Tradisi selamatan atau kenduri takir plonthang di malam satu syuro masih benar-benar mendarah daging di Tulungagung. Masyarakat antusias menggelar selamatan dan doa bersama di jalanan untuk menyambut datangnya bulan Muharam 1441 H atau istilah jawanya suroan.
"Mulai dari sore di dua RT yaitu dusun Kleben saling berbondong-bondong dan gotong royong menyiapkan giat rutin menyambut tahun baru Islam 1 Muharam atau orang jawa menyebut Suroan," kata Supriyanto, tokoh pemuda sekitar, Rabu (19/08 /2020).

Mereka menggelar tikar di pertigaan jalan pertemuan antara dua RT, kemudian nyaris semua warga sambil jalan menuju tempat untuk membawa ambeng (sodakohan).
Baca Juga : Serunya Tina Bule Nikmati Wisata di Kota Serpihan Tanah Surga di Ujung Timur Jawa
"Sesudah berkumpul dengan tanda pemukulan kentongan, setelah iku di doakan oleh pemuka tokoh agama setempat dan dibagi makanannya untuk disantap bersama," tuturnya.
Kegiatan itu juga terjadi nyaris di semua desa, contohnya di dusun Tanjung desa Sambijajar Kecamatan Sumbergempol, tradisi kejawen yang memperingati 1 suro penanggalan Jawa dan 1 Muharam penanggalan Islam.
"Dengan mengadakan kenduri takir plontang diberi janur kuning dan diadakan biasanya di pertigaan jalan atau perempatan ini bermaksud agar unsur kebersamaan bagi lapisan masyarakat semua agama, untuk bersedekah dan saling bersukur atas nikmat yang diberikan sang maha pencipta," kata Imam Ngafifudin, tokoh spiritual Padepokan Asmak Karomah ini.
Bagi Afif, diadakan selamatan di jalan agar komunikasi antar masyarakat baik tua dan muda, wanita bahkan anak-anak terjalin. "Kenapa diadakan dijalan karena untuk masyarakat Jawa yang pluralis biar semua unsur masyarakat bisa ikut berpartisipasi," imbuhnya.
Seperti diketahui, tradisi malam Suro dimaknai sebagai bulan pertama dalam sistem kalender Jawa-Islam. Penyebutan kata suro bagi orang Jawa ialah bulan Muharam dalam kalender Hijriah. Kata tersebut berasal dari kata 'Asyura' dalam bahasa Arab dan dicetuskan oleh pemimpin Kerajaan Mataram Islam, Sultan Agung.
Baca Juga : Sambut Hari Kemerdekaan, Tiket Masuk Dua Pantai di Malang Gratis!
Namun Sultan Agung masih memadupadankan penanggalan Hijriah dengan tarikh Saka. Tujuannya dapat merayakan keagamaan diadakan bersamaan dengan seluruh umat Islam dan menyatukan masyarakat Jawa yang terpecah saat itu antara kaum Abangan (Kejawen) dan Putihan (Islam).
Bagi orang Tulungagung, bulan Suro diartikan sebagai bulan yang menyeramkan, seperti penuh bencana dan bulannya para makhluk gaib. Beberapa orang juga masih mempercayai dengan berbagai macam mitos yang pantang untuk dilanggar, seperti larangan malam 1 Suro untuk keluar rumah.
Untuk itu, berbagai ritual sering ditemukan seperti tapa bisu, tirakatan, kungkum, kirab budaya, dan pencucian pusaka atau dikenal dengan tradisi ngumbah gaman.
