Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

5 Hal yang Bisa Membuat Puasa Sia-Sia Menurut Buya Yahya, Nomor 3 Paling Sering Terjadi

Penulis : Mutmainah J - Editor : Yunan Helmy

23 - Feb - 2026, 11:49

Placeholder
Ilustrasi tontonan tidak senonoh dapat menyia-nyiakan puasa. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Ramadan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Masjid lebih ramai, tilawah semakin sering terdengar, sedekah meningkat, dan media sosial dipenuhi kutipan religi.

Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan penting yakni apakah puasa kita benar-benar bernilai di sisi Allah?

Baca Juga : Tetap Bertenaga di Bulan Suci, Meneladani Strategi Kebugaran Rasulullah Saat Berpuasa

 

Mengenai hal ini, Buya Yahya pernah membahasnya di salah satu kajiannya di channel YouTube resminya saat membahas Kitab Romadhoniat. Dalam momen tersebut, Buya Yahya mengingatkan bahwa ada orang-orang yang berpuasa, tetapi ibadahnya terancam sia-sia karena perilaku yang tidak dijaga.

Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus dari terbit fajar hingga magrib. Puasa adalah latihan mengendalikan diri secara total lisan, mata, hati, hingga hawa nafsu. Berikut lima tanda puasa yang perlu diwaspadai.

1. Masih Berbohong meski Sedang Berpuasa

Apa arti puasa jika lisan tetap ringan berdusta? Berbohong, menjadi saksi palsu, atau memutarbalikkan fakta demi kepentingan pribadi adalah tanda bahwa puasa belum menyentuh hati. Puasa seharusnya melatih kejujuran dan rasa takut kepada Allah.

Menahan makan itu mudah. Menahan lisan dari dusta, itu yang berat. Jika kebohongan masih jadi kebiasaan, maka puasa hanya berhenti di perut, belum sampai ke akhlak.

2. Ghibah Tetap Jalan, Pahala Perlahan Hilang

Ramadan sering diisi dengan kajian dan ibadah. Namun ironisnya, obrolan tentang keburukan orang lain tetap berlangsung.

Ghibah kerap dianggap sekadar “cerita biasa”, padahal dampaknya besar. Tanpa disadari, pahala yang dikumpulkan sejak Subuh bisa habis karena satu percakapan yang membahas aib orang lain.

Puasa sejatinya mendidik kita untuk diam dari yang tidak perlu dan berbicara hanya dalam kebaikan.

3. Hobi Share Konten yang Memicu Permusuhan

Inilah fenomena yang paling sering terjadi di era digital. Banyak orang merasa tidak mengadu domba secara langsung. Namun cukup dengan membagikan video provokatif, potongan ceramah yang dipelintir, atau perdebatan panas, konflik pun meluas.

Buya Yahya mengingatkan bahwa hal-hal yang dibagikan di media sosial terkadang dapat membuat orang menjadi bermusuhan.

“Share sesuatu menjadikan orang bermusuhan. Hari ini ribut orang. Bahasannya (kadang-kadang) urusan agama. Dinaikkan, diangkat, ramai hebat debat ustaz dengan ustaz. Seram. Masya Allah. Semuanya pengikut lihat komentar-komentarnya menghabiskan pahala puasa, caci maki semuanya," ujarnya.

Kolom komentar berubah jadi medan perang. Caci maki, hinaan, dan emosi berseliweran. Tanpa sadar, pahala puasa terkuras hanya karena satu tombol “bagikan”.

Jika Ramadan masih diwarnai konflik yang kita picu sendiri, maka ada yang salah dengan cara kita berpuasa.

4. Tidak Menjaga Pandangan di Dunia Nyata dan Maya

Menundukkan pandangan adalah bagian penting dari kesempurnaan puasa. Namun justru di bulan Ramadan, godaan digital semakin dekat di genggaman.

Buya Yahya pun menjelaskan, di media sosial perlu lebih berhati-hati karena bisa terjebak dalam godaan yang tidak disadari.

Baca Juga : Rezeki Meledak di Awal Pekan! 4 Zodiak Ini Paling Beruntung 23 Februari 2026, Uang dan Karier Melesat!

 

“Ternyata di alam maya lebih dahsyat lagi urusan aurat. Di alam nyata mungkin ada perempuan yang tersingkap auratnya lalu kita ingin melihatnya terhenti di saat dia sudah mulai sadar kita lihat. Tapi di alam maya kalau tidak sadar tidak akan berhenti, dan ini kadang terjadi di bulan Ramadan,” katanya.

Di dunia maya, rasa malu sering menghilang karena merasa tak ada yang melihat. Padahal, menjaga pandangan bukan soal manusia, tetapi soal ketaatan kepada Allah.

Jika mata masih bebas menikmati yang dilarang, maka puasa belum benar-benar menjaga diri.

5. Hanya Memindahkan Waktu Makan, Tanpa Menahan Syahwat

Puasa bukan sekadar menggeser waktu makan dari siang ke malam. Ia adalah latihan menundukkan hawa nafsu.

Namun ada yang tetap asyik dengan tontonan tidak pantas, tetap mengikuti dorongan syahwat, dan tidak berusaha memperbaiki diri.

Buya Yahya menegaskan seseorang yang masih tidak memahami waktu seperti bulan Ramadan yang harusnya penuh dengan ibadah maka ia akan tetap sia-sia dan tidak akan mendapatkan apa-apa.

“Karena dia tidak paham makna ini, maka di Ramadan pun ternyata dia masih asyik dengan tontonan-tontonan yang tidak pantas," tegasnya.

Jika tidak ada perubahan perilaku, maka puasa hanya menjadi rutinitas tahunan tanpa makna mendalam.

Puasa yang diterima bukan hanya yang membuat tubuh lapar, tetapi yang membuat hati lebih bersih dan akhlak lebih terjaga.

Menahan diri dari makan dan minum hanyalah dasar. Yang lebih utama adalah menahan amarah, menahan lisan, menahan pandangan, dan menahan ego.

Ramadan adalah kesempatan yang belum tentu datang kembali tahun depan. Jangan sampai kita termasuk orang yang berpuasa, tetapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Saatnya menjadikan Ramadan bukan sekadar tradisi, melainkan transformasi.


Topik

Agama



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tulungagung Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

Yunan Helmy