JATIMTIMES - Pondok Pesantren Darul Hikmah, Tawangsari Kabupaten Tulungagung, mengklarifikasi pihaknya menolak rencana kedatangan Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaff datang ke Tulungagung.
Menurut salah satu pengurus Ponpes Darul Hikmah Tawangsari, Sigit Turseno, pada aksi ribuan orang yang dipimpin oleh Gus Hanin Diyaudin yang menolak kedatangan Habieb Syech pada Jumat (13/12/2024), lalu tidak melibatkan pihaknya.
Menurut Sigit, Gus Hanin bukan bagian dari keluarga besar pondok pesantren apalagi pengasuh.
"Kami mengkonfirmasi dan menegaskan bahwa HANIN DIYAUDIN BUKAN Pengasuh PP Darul Hikmah Tawangsari seperti yg diberitakan oleh Jatimtimes," tulis Sigit dalam klarifikasi yang disampaikan, Minggu (15/12/2024).
Lanjutnya, Pondok Modern Darul Hikmah Tawangsari juga sudah merilis pernyataan sikap terbuka terkait kedatangan habib Syech di Tulungagung.
Pernyataan sikap yang disampaikan ini langsung ditandatangani oleh pimpinan Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah, KH. Irkhamni Khoirul Munzilin yang berisi bahwa pihaknya tidak terlibat dalam demo penolakan kedatangan Habieb Syech yang rencananya pada Senin (16/12) besok.
Selain itu Sigit juga telah mengirimkan video Tiktok dari Gus Hanin yang juga telah memberikan klarifikasinya di https://vt.tiktok.com/ZS6JT4bpX/
Dalam pernyataan di video yang diterima redaksi ini, Gus Hanin menyatakan bahwa ia adalah putra ke 4 dari pendiri Ponpes Modern Darul Hikmah, KH. Abdul Nurul Hadi Ridwan.
"Saya adalah pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Modern Muwaddalah Assalam Tawangsari," tuturnya.
Ia juga mengklarifikasi dan meluruskan jika apa yang disampaikan ke wartawan media massa, tik-tok atau creator youtube lain yang menyebutkan dirinya adalah pendiri atau pengasuh Pondok Pesantren Modern Darul Hikmah, itu tidak benar.
"Saya adalah pendiri pondok pesantren assalam," tegasnya.
Video yang dikirimkan oleh Sigit ini belum dapat dikonfirmasi langsung ke Gus Hanin.
Pemberitaan ini sekaligus mengklarifikasi penulisan sebelumnya yang telah ditayangkan di media ini.
Dalam pemberitaan itu, ribuan peserta yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Tulungagung (AMT) menggelar aksi damai di jalan raya depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Tulungagung, Jumat (13/12/2024) sore.
Aksi damai ini diikuti oleh 53 unsur elemen masyarakat yang dipicu penolakan Habib Syech Abdul Qodir Assegaf yang akan melakukan dakwah di Kabupaten Tulungagung.
Baca Juga : Peringati Hari Disabilitas Internasional, Disability Dance Club Tunjukkan Bakatnya
Sepuluh tuntutan kepada Pemerintah juga dibacakan pada aksi ini, diantaranya,
1. Bersikap tegas terhadap klan Ba'alawi yang secara terang-terangan memalsukan nasab Rosulullah dan membelokkan sejarah bangsa.
2. Menghentikan dan melarang segala aktivitas da'wah ba'alawi yang dinilai merusak Aqidah dan profokative melawan pemerintah.
3. Secara tegas dan tuntas membersihkan situs sejarah palsu (makam, prasasti da bangunan sejarah lainnya.
4. Bertindak preventife dan serius dalam memerangi ancaman FPI dan HTI reborn maupun Gerakan lainnya yang tidak sesuai dengan Pancasila dan UUD 45.
5. Membantu segala bentuk dan upaya perjuangan PWI-LS bersama masyarakat dalam menjaga kemurnian ajaran agama dan kedaulatan bangsa.
6. Melarang imigran yaman untuk berperan aktif dalam organisasi yang berafiliasi dengan pemerintah.
7. Untuk melakukan pembersihan terhadap ASN yang terpapar faham ekstrimis dan berafiliasi dengan Gerakan yang membahayakan NKRI.
8. Menghentikan intervensi asing yang merusak ideologi Pancasila.
9. Mencegah distorsi dan manipulasi sejarah local, nasional maupun international.
10. Mengintegrasikan sejarah local dalam kurikulum Pendidikan dasar, Menengah dan Tinggi.
