Lonjakan Harga Plastik Hantam UMKM, Akademisi Dorong Dua Intervensi

Editor

Yunan Helmy

09 - Apr - 2026, 03:12

Ilustrasi gambar harga plastik melonjak tajam, akademisi tawarkan solusi hadapi kondisi ini. (ist)

JATIMTIMES – Tekanan biaya produksi kini makin terasa di sektor kuliner skala kecil. Lonjakan harga kemasan plastik yang mencapai  dua kali lipat dalam beberapa waktu terakhir membuat pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berada di posisi serba sulit. Kenaikan ini dipicu situasi global yang memanas, berdampak langsung pada mahalnya bahan baku plastik dan harga minyak mentah.

Dampaknya tidak sederhana. Bagi UMKM kuliner, kemasan bukan sekadar pelengkap, melainkan kebutuhan utama dalam operasional harian. Ketergantungan tinggi terhadap plastik menjadikan kenaikan harga ini sebagai beban tambahan yang terus menggerus keuntungan.

Baca Juga : 7 Maskapai Ini Naikkan Tarif hingga Pangkas Rute Penerbangan, Dampak Avtur Melonjak

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) M. Sri Wahyudi Suliswanto menilai kondisi ini sebagai sinyal lemahnya ketahanan industri nasional. Ia menegaskan bahwa ketergantungan pada impor bahan baku menjadi akar persoalan yang membuat harga domestik mudah terguncang saat terjadi krisis global.

“Ketika rantai pasok internasional terganggu dan harga minyak naik, dampaknya langsung terasa di dalam negeri. Ini menunjukkan kita belum mandiri,” ujarnya, Kamis, (9/4/2026).

Di sisi lain, pelaku UMKM kini dihadapkan pada pilihan yang sama-sama berisiko. Menaikkan harga jual berpotensi menurunkan daya beli konsumen yang saat ini belum sepenuhnya pulih. Namun jika harga tetap dipertahankan, margin keuntungan akan terus tergerus hingga mengancam kelangsungan usaha.

Wahyudi menyebut kondisi ini sebagai tekanan biaya tersembunyi yang perlahan namun pasti melemahkan fondasi bisnis kecil. Situasi tersebut juga diperparah oleh rantai distribusi dalam negeri yang panjang, sehingga harga di tingkat pelaku usaha menjadi semakin tinggi.

Meski demikian, ia melihat peluang perubahan di tengah krisis. Momentum ini dinilai tepat untuk mendorong pergeseran perilaku konsumsi masyarakat agar tidak lagi bergantung pada plastik sekali pakai.

Salah satu strategi yang bisa diterapkan adalah skema harga berbeda. Konsumen yang membawa wadah sendiri dapat diberikan potongan harga sebagai insentif. Menurut dia, pendekatan ini tidak hanya membantu menekan biaya operasional, tetapi juga membangun kesadaran lingkungan secara bertahap.

Baca Juga : Pemkab Magetan Resmi Terapkan WFH Setiap Jumat bagi ASN

Namun, ia mengingatkan bahwa solusi tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada pelaku usaha. Mengingat penggunaan plastik sangat luas, mulai dari sektor kuliner hingga industri besar, keterlibatan pemerintah menjadi kunci.

“Harus ada langkah konkret dari pemerintah untuk menjaga stabilitas harga. Dampaknya tidak hanya dirasakan UMKM, tapi lintas sektor,” tegasnya.

Ia pun mendorong pemerintah untuk segera membuka akses pasokan bahan baku dari negara yang tidak terdampak konflik global. Upaya ini dinilai sebagai langkah realistis untuk menekan harga dalam jangka pendek.

Kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan konsumen menjadi penting dalam menghadapi situasi ini. Tidak hanya untuk menjaga keberlangsungan UMKM, tetapi juga sebagai titik awal perubahan menuju pola konsumsi yang lebih berkelanjutan dan minim ketergantungan pada plastik sekali pakai.