Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Analis SAR Respons Soal Usulan Menteri PPA yang Pindah Gerbong Wanita di Tengah

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : A Yahya

28 - Apr - 2026, 19:46

Placeholder
Potret gerbong KRL khusus wanita. (Foto: Espos)

JATIMTIMES - Usulan pemindahan gerbong khusus wanita ke bagian tengah rangkaian kereta mendapat tanggapan dari analis Search and Rescue (SAR) Badan SAR Nasional, Joshua Banjarnahor. Ia menilai, langkah tersebut belum menyentuh akar persoalan keselamatan dalam transportasi perkeretaapian.

Respons itu disampaikan Joshua melalui akun Instagram pribadinya, tak lama setelah ia terlibat langsung dalam proses evakuasi korban kecelakaan kereta di Bekasi Timur.

Baca Juga : Harga Plastik Melonjak, Pemerintah Nolkan Bea Masuk Bahan Baku Selama 6 Bulan Mulai Mei 2026

Menurutnya, alih-alih mengubah posisi gerbong berdasarkan gender, upaya peningkatan keselamatan seharusnya difokuskan pada sistem yang lebih mendasar. “Daripada sekadar menggeser posisi gerbong secara gender lebih baik perbaiki sistem keselamatan penumpangnya dengan cara” tulis Joshua.

Ia kemudian merinci sejumlah langkah yang dinilai lebih krusial, mulai dari penerapan teknologi hingga penguatan infrastruktur. “1. Implementasi teknologi anti tabrakan. Solusi paling fundamental bukan meminimalkan dampak tabrakan, tapi mencegah tabrakan itu terjadi,” jelasnya.

Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya peningkatan standar kekuatan rangkaian kereta. “2. Penguatan struktur rangkaian (Crashworthiness). Standar keamanan sarana harus ditingkatkan agar semua gerbong memiliki ketahanan yang sama,” lanjutnya.

Tak hanya dari sisi sarana, Joshua menilai faktor jalur dan manajemen operasional juga tak kalah penting. “3. Audit dan sterilisasi jalur
Banyak kecelakaan terjadi karena faktor eksternal atau gangguan pada infrastruktur,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan potensi risiko baru jika gerbong wanita ditempatkan di tengah rangkaian, khususnya terkait kepadatan penumpang. “4. Manajemen kepadatan di peron. Jika gerbong wanita dipindah ke tengah, penumpukan penumpang di titik tengah peron akan sangat berbahaya,” tulisnya.

Joshua menilai bahwa secara teknis, posisi tengah memang relatif lebih stabil dalam beberapa jenis kecelakaan. Namun, ada konsekuensi lain yang perlu dipertimbangkan.

Ia menyebut, pemindahan gerbong wanita ke tengah dapat mengganggu alur perpindahan penumpang di dalam kereta, terutama bagi penumpang pria yang ingin berpindah gerbong.

Selain itu, potensi kepadatan di peron bagian tengah juga dinilai berisiko meningkatkan kerawanan, termasuk kemungkinan terjadinya pelecehan karena bercampurnya arus penumpang saat naik dan turun.

Joshua menjelaskan bahwa perubahan posisi gerbong hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan persoalan utama. “5. Memindahkan posisi gerbong adalah solusi kosmetik yang tidak menyelesaikan akar masalah.” tulisnya. 

Ia menekankan bahwa keselamatan penumpang merupakan hak dasar yang harus dijamin secara menyeluruh. “Keselamatan adalah hak dasar penumpang. Solusi terbaik adalah modernisasi sistem persinyalan dan pengadaan sarana yang tahan benturan, sehingga dimana pun penumpang duduk (depan, tengah atau belakang) mereka tetap terlindungi secara maksimal.” tandasnya. 

Baca Juga : Klasemen BRI Super League Usai Derby Jatim: Persebaya Melejit ke 4 Besar, Arema FC Tertahan

Dalam unggahannya, Joshua juga menyampaikan bahwa analisis tersebut lahir dari pengalaman langsung di lapangan saat proses evakuasi berlangsung.

“Disclaimer: Analisis di atas merupakan hasil pemikiran sesaat pasca-evakuasi langsung di titik kejadian. Ketika tangan masih merasakan genggaman tangan korban dan mata menyaksikan langsung dampak benturan. Perspektif kita akan bergeser, dari sekadar kenyamanan menjadi urgensi keselamatan yang absolut,” tulisnya.

Sebelumnya, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengusulkan agar gerbong khusus wanita dipindahkan ke bagian tengah rangkaian KRL.

Usulan tersebut muncul setelah kecelakaan kereta di Bekasi Timur yang menyebabkan seluruh korban berasal dari gerbong wanita. “Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah,” ujar Arifah. 

Ia menjelaskan, selama ini gerbong wanita ditempatkan di bagian depan atau belakang untuk menghindari penumpukan. Namun ke depan, ia mengusulkan perubahan skema penempatan. “Jadi yang laki-laki di ujung, depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah,” katanya.

Diketahui, kecelakaan terjadi ketika KA Argo Bromo menabrak bagian belakang KRL yang tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur.

Kepala Basarnas, M Syafii, mengungkapkan bahwa seluruh korban yang berhasil dievakuasi merupakan perempuan. "100% yang kita evakuasi perempuan," ujarnya.


Topik

Peristiwa basarnas gerbong perempuan joshua banjarnahor



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tulungagung Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

A Yahya

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa