Disaat semua orang berburu memilih peradaban serba modern. Mendekatkan kehidupan ke dalam peradaban yang serba canggih sebagai sarana kehidupan yang harus dipenuhi.
Hal ini tidak berlaku untuk warga Desa Bangak Tumpak Celeng Campurdarat Tulungagung. Sepuluh kepala keluarga (KK) bermukim dipuncak Gunung Tumpak Celeng.
Tempat tinggal mereka ini sebenarnya tidak terlalu jauh dari peradaban masyarakat kota. Kehidupan turun temurun yang telah dijalani para sesepuh di sana membuat mereka enggan meninggalkan bukit tersebut.
Meskipun fasilitas yang mereka milikipun tidak sebanding dengan lokasi yang ditempati. Untuk sampai kesini saja kita harus naik melewati jalan terjal berbatu perbukitan Tumpak Celeng.
Jalanan menuju ke lokasi pun terbilang masih sulit, apalagi jika musim penghujan tiba tidak bisa dibayangkan sulitnya medan.
Selain itu banyak sebenarnya masih banyak fasilitas umum yang belum dimiliki. Misalnya tempat peribadahan yang baru mereka bangun tahun ini, itupun berkat sumbangan dari warga desa bawah. Sebelumnya untuk keperluan ibadah mereka harus turun gunung dulu.
Listrikpun belum bisa dinikmati sepuluh KK ini sehingga mereka harus meminta sambungan listrik dari rumah yang berada paling bawah. Satu aliran listrik digunakan untuk menerangi sepuluh rumah yang berada di bukit Tumpak Celeng itu.
Sedang untuk membayar tagihan listriknya mereka harus iuran, itupun kabel listriknya mereka beli sendiri. Selain itu sampai sekarang sepuluh KK ini tidak memiliki bangunan sekolah. Sehingga sebagian dari seluruh masyarakat disana amat sedikit yang bisa menikmati bangku sekolah.
Hasil survei menunjukkan seorang anak masih akan masuk Taman Kanak-Kanak (TK), seorang lagi masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), dan dua anak lainnya duduk bangku Sekolah Dasar (SD).
Karena fasilitas pendidikan memang tidak ada maka, anak-anak Desa Bangak ini harus turun gunung untuk menuju sekolah mereka. Akses jalan yang begitu terjal mereka lewati setiap harinya
