JATIMTIMES - Puasa kerap dipahami sebagai momen untuk memperlambat aktivitas. Padahal, Ramadan justru bisa menjadi ruang untuk melatih disiplin, termasuk dalam menjaga kebugaran. Dalam sejarah Islam, teladan hidup seimbang antara ibadah dan kesehatan tampak jelas pada diri Rasulullah. Beliau tidak menjadikan lapar dan dahaga sebagai alasan untuk bermalas-malasan, tetapi tetap bergerak aktif dengan penuh kesadaran.
Banyak riwayat menggambarkan bagaimana Rasulullah menjalani hari-harinya dengan fisik yang prima. Ia terbiasa berjalan kaki dalam berbagai kesempatan, baik untuk berdakwah maupun memenuhi kebutuhan sehari-hari. Langkahnya digambarkan cepat dan mantap, seakan menuruni jalan yang landai. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa aktivitas sederhana seperti berjalan kaki merupakan bentuk latihan fisik yang efektif, termasuk saat menjalankan puasa.
Baca Juga : Saiful Hidayat Nakhodai BPJS Ketenagakerjaan, Usung Strategi 3C untuk Perluasan dan Penguatan Layanan
Prinsip tentang pentingnya kekuatan tubuh juga ditegaskan dalam sabdanya, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya terdapat kebaikan...” (HR. Muslim, no. 2664).
Aktivitas fisik di masa Rasulullah memang belum dikenal dengan istilah olahraga modern. Namun berbagai kegiatan yang beliau anjurkan memiliki nilai kebugaran yang tinggi. Beliau mendorong umatnya untuk belajar berkuda, berenang, dan memanah. Dalam sebuah hadis disebutkan, “Ajarilah anak-anak kalian berkuda, berenang, dan memanah.” (HR. Al-Baihaqi).
Esensi dari anjuran tersebut adalah melatih ketahanan, ketangkasan, dan konsentrasi. Di masa kini, semangat itu bisa diterjemahkan dalam bentuk bersepeda, berenang, latihan kekuatan, atau olahraga yang melatih koordinasi tubuh.
Kekuatan fisik Rasulullah juga tergambar saat beliau bergulat dengan Rukanah, seorang pegulat tangguh dari Makkah. Dalam beberapa kesempatan, Rasulullah mampu mengalahkannya. Kisah ini memperlihatkan bahwa beliau memiliki daya tahan dan kekuatan otot yang terlatih. Namun yang menarik, semua itu dilakukan tanpa berlebihan dan tetap dalam kendali.
Puasa tidak membuat beliau menghentikan aktivitas. Para sahabat pun tetap menjalankan tugas berat, bahkan dalam kondisi berpuasa seperti saat Perang Badar. Ini menjadi bukti bahwa tubuh yang terlatih mampu beradaptasi dengan keterbatasan asupan selama siang hari.
Soal waktu, olahraga saat Ramadan dapat disesuaikan dengan kondisi tubuh. Menjelang berbuka menjadi pilihan banyak orang karena setelahnya tubuh segera mendapat asupan nutrisi. Ada pula yang memilih malam hari setelah salat tarawih dengan aktivitas ringan seperti berjalan santai atau peregangan. Jika dilakukan setelah sahur, sebaiknya memilih gerakan ringan agar tidak memicu dehidrasi berlebih.
Baca Juga : Guru Tulungagung yang Digerebek Bersama Karyawan BUMN di Tuban Mundur dari ASN
Islam juga mengajarkan keseimbangan. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, aktivitas fisik hendaknya tidak melampaui batas hingga membahayakan kesehatan. Olahraga di bulan puasa cukup dilakukan secukupnya, dengan intensitas yang terukur.
Selain aktif bergerak, Rasulullah dikenal menjaga pola makan. Beliau tidak makan berlebihan dan memilih makanan yang sederhana namun bergizi. Saat berbuka, beliau memulai dengan kurma dan air sebelum menyantap hidangan utama. Pola ini memberi pelajaran penting bahwa pemulihan energi setelah berolahraga juga harus memperhatikan kualitas asupan.
Konsistensi menjadi kunci. Gaya hidup aktif Rasulullah bukanlah kebiasaan sesaat, melainkan bagian dari rutinitas harian. Ramadan pun tidak mengubah komitmen tersebut. Dari teladan ini, umat Islam dapat memahami bahwa olahraga saat puasa bukan sesuatu yang bertentangan dengan ibadah. Sebaliknya, menjaga kebugaran justru membantu seseorang menjalankan salat, membaca Al-Qur’an, dan berbagai amalan lainnya dengan lebih optimal.
