Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Pembalak Beraksi, Pohon Sonokeling Raib Tanpa Jejak

Penulis : Joko Pramono - Editor : A Yahya

18 - Mar - 2020, 02:39

Placeholder
bekas pohon sono keling yang hilang di sekitar Goa Pasir (ist)

Sebatang pohon sonokeling bernilai puluhan juta di sekitar situs sejarah Goa Pasir, di Dusun Pasir, Desa Junjung, Kecamatan Sumbergempol hilang ditebang oleh pembalak liar. Hilangnya pohon ini membuat geram warga sekitar yang berusaha melindungi pohon ini.

Pohon ini hilang pada Selasa (17/3/2020) dini hari. Anehnya warga tak mendengar adanya suara gergaji mesin dalam pencurian kayu itu.

“Pohonnya jelas dipotong dengan gergaji mesin, tapi tidak ada warga yang mendengar suara mesinnya. Padahal jarak ke rumah penduduk hanya sekitar 100 meter,” terang warga setempat bernama Maliki Nusantara.

Maliki melanjutkan, sekitar pukul 22.00 -22.30 hari Senin (16/3/20), warga masih berjaga di sekitar lokasi.

Warga sempat mendengar suara pohon tumbang pada dini hari, namun warga tak menaruh curiga lantaran tak mendengar suara gergaji mesin.

“Tahunya waktu pagi hari ada warga yang akan pergi ke ladang. Sonokeling, salah satu pohon yang kami jaga sudah hilang,” ungkap Maliki, yang juga pegiat LSM Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Mangkubumi Tulungagung.

Dari jejak yang ada, penduduk menemukan garam yang disebar disepanjang jalur hingga menuju jalan utama.

Warga menduga, garam yang disebar itu adalah sirep untuk membuat warga tidur sangat dalam, sehingga tidak tahu apa yang terjadi di sekitarnya.

Ilmu sirep sendiri merupakan salah satu ajian yang popular di era 80-90an. Ilmu ini membuat orang yang disirep tertidur pulas hingga tak mengetahui kejadian di sekitarnya.

“Orang-orang sepuh menduga garam itu sirep, seperti ilmu yang dipakai maling zaman dulu. Agak aneh memang, tapi buktinya tidak ada satu pun yang mendengar para pencuri itu beraksi,” ucap Maliki.

Pohon sonokeling yang dicuri mempunyai diameter sekitar 65 sentimeter, keliling 233 sentimeter dengan panjang antara 15-20 meter.

Harga kayu yang dicuri ini ditaksir mencapai Rp 80 juta hingga Rp 120 juta.

Pohon sonokeling mempunyai nilai ekonomis tinggi, karena warnanya yang hitam pekat. Bahkan peminatnya hingga ke luar negeri, sehingga menjadi komoditi ekspor. Karena harganya yang mahal  ini memicu pencurian pohon di sepi jalan nasional dan provinsi yang ada di Kabupaten Tulungagung dan Trenggalek.

Maliki yakin, pelaku pencurian ini bukan warga sekitar, karena warga selama ini justru berusaha keras melindungi pohon-pohon di area perhutani ini.

Warga sadar, jika pepohonan di lereng dengan kemiringan lebih dari 45 derajat ini hilang, maka permukiman mereka terancam bencana longsor atau banjir lumpur.

Pepohonan di lokasi yang dicuri dulunya juga ditanam oleh warga dengan alasan konservasi.

Bahkan tak jarang warga sering bersitegang dengan petugas Perhutani sebagai pemilik lahan, jika tindakan petugas dianggap membahayakan pohon yang masih sehat.

“Misalnya ada pohon kering kemudian ditebang dan melukai pohon yang masih sehat, warga pasti marah dengan Perhutani, bisa geger. Karena itu saya yakin bukan warga kami pelakunya,” tegas Maliki.

Belum ada konfirmasi dari pihak Perhutani terkait pencurian pohon sonokeling ini.


Topik

Peristiwa tulungagung berita-tulungagung Pembalak-Pohon Pohon-Sonokeling-Raib-Tanpa-Jejak Pusat-Pendidikan-Lingkungan-Hidup Dusun-Pasir-Desa-Junjung-Kecamatan-Sumbergempol



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tulungagung Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Joko Pramono

Editor

A Yahya

Peristiwa

Artikel terkait di Peristiwa