Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Kesehatan

Angka Prevalensi Stunting Kota Batu Stagnan 10 Persen, Dinkes Kejar Target Putus Rantai Kasus Baru

Penulis : Prasetyo Lanang - Editor : Nurlayla Ratri

24 - Apr - 2026, 15:04

Placeholder
Ilustrasi. Pemeriksaan kesehatan ibu dan anak saat Posyandu ILP.(Foto: Prasetyo Lanang/JatimTIMES)

JATIMTIMES – Angka prevalensi stunting terus berupaya ditekan Pemerintah Kota (Pemkot) Batu hingga penurunan minimal satu digit. Namun, target ini terganjal fenomena "Lulus 10 Masuk 10", di mana jumlah balita yang sembuh sebanding dengan munculnya kasus balita stunting baru.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu, Aditya Prasaja, mengungkapkan bahwa siklus ini membuat angka prevalensi stunting di Kota Batu masih terjadi fluktuasi hingga cenderung stagnan. Saat ini, angka tersebut masih berfluktuasi di kisaran 10 persen meski berbagai program intervensi telah dijalankan.

Baca Juga : Syekh Ahmad Al Misry Ditetapkan Tersangka, Ini Sejumlah TKP Dugaan Pelecehan Seksual

Menurut Aditya, penurunan angka tidak akan signifikan jika perhatian hanya tertuju pada balita yang sudah stunting. Idealnya, jika 10 balita dinyatakan lulus, balita baru yang masuk kategori stunting tidak boleh lebih dari tiga anak.

"Masih terjadi fenomena lulus 10 masuk 10, yang kita upayakan agar memutus siklus ini dengan memperketat pengawasan pada fase perlambatan pertumbuhan (growth faltering)," ujar Aditya saat ditemui JatimTIMES, belum lama ini.

Dikatakannya, Dinkes menginstruksikan kader posyandu untuk lebih jeli memantau grafik kenaikan berat badan balita, bukan sekadar melihat angka timbangan.

Seringkali, orang tua merasa aman hanya karena berat badan anak naik, meski kenaikannya tidak mencapai target minimal. Jika kenaikan berat badan terus-menerus di bawah standar kelompok umur, hal itu menjadi "lampu kuning" menuju stunting.

Selain nutrisi, faktor medis seperti penyakit berulang turut menjadi biang kerok. Cuaca ekstrem yang memicu batuk dan pilek membuat energi balita habis terserap untuk imun tubuh, sehingga proses tumbuh kembang anak menjadi terhambat.

"Maka, kepekaan orang tua harus lebih perhatian terhadap pemicu sakit pada anak, termasuk pola jajan yang tidak sehat. Penyakit yang datang berulang membuat berat badan balita sulit naik meski asupan makan sudah ditingkatkan," katanya.

Baca Juga : Kasus Bayi Terbuang di Malang, Semeru Institute Soroti Respons Aparat dan Masalah Sosial

Melalui Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP), Dinkes kini berupaya "mencegat" setiap potensi stunting sejak dini. Skrining ketat dilakukan mulai dari tingkat desa untuk memastikan balita risiko tinggi segera mendapatkan penanganan medis.

Bantuan nutrisi seperti susu subsidi juga mulai diperketat penyalurannya agar lebih tepat sasaran bagi keluarga tidak mampu. Dengan strategi ini, Pemkot Batu optimistis prevalensi stunting bisa segera menyentuh angka 9 persen.

"Tetap diupayakan turun satu digit (persentase)," sebutnya.

Diharapkan, kata Adit, kesadaran kolektif orang tua dan ketajaman deteksi dini mampu mengakhiri fenomena siklus kasus stunting baru yang sebanding dengan jumlah balita lulus. Targetnya, memastikan generasi masa depan Kota Batu tumbuh lebih sehat dan terbebas dari jerat stunting.


Topik

Kesehatan kota batu prevalensi stunting



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tulungagung Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Prasetyo Lanang

Editor

Nurlayla Ratri

Kesehatan

Artikel terkait di Kesehatan