Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Serba Serbi

Kuto Bedah di Malang Ternyata Bekas Pusat Pemerintahan Tumapel yang Ditaklukkan VOC

Penulis : Hendra Saputra - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

24 - Mar - 2026, 10:04

Placeholder
Peta kawasan Kuto Bedah atau Kutaradja (foto: istimewa)

JATIMTIMES - Kawasan Kuto Bedah di Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang saat ini lebih dikenal sebagai area permukiman hingga pemakaman umum. Namun di balik wajahnya yang sederhana, wilayah tersebut menyimpan jejak sejarah panjang yang berkaitan dengan awal berdirinya Kerajaan Tumapel atau yang kemudian dikenal sebagai Singosari.

Pemerhati sejarah Kota Malang Agung Buana menjelaskan bahwa kawasan tersebut diyakini pernah menjadi ibu kota pertama Tumapel ketika wilayah itu masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Kediri. Menurut Agung, sebelum menjadi kerajaan besar, Tumapel pada awalnya hanya berstatus akuwu atau wilayah setingkat pemerintahan kecil yang dipimpin oleh seorang penguasa lokal.

Baca Juga : Dari Malang Fashion Runway hingga Japan Festival, Ini Daftar Event Matos Malang 2026

“Ketika Tumapel masih setingkat akuwu yang dipimpin Tunggul Ametung, wilayah Malang ini masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Kediri,” ujar Agung.

Perubahan besar terjadi setelah Ken Arok berhasil mengalahkan Kerajaan Kediri dalam pertempuran di Ganter atau Ngantang pada tahun 1222. Kemenangan tersebut membuat Tumapel naik status menjadi sebuah kerajaan yang membutuhkan pusat pemerintahan.

Agung menjelaskan bahwa wilayah yang dipilih sebagai pusat pemerintahan pertama berada di kawasan yang kini dikenal sebagai Kuto Bedah. Namun pada masa itu kawasan tersebut memiliki nama yang berbeda, yakni Kutaradja.

“Ibu kota yang dipilih waktu itu berada di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Kuto Bedah. Dulu namanya bukan Kuto Bedah, tetapi Kutaradja. Kutaradja menjadi Kuto Bedah itu jaraknya hampir 500 tahun,” jelasnya.

Pemilihan kawasan tersebut sebagai pusat pemerintahan dinilai bukan tanpa alasan. Secara geografis, wilayah itu memiliki posisi strategis karena berada di antara dua sungai besar yang dapat berfungsi sebagai benteng alami.

“Wilayah itu diapit Sungai Brantas di sisi barat dan Sungai Amprong di sisi timur. Secara militer itu sangat strategis karena memiliki benteng alam dan berada di dataran yang lebih tinggi,” katanya.

Pada masa itu, jalur menuju kawasan tersebut juga berbeda dengan kondisi saat ini. Akses dari wilayah Singosari menuju pusat pemerintahan harus melalui jalur yang lebih memutar mengikuti rute lama melalui Wendit, Pakis hingga Tumpang sebelum mencapai Kutaradja.

“Kalau sekarang terasa jauh, tapi dulu jalurnya memang melalui Singosari, Wendit, Pakis, Tumpang baru ke wilayah Kutaraja. Itu jalur purba karena belum ada jembatan di Sungai Brantas,” ungkapnya.

Seiring perkembangan Kerajaan Singosari, pusat pemerintahan kemudian dipindahkan dari Kutaradja ke kawasan Singosari. Wilayah tersebut pun perlahan berubah menjadi kawasan permukiman biasa.

Meski demikian, sejarah kawasan tersebut kembali tercatat pada abad ke-18 ketika wilayah itu menjadi basis pertahanan Pangeran Malaya Kusuma. Ia merupakan cucu dari Untung Surapati yang mempertahankan wilayah Malang dari serangan VOC.

Baca Juga : Hotel Trio Indah 2 Malang, Hotel Bersejarah di Jantung Kota yang Menyimpan Jejak Kolonial dan Energi Kota

Pertempuran besar terjadi pada 29 Desember 1776 ketika pasukan VOC berhasil menaklukkan kawasan tersebut. Sejak peristiwa itu, nama Kutaradja kemudian berubah menjadi Kuto Bedah.

“Ketika Malang jatuh ke tangan VOC pada 29 Desember 1776, Kutaradja yang sebelumnya menjadi pusat pemerintahan akhirnya disebut sebagai Kuto Bedah, yang artinya kota yang berhasil ‘dibedah’ atau ditaklukkan,” jelas Agung.

Pada masa itu, wilayah Kuto Bedah memiliki cakupan yang cukup luas. Kawasan tersebut diperkirakan membentang di antara Sungai Brantas dan Sungai Amprong serta meliputi sejumlah wilayah yang kini menjadi bagian dari Kota Malang.

“Wilayahnya dulu berada di antara Sungai Brantas dan Sungai Amprong, meliputi daerah Muharto, Jodipan, Kebalen, Mergosono hingga Polehan, dan ke arah timur,” terangnya.

Bahkan wilayah tersebut diperkirakan menjangkau kawasan di sisi timur yang dikenal dengan nama wilayah belakang puro, seperti Lesanpuro, Madyopuro hingga Sekarpuro.

Saat ini nama Kuto Bedah lebih dikenal masyarakat sebagai kawasan pemakaman umum. Namun di lokasi tersebut beberapa kali ditemukan temuan arkeologis yang diduga berkaitan dengan bangunan kuno pada masa lampau.

“Ketika ada penggalian makam, beberapa kali ditemukan reruntuhan bangunan yang diduga bagian dari candi atau struktur pertahanan,” pungkasnya.


Topik

Serba Serbi Sejarah Kota Malang Kuto Bedah Kota Malang Pemerintahan Tumapel VOC



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tulungagung Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Hendra Saputra

Editor

Sri Kurnia Mahiruni

Serba Serbi

Artikel terkait di Serba Serbi