Inspiratif, Guru GTT di Kediri Ini Tekuni Kerajinan Batik Pakai 3 Teknik
Reporter
Bambang Setioko Kediri TIMES
Editor
Nurlayla Ratri
03 - Oct - 2020, 12:31
Memasuki usia senja, seorang Guru Tidak Tetap (GTT) di Kabupaten Kediri menekuni usaha kerajinan batik. Ada tiga teknik membatik yang dia terapkan, mulai dari batik tulis dan cap, ecoprint serta sibori. Perajin batik yang satu ini bernama Ardini dengan nama label Hardini. Ia tinggal di Desa Papar, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri.
"Usia tidak muda lagi. Biar saya tetap berguna saat tenaga saya sudah tidak dibutuhkan lagi di sekolah, saya akhirnya belajar membatik," ujar Ardini.
Baca Juga : Nasib Perajin Patung Garuda Pancasila di Momen Hari Kesaktian Pancasila Saat Pandemi
Di sela kesibukannya sebagai GTT di SMPN 1 Papar, Ardini mengikuti les membatik. Tempatnya menimba ilmu tersebut di Batik Suminar, Desa Sekoto, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri.
Perempuan berkacamata ini belajar membatik dari mulai teknik dasar hingga akhirnya berhasil menguasai tiga teknik membatik yang populer. Ia pun terus mengembangkan sayap dengan bergabung sejumlah asosiasi batik di tingkat lokal, hingga Jawa Timur.
Seiring dengan kemampuan membatik yang dikuasai, produknya pun kian beragam. Tak hanya berupa kain batik, tetapi juga produk-produk fashion, mulai pakaian, sepatu hingga tas. Bahkan, di era pandemi Covid-19 ini Ardini meluncurkan produk masker dari sibori.
"Sibori saya buat kaos, tas yang mengarah fashion dan barang jadi," imbuh Ardini.
Ardini baru memasarkan produk jadinya melalui media sosial. Memanfaatkan instagram, hasil karyanya dapat dilihat di akun media sosial 'Hardini Batik'.
"Peminat bagus terutama ecoprint dan sibori karena harganya terjangkau. Kalau batiknya terpuruk. Saya belum pasarkan secara luas, karena takut tidak bisa melayani pesanan, karena masih terikat kesibukan kerja," bebernya.
Baca Juga : Dinas Perikanan Kabupaten Kediri Dorong Peternak Cupang Tingkatkan Kualitas dan Produksi
Diakuinya, permintaan produk kerajinan batik Ardini datang dari lokal hingga luar Kediri. Permintaan paling banyak berasal dari Kalimantan. Bahkan, Ardini pernah melayani pembeli dari luar negeri.
"Saya kerja sama dengan lembaga les Bahasa Inggris di Pare. Kemudian, tenaga asing diajak belajar batik ke sini. Akhirnya, mereka beli," tambahnya.
Ardini mematok harga batiknya mulai dari paling rendah Rp 100 ribu hingga Rp 1,7 juta per potong. Harga ini disesuaikan dengan jenis batik dan tingkat kesulitan dalam pembuatannya.
Ardini berterima kasih atas peran dari Pemerintah Daerah Kabupaten Kediri. Menurutnya perhatian pemda sangat bagus. Dinas Pariwisata, Perindustrian Perdagangan, dan UMKM selalu memberikan dukungan melalui berbagai pelatihan.
