Jejak Shodanco Muradi di Kampung Jepang: Mahasiswa KKN Unisba Blitar Bangun Destinasi Edukasi Sejarah
Reporter
Aunur Rofiq
Editor
A Yahya
07 - Aug - 2025, 05:04
JATIMTIMES – Di sebuah sudut Kota Blitar, tepatnya di Jalan Moeradi, Kelurahan Sananwetan, sekelompok mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Blitar (Unisba) tengah menanam benih perubahan. Mereka menyulap gang sederhana menjadi Kampung Jepang, sebuah ruang edukatif yang tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga menghidupkan denyut ekonomi kreatif warga.
Kampung tematik ini bukan soal gaya-gayaan. Ia lahir dari kolaborasi antara ide dan aksi, kata Abdul Hakam Sholahuddin, dosen pembimbing lapangan. Para mahasiswa, bersama warga sekitar, membangun kampung tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap jejak perjuangan Shodanco Muradi, seorang tokoh lokal yang terlibat dalam perlawanan melawan penjajahan Jepang. Nama Jalan Moeradi, tempat kampung ini berdiri, menjadi penanda sejarah itu.
Baca Juga : Unikama Ditetapkan Jadi Mitra Strategis Ditjen GTK Siapkan Guru Bergelar S1/D4
"Ini bukan sekadar proyek dekoratif. Kami ingin membangun ruang yang mampu menyampaikan pesan tentang patriotisme, khususnya kepada generasi muda," ujar Hakam, Selasa (6/8/2025). Ia menambahkan, mural-mural perjuangan Pasukan PETA terpampang jelas di dinding kampung, menjadi narasi visual yang mudah dicerna warga dan pengunjung.
Untuk memperkuat identitas kampung, mahasiswa menambahkan ornamen khas Jepang seperti lampion merah yang menggantung di sepanjang jalan, serta gapura bambu sebagai pintu masuk. Namun, nuansa Jepang ini justru digunakan untuk menegaskan sisi historis: sebuah ironi yang mengingatkan bagaimana Shodanco Muradi dan rekan-rekannya justru bangkit dari pelatihan militer Jepang untuk melawan penjajahan.
Kampung Jepang ini juga diproyeksikan menjadi titik tumbuh ekonomi kreatif warga. Warga setempat, terutama ibu-ibu, didorong untuk mengembangkan produk kuliner dan kerajinan tangan bernuansa tematik. "Harapannya, kunjungan masyarakat bisa mendorong perputaran ekonomi kecil di sekitar kampung ini," kata Hakam.

Langkah mahasiswa KKN ini mendapatkan sambutan positif dari aparat kelurahan. Pemerintah setempat melihat inisiatif ini sebagai bagian dari pembangunan berbasis partisipasi masyarakat dan pendidikan. Kampung Jepang dinilai mampu menjembatani antara pendidikan sejarah, pelestarian budaya, dan penguatan ekonomi lokal.
Tak hanya menyajikan edukasi historis, kampung ini menjadi ruang interaksi sosial yang hangat. Warga bergotong-royong dalam pengecatan mural, pemasangan dekorasi, hingga menjaga kebersihan lingkungan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pembangunan tak selalu harus dimulai dari atas—kadang cukup dengan semangat kolektif dan niat untuk berubah.
Mahasiswa KKN Unisba Blitar membuktikan bahwa perguruan tinggi tak hanya mencetak sarjana, tapi juga agen perubahan. Melalui Kampung Jepang, mereka merawat ingatan kolektif, menghidupkan semangat lokal, dan membuka pintu baru bagi pembangunan berbasis sejarah dan budaya.
Muradi: Panglima yang Menggantikan Supriyadi dan Mati di Ujung Samurai
Dalam sejarah panjang perjuangan kemerdekaan Indonesia, nama Supriyadi kerap dijunjung sebagai ikon perlawanan bersenjata terhadap Jepang. Namun di balik bayang-bayang legenda itu, terdapat tokoh lain yang tak kalah heroik. Muradi, seorang perwira Pasukan Pembela Tanah Air (PETA), mengambil alih kepemimpinan di saat krusial dan membayar keberaniannya dengan nyawa. Ia dipenggal oleh samurai dalam senyap, tepat di ambang kemerdekaan yang hampir tiba.
Muradi dan Supriyadi adalah dua anak muda dari Jawa Timur yang dilatih sebagai perwira angkatan pertama PETA, pasukan militer lokal bentukan Jepang sejak 3 Oktober 1943. Mereka menjalani pelatihan di Bogor dan lulus dengan pangkat shodancho atau komandan peleton. Setelah menyelesaikan pendidikan militer, keduanya ditugaskan di Blitar untuk mengawasi romusa, yakni rakyat yang dipaksa bekerja dalam sistem kerja paksa modern oleh tentara Jepang. Perlakuan brutal terhadap para romusa membakar semangat kemarahan dalam diri mereka. Menurut kesaksian F.X. Baskara Tulus Wardaya, penderitaan rakyat itu menjadi alasan utama Supriyadi menggagas perlawanan. Muradi tidak sekadar ikut bergerak, tetapi juga tampil sebagai salah satu penggerak utama.

Momentum perlawanan dipilih dengan cermat. Sejak September 1944, rapat-rapat rahasia digelar. Tanggal 14 Februari 1945 dipilih, bertepatan dengan rencana pertemuan besar para komandan dan anggota PETA di Blitar. Di balik momen yang di dunia Barat dikenal sebagai Hari Kasih Sayang, para pemuda Indonesia menyalakan api perlawanan.
Namun rencana besar itu terbongkar. Tentara Jepang yang mencium gelagat pemberontakan segera membatalkan pertemuan dan mengirim pasukan ke Blitar. Supriyadi yang seharusnya memimpin langsung aksi tersebut tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Ada yang menduga ia telah tertangkap, namun ada pula kabar bahwa ia melarikan diri ke kawasan Gunung Kelud. Di tengah situasi yang kacau, Muradi tampil ke depan dan mengambil alih kendali.
Sebagai panglima lapangan, Muradi memimpin sekitar 200 prajurit PETA dengan bantuan dua shodancho lain, Suparjono dan S. Jono. Serangan dimulai secara gerilya: membersihkan pos-pos Jepang di Blitar, lalu mundur ke hutan untuk bertahan dan menunggu momen lanjutan. Tapi pengepungan musuh semakin rapat.
Baca Juga : Dijadikan Propaganda Terkait Polres Jember, Penyandang Disabilitas Ancam Laporkan Pegiat Sosial Asal Madura
Dalam situasi genting itu, Jepang mengutus Komandan Resimen, Kolonel Teisha Katagiri, untuk berunding. Ia menawarkan jaminan keselamatan kepada Muradi dan para prajurit PETA jika mereka menyerah. Muradi, dengan kecermatan seorang pemimpin, menyodorkan dua syarat: senjata tidak dilucuti, dan tidak ada pemeriksaan atau pengadilan. Katagiri setuju, bahkan menyerahkan pedang samurainya kepada Muradi sebagai simbol kehormatan dan janji yang takkan dikhianati.
Namun sejarah mencatat lain. Dalam Seks dan Kekerasan pada Zaman Kolonial (2005), R.P. Suyono menuliskan bahwa pedang itu hanyalah tipuan. Begitu pasukan menyerah, Jepang melanggar seluruh perjanjian. Muradi dan lebih dari 78 prajurit lainnya diseret ke pengadilan militer. Dalam catatan Suhartono W. Pranoto (Kaigun, 2007), enam orang termasuk Muradi divonis mati, enam lainnya dipenjara seumur hidup, dan sisanya dihukum dengan derajat lebih ringan. Empat tewas akibat penyiksaan dalam tahanan.
Eksekusi Muradi berlangsung pada 16 Mei 1945 di daerah Eevereld, yang kini dikenal sebagai Ancol, Jakarta Utara. Di tempat sunyi itu, Muradi dipenggal dengan pedang samurai, senjata yang sebelumnya dijadikan simbol sumpah oleh Katagiri. Ironi pun mencapai puncaknya. Alat kehormatan itu berubah menjadi alat pengkhianatan.
Muradi mati tanpa pernah disebut sebagai pahlawan nasional. Sejarah mengangkat Supriyadi ke tugu peringatan, tetapi Muradi tetap hidup dalam lembaran catatan kaki dan dokumen pengadilan militer Jepang. Padahal, tanpa Muradi, pemberontakan Blitar barangkali tak pernah menyala sama sekali.
Pemberontakan PETA Blitar bukan sekadar aksi bersenjata; ia adalah letupan ideologis dari generasi muda yang menyaksikan langsung kolonialisme dalam rupa baru. Dalam tubuh Muradi bersemayam dendam sejarah, keyakinan spiritual atas tanah air, dan warisan etika ksatria yang membuatnya tak tunduk pada ancaman maupun tipu daya.
Di saat banyak orang memilih bertahan, Muradi memilih melawan. Di saat para pemimpin menghilang, ia berdiri. Dan di saat pedang itu terhunus di lehernya, Muradi sudah lebih dulu menang: sebab pengkhianatan hanya bisa ditujukan kepada mereka yang setia.
