazin, mengungkapkan bahwa tingginya temuan kasus baru ini rata-rata dilatarbelakangi oleh masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengenali gejala awal. Kondisi tersebut diperparah karena pada fase awal kemunculan sel kanker umumnya sama sekali tidak menimbulkan sensasi rasa sakit atau nyeri pada tubuh.
"Gejala yang paling umum munculnya benjolan pada payudara atau ketiak. Biasanya benjolan ini terasa keras, permukaannya tidak rata, dan tidak nyeri," terang Icang.
Selain benjolan asing, dr. Icang menyebut perubahan fisik secara anatomis pada area puting juga patut dicurigai secara berkala. Beberapa indikator klinisnya meliputi posisi puting yang tampak tertarik masuk ke dalam, hingga keluarnya cairan abnormal berwarna merah darah atau kuning kehijauan yang keluar secara spontan tanpa adanya stimulasi pencetan.
Apabila penyakit kronis ini terlanjur memasuki fase stadium lanjut, manifestasi klinis yang dirasakan oleh tubuh pasien dipastikan bakal jauh lebih berat. Benjolan pada jaringan tubuh akan kian membesar secara masif disertai rasa nyeri yang menusuk.
Kondisi tersebut biasanya memicu komplikasi sekunder berupa pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak, luka terbuka pada payudara yang sulit mengering, penurunan berat badan secara drastis, kelelahan kronis, hingga rasa linu pada tulang atau sesak napas. Secara etiologi medis, mutasi genetik disinyalir menjadi pemantik utama pertumbuhan sel-sel yang tidak terkendali tersebut.
Baca Juga : Banyaknya Persoalan Menu MBG dan SPPG di Lamongan, Satgas Dianggap Kurang Tegas
Menariknya, Icang membeberkan fakta bahwa penyakit ini sejatinya tidak hanya memapar kaum perempuan semata. Kendati persentasenya sangat kecil secara epidemiologi. "Kasus kanker payudara dilaporkan juga berpotensi menyerang kelompok pria," katanya.
Mengingat sifat penyakitnya yang tidak menular, pihak Dinkes menegaskan bahwa instrumen utama dalam menekan angka fatalitas adalah faktor kecepatan penanganan medis.
"Untuk mempercepat temuan kasus di akar rumput, gerakan advokasi massal seperti metode Sadari (Periksa Payudara Sendiri) dan Sadanis (Periksa Payudara Klinis) kini terus digenjot demi mendongkrak angka kesembuhan pasien," imbuhnya.
