Masih Sering Hujan Padahal Sudah Kemarau? Ini Penjelasan BMKG
Reporter
Binti Nikmatur
Editor
Nurlayla Ratri
22 - Apr - 2026, 02:11
JATIMTIMES - Memasuki akhir April 2026, banyak masyarakat mulai bingung. Informasi soal musim kemarau sudah beredar, tapi di sejumlah daerah hujan masih kerap turun, bahkan cukup intens.
Fenomena ini ternyata bukan hal aneh. BMKG menjelaskan kondisi tersebut masih normal karena Indonesia saat ini masih berada di masa peralihan musim.
Baca Juga : Iuran BPJS Kesehatan Naik? Ini Penjelasan Pemerintah dan Rincian Tarif Terbarunya
"Ini bukan 'aneh', tapi normal Iho! Saat ini kita masih di fase peralihan, jadi belum semua wilayah masuk musim kemarau," demikian keterangan BMKG melalui Instagram resminya, dikutip Rabu (22/4/2026).
BMKG mengungkapkan, hingga awal April 2026, wilayah yang benar-benar masuk musim kemarau masih sangat sedikit.
"April ini masih fase peralihan. Faktanya, awal April ini baru 7,8% wilayah Indonesia yang sudah masuk musim kemarau. Selebihnya masih musim hujan. Jadi, wajar banget kalau daerahmu masih sering hujan," tambahnya.
Artinya, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam pola musim hujan, sehingga potensi hujan masih cukup tinggi.
BMKG juga menjelaskan bahwa musim kemarau di Indonesia tidak datang secara bersamaan. Pergerakannya mengikuti angin monsun Australia yang bertiup dari selatan ke utara.
"Kemarau dibawa angin monsun Australia, bergerak dari selatan ke utara Indonesia," ujarnya.
Secara umum, pola kedatangannya diperkirakan sebagai berikut:
• April–Mei: NTT, NTB, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah
• Juni: sebagian besar Sumatra
• Juli: sebagian Kalimantan dan Sulawesi
Dengan pola ini, wilayah seperti Jawa Timur memang mulai masuk fase kemarau, namun belum sepenuhnya kering.
Salah satu kesalahpahaman yang sering terjadi adalah anggapan bahwa kemarau berarti tidak ada hujan sama sekali.
BMKG menjelaskan bahwa hujan tetap bisa turun saat musim kemarau, hanya saja frekuensinya lebih jarang.
"Ingat, kemarau tanpa hujan sama sekali. Hujan tetap bisa terjadi, tapi lebih jarang," tambah BMKG.
Baca Juga : Hari Bumi 2026 Diperingati Hari Ini, Berikut Sejarah hingga Cara Ikut Jaga Bumi
Secara teknis, suatu wilayah dinyatakan memasuki musim kemarau jika curah hujan berada di bawah 50 mm per 10 hari (dasarian) dan berlangsung selama tiga dasarian berturut-turut.
Terkait isu kemarau panjang, BMKG juga meluruskan informasi yang beredar di masyarakat.
"Itu tidak benar, ya! Kemarau 2026 memang diprediksi lebih kering dari biasanya kalau dibanding rata-rata iklim normal. Tapi, bukan berarti ini kemarau paling parah dalam 30 tahun terakhir," ujarnya.
Dengan kata lain, kondisi tahun ini memang cenderung lebih kering, tetapi masih dalam batas wajar.
BMKG mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca yang cepat, terutama di masa peralihan seperti sekarang.
"Jadi... di daerah SobatBMKG masih hujan nggak nih? Tetap update info cuaca dan siapin diri, ya!" tutup penjelasan BMKG.
Hujan lokal, angin kencang, hingga petir masih berpotensi terjadi. Karena itu, penting untuk terus memantau informasi cuaca resmi sebelum beraktivitas.
Kesimpulannya, hujan yang masih sering turun di April bukan tanda musim kemarau “gagal”, melainkan bagian dari proses peralihan yang memang berlangsung bertahap.
Selama sebagian besar wilayah belum sepenuhnya masuk kemarau, hujan tetap akan menjadi bagian dari cuaca harian di Indonesia. Semoga informasi ini membantu ya.
