Nilai sejarah yang di yakini dalam suatu desa merupakan kekayaan yang patut di jaga.
Desa Gondosuli Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung salah satu desa yang konon merupakan sebuah desa yang punya peradaban lebih awal sebelum masa Mojopahit
"Jadi versi sejarah yang nilai historinya mendekati logika pikir kita adalah masa sebelum Majapahit atau disebutkan di masa Kahuripan," kata Kepala Desa Gondosuli Sumiran Galung.
Kepala Desa yang kini berusia 43 tahun itu menuturkan, kisah Gondosuli dari sejarah turun temurun merupakan kisah adanya dua orang yang kembar bernama Gondosula dan Gondosuli.
"Dua orang ini yang menjadi sejarah turun temurun, sejarah ini juga pernah ditemukan jejaknya di beberapa tahun silam. Ada temuan piring dan koin kuno bahkan rumah yang kini sudah diteliti oleh pihak berwenang, di bawa ke Jogja jika tak salah," paparnya.
Adanya kisah nama Gondosuli berawal ketika Syeh Sunan Kuning sedang melakukan perjalanan syiar Agama Islam yang secara kebetulan melewati suatu daerah atau tempat yang beraroma sangat menyengat seperti bau bangkai anjing.
Lantas Syeh Sunan Kuning menyuruh beberapa santrinya untuk mencari sumber bau dan ternyata bau tersebut berasal dari sebuah bunga raksasa yang kini dikenal sebagai Bunga Bangkai (Rafflesia Arnoldi), Sumiran tidak sependapat .
"Jauh sebelum massa itu, Gondosuli sudah ada. Pohon kelapa dan pohon Sawo yang menjadi jejak adanya perkampungan menjadi bukti jika Gondosuli merupakan desa yang sebelum itu telah ada," paparnya.
Bahkan, Sumiran menegaskan jika Gondosuli bukan desa yang tenggelam dan menjadi rawa sebelum proyek Neyama tembus ke laut selatan.
Desa Gondosuli tergenang dan menjadi rawa terjadi pada tahun 1960 an karena air dari arah utara menuju ke selatan dan terhenti ditempat yang lebih rendah.
"Utara itu kan kawasan kota, saat air melimpah (banjir), aliran air ke arah utara di tanggul lalu air menggenang di Gondosuli sehingga ikut menjadi daerah rawa," pungkasnya.
Kini Desa Gondosuli menjadi ikon penghasil ikan air tawar terbesar se Indonesia, mulai ikan patin, gurami dan lele menjadi budidaya sukses warganya.
Desa ini juga sebagai juara Nasional lomba Minapolitan tahun 2016 sekaligus pemecah Rekor muri penyanjian pecel lele terpanjang dan terbanyak sepanjang 2 kilometer.
Bahkan Minapolitan ini menjadi pusat edukasi, bagi para pengusaha ikan berkembang ke holtikultura dan kesenian seperti seni karawitan.
