JATIMTIMES - Penyakit asam urat merupakan penyakit yang disebabkan adanya peningkatan kadar zat purin dalam tubuh akibat konsumsi makanan dan minuman tertentu.
Kondisi ini dapat mengakibatkan penumpukan zat purin dalam tubuh yang akhirnya dapat menyebabkan timbulnya penyakit asam urat.
Baca Juga : 7 Pengobatan untuk Asam Urat Secara Efektif yang Wajib Kamu Coba, Terbukti Berhasil!
Bagi penderita asam urat, perlu memperhatikan makanan apa saja yang dikonsumsi. Hal itu dikarenakan, beberapa makanan tidak boleh dikonsumsi bagi penderita asam urat.
Belakangan ini muncul kepercayaan bahwa memakan kurma bersamaan dengan tempe bisa memicu kenaikan asam urat. Lantas benarkah hal itu?
Penjelasan dr. Zaidul Akbar
Menanggapi hal itu, dr. Zaidul Akbar justru menyebut tempe dan kurma adalah perpaduan yang baik untuk kesehatan tubuh, selama tidak dikonsumsi berlebihan dan tidak keliru dalam pengolahannya.
"Kalau orangnya ada bakat (punya keturunan) asam urat mungkin iya (berisiko), tapi asal makannya tidak berlebih tidak akan jadi masalah," terangnya dalam kanal YouTube dr. Zaidul Akbar Official, dikutip Minggu (29/12/2024).
Ia menjelaskan perpaduan tempe dan kurma adalah perpaduan antara probiotik (bakteri baik) dan prebiotik, sehingga terjadilah simbiotik. Di mana prebiotik adalah makanan dari probiotik sehingga sangat baik untuk pencernaan dan kesehatan tubuh.
Alih-alih mempermasalahkan kurma dan tempe yang menyehatkan jika pengolahannya tepat, pakar kesehatan yang juga dikenal sebagai Dokter Sunnah Rasul itu mengingatkan untuk lebih aware pada makanan yang digoreng, yang justru lebih meningkatkan risiko asam urat.
Baca Juga : 7 Pengobatan untuk Jerawat dengan Bahan Alami yang Terbukti Efektif di Indonesia
"Orang makan gorengan bisa kena asam urat, kenapa karena minyak asam, tepung asam. Jadi makanan yang menyebabkan tingginya asam, tanpa ada seratnya yang cukup menyebabkan asam urat," jelasnya.
Dokter Zaidul menambahkan seseorang berisiko mengalami asam urat jika tubuh kekurangan serat, sehingga kandungan asam di tubuh sangat tinggi.
Maka sudah sewajarnya, mengukur berapa banyak mengonsumsi aneka makan makanan yang digoreng.
"Kita kan suka lupa ngukur, berapa banyak makan gorengan setiap hari, itu yang harus diperhatikan," pungkasnya.
