Ketika Kasih Sayang Lebih Tajam dari Celaan: Kisah Pengemis Buta di Madinah
Reporter
Anggara Sudiongko
Editor
A Yahya
09 - Jan - 2026, 10:35
JATIMTIMES - Di sudut gerbang Kota Madinah, seorang pengemis tua yang kehilangan penglihatan menghabiskan hari-harinya dengan kata-kata kasar. Setiap orang yang singgah mendekat selalu ia peringatkan agar menjauhi Muhammad. Ia menuduh, mencaci, dan menebar fitnah tanpa henti. Lidahnya tajam, prasangkanya gelap. Ia tak pernah tahu bahwa sosok yang paling sering ia hina justru menjadi orang yang paling setia menemuinya.
Rasulullah Muhammad SAW hampir setiap pagi datang ke tempat itu. Bukan untuk membela diri, apalagi meluruskan tuduhan. Beliau hadir dengan sebungkus makanan dan hati yang lapang. Tanpa banyak bicara, Rasulullah duduk di samping pengemis Yahudi buta tersebut, meminta izin, lalu menyuapinya dengan penuh kelembutan. Makanan itu bahkan lebih dulu dihaluskan agar mudah ditelan. Tidak ada debat. Tidak ada amarah. Hanya akhlak yang bekerja dalam senyap.
Baca Juga : Melihat Jawa dari Kereta Api: Dari Weltevreden ke Surabaya Lama
Apa yang dilakukan Rasulullah itu sejalan dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Dan tidaklah engkau (Muhammad) diutus melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya: 107)
Rahmat itu tak memilih latar belakang, keyakinan, atau sikap. Ia hadir bahkan kepada mereka yang memusuhi. Hari-hari berlalu, hingga Madinah diguncang kabar duka. Rasulullah SAW wafat. Kesedihan menyelimuti umat Islam. Tongkat kepemimpinan pun beralih kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Sebagai khalifah, ia bertekad melanjutkan jejak Rasulullah, termasuk kebiasaan-kebiasaan kecil yang lahir dari kasih sayang, bukan sekadar ritual formal.
Dalam sebuah percakapan dengan Aisyah, Abu Bakar bertanya apakah masih ada sunnah Rasulullah yang belum ia tunaikan. Aisyah menyebut satu amalan yang kerap luput dari perhatian banyak orang: Rasulullah biasa pergi ke ujung pasar setiap pagi untuk memberi makan seorang pengemis Yahudi buta.
Keesokan harinya, Abu Bakar membawa makanan dan menuju tempat itu. Ia mendapati pengemis yang sama, lalu mengucap salam dan meminta izin untuk menyuapinya. Namun respons yang datang justru kemarahan. Sang pengemis menolak dengan nada tinggi, merasa orang di hadapannya bukan sosok yang biasa menemaninya setiap pagi.
Ia lalu mengungkapkan alasannya. Orang yang selama ini menyuapinya selalu menghaluskan makanan terlebih dahulu, dengan sentuhan yang penuh kesabaran. Cara itu begitu khas. Abu Bakar tak mampu menahan air mata. Dengan suara lirih, ia memperkenalkan diri dan menyampaikan kabar bahwa orang yang biasa datang itu telah wafat. Ia adalah Rasulullah Muhammad SAW.
Mendengar penjelasan tersebut, pengemis itu terdiam, lalu menangis tersedu. Dalam isaknya, ia mengakui bahwa selama ini ia terus menghina Muhammad, tanpa pernah sekalipun mendapatkan balasan kasar. Justru dari orang yang ia cela itulah ia menerima kebaikan paling tulus.
Baca Juga : Status Tersangka Tak Hentikan Laporan Yai Mim, Polisi: Semua Aduan Masih Diselidiki
Apa yang ia saksikan adalah cerminan sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Ahmad)
Kesadaran itu mengguncang hatinya. Di hadapan Abu Bakar ash-Shiddiq, pengemis Yahudi buta tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia memeluk Islam bukan karena perdebatan teologis, melainkan karena akhlak yang hidup dan konsisten.
Allah SWT telah mengingatkan bahwa kelembutan memiliki daya ubah yang luar biasa: “Maka disebabkan rahmat dari Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu.”
(QS. Ali Imran: 159)
Sementara itu, kisah ini adalah kisah populer (hikayat/atsar) yang beredar luas dalam literatur dakwah dan tasawuf, bukan riwayat hadis dengan sanad kuat. Disisi lain, dari sudut Madinah itu, sejarah mencatat satu pelajaran penting: bahwa iman tak selalu lahir dari kata-kata panjang, melainkan dari perilaku yang jujur dan kasih sayang yang tak bersyarat. Akhlak Rasulullah SAW bekerja pelan, tapi menembus paling dalam, mengubah hinaan menjadi hidayah.
