Kampus Mengajar, “Penting Loh Membangun Support System Di Luar Sekolah !” | Tulungagung TIMES

Kampus Mengajar, “Penting Loh Membangun Support System Di Luar Sekolah !”

Dec 03, 2021 19:30
Salah satu kegiatan program merdeka belajar kampus merdeka. (Foto Ronal for JatimTIMES).
Salah satu kegiatan program merdeka belajar kampus merdeka. (Foto Ronal for JatimTIMES).

JATIMTIMES - Program Kampus Mengajar (KM 2) angkatan 2 merupakan bagian dari kebijakan Merdeka-Belajar Kampus-Merdeka (MBKM 2) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbud RI) angkatan yang ke 2.  

Program ini bertujuan untuk memberikan solusi kepada sekolah dasar dan sekolah menengah pertama yang terdampak pandemi. Sehingga tidak mampu mengadakan proses belajar-mengajar dengan efektif. Dengan memberdayakan mahasiswa sebagai pendamping guru di daerah sekolah domisi mahasiswa tersebut, program ini diharapkan mampu membantu para guru dan kepala sekolah di sekolah dasar yang dituju dalam pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar di tengah pandemi Covid-19.

Baca Juga : Indonesia Tuan Rumah KTT G20 pada 2022, Global Health Architecture Jadi Isu Strategis yang Diusulkan

Program KM 2 dianggap mampu memberikan manfaat berupa simbiosis mutualisme yang terjadi antara SD/SMP dan mahasiswa. Menurut Kemendikbud, dengan mengikuti program ini, mahasiswa mendapat kesempatan untuk mengasah kemampuan interpersonal sekaligus mendapatkan pengalaman mengajar. 

Selain itu, siswa SD/SMP mendapat kesempatan untuk berinteraksi dan terinspirasi oleh mahasiswa pengajar yang mengikuti program KM 2. Selama satu semester, mahasiswa diharapkan mampu membantu proses pembelajaran lebih efektif sekaligus meningkatkan literasi masyarakat terhadap pentingnya protokol kesehatan di tengah pandemi.

Program ini diikuti oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Lebih dari dua ribu mahasiswa mengikuti program KM 2 dan diantaranya 1 orang DPL yaitu Ronal Surya Aditya (STIKes Kepanjen) serta 6 orang  mahasiswa yaitu Siti Nuralfia (Universitas Jember), Ira Risti Antika (Universitas Jember), David Agustialan (Universitas Negeri Surabaya), Muhammad Syaifur Rizal (Universitas Tidar), Sabila Qori' Ainani (Universitas Jember), Moh. Muies (Universitas Nurul Jadid) dari berbagai latar belakang program studi menjadi bagian dari program ini. Salah satu sekolah dasar yang terpilih untuk program KM 2 adalah SDN Jatiurip 1 dan SDN Tukul III yang terletak di Kabupaten Probolinggo.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim menjelaskan tujuan diadakannya Kampus Mengajar adalah pertama, untuk menghadirkan mahasiswa sebagai bagian dari penguatan pembelajaran literasi dan numerasi. 

Kedua, membantu pembelajaran di masa pandemi, terutama untuk SD di daerah 3T. Selain itu, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, Jumeri, memberikan dukungannya terhadap pelaksanaan program Kampus Mengajar. 

Jumeri menekankan, agar program ini dapat dimanfaatkan sebagai momen saling berbagi pengalaman, bukan hanya satu arah dari sekolah ke mahasiswa, tetapi juga dari mahasiswa ke sekolah, bahkan ke komunitas orang tua, atau komunitas KKG (Kelompok Kerja Guru).

Fokus kebanyakan kelompok KM 2 lain adalah penguatan literasi dan numerasi di sekolah saja, padahal jam di sekolah mereka terbatas, lebih banyak  berinteraksi di luar sekolah. Sehingga support system di luar sekolah sangatlah penting.  Menurut Gonollen dan Bloney (2008), Support system adalah system yang terbentuk untuk mendukung seseorang agar menjadi lebih baik dengan cara mendukung secara emosional, pengetahuan, dll. Pembelajaran daring untuk siswa di rasa berat dan belum siap oleh sebagian keluarga, sehingga membutuhkan support system untuk mendukung pembelajaran di sekolah.

Interaksi antara guru-siswa hanya melalui perangkat elektronik. Semua kegiatan yang melibatkan banyak orang ditiadakan. Semua serba sendiri dan di bantu keluarga, terkadang bapak/ibu sibuk dengan urusan masing-masing sehingga anak kurang adanya support dalam pembelajaran daring.

Baca Juga : Clara Gopa Beberkan Isi Chatting Akun yang Dilaporkan ke Polisi, Bermula dari Instastory

Di masa pandemi, support system yang sesuai dengan protokol kesehatan adalah keluarga serumah dan tetangga terdekat yang bisa dijamin tracing mobilitasnya dengan membentuk kelompok belajar sesuai kelompok usia. Kelompok ini mengadakan sanggar belajar, dimana siswa selepas sekolah mereka bisa belajar dengan di fasilitasi mahasiswa KM 2.  Selain itu, dengan adanya internet dan media sosial, support system bisa dilakukan melalui online, contohnya dalam bentuk grup WhatsApp,dll.

Awalnya sanggar itu diperuntukan bagi anak-anak pelajar di kelurahan daerah SDN Jatiurip 1  yang selama pandemi covid-19 mengikuti pelaksanaan pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring. Sanggar belajar ini bertujuan membantu peserta didik dalam mengikuti pembelajaran jarak jauh pada masa pandemic yang berfokus pada literasi dan numerasi yang dilaksanakan secara daring, serta menyiapkan mereka untuk masuk sekolah luring secara bertahap. 

Sanggar belajar yang di prakarsai mahasiswa KM 2 dilengkapi dengan fasilitas jaringan internet yang memadai, sehingga dapat menjadi sarana belajar bagi peserta didik yang selama ini terkendala dalam mengikuti kegiatan pembelajaran jarak jauh. Proses kegiatan belajar mengajar di sanggar tetap memperhatikan protokol kesehatan. Jadi orang tua tidak merasa khawatir saat anaknya mengikuti kegiatan belajar di sanggar.

Bulan pertama dengan adanya dukungan dari pak lurah dan karang taruna, antusias warga untuk mengikuti sanggar juga sangat banyak, sehingga di bulan ke-2 mahasiswa KM 2 mendirikan sanggar belajar di kelurahan lain untuk menampung siswa yang berbeda kelurahan.Hasil dari sanggar belajar yang didirikan mahasiswa KM 2 sangat membantu masyarakat terutama ibu-ibu untuk menyiapkan tugas dan menyiapkan sekolah luring.

Sanggar belajar sangat membantu sekolah, karena terbatasnya waktu di sekolah untuk mengeksplorasi literasi dan numerasi. Sehingga untuk KM  selanjutnya bukan hanya fokus literasi dan numerasi di sekolah, tetapi membentuk sanggar belajar sangat efektif untuk pemberian materi literasi dan numerasi. Hikmah dari kelompok KM 2 ini adalah belajar tidak mengenal waktu, tempat dan usia. Sehingga diharapkan perlu adanya pemberian literasi dan numerasi pada kelompok KKG di kelompok KM  lainnya.

Penutup opini ini ada sedikit kalimat dari penulis Jangan pernah berhenti belajar, karena hidup tak pernah berhenti mengajarkan.

Topik
program kampus mengajar kampus mengajar

Segala opini, saran, pernyataan, jasa, penawaran atau informasi lain yang ada pada isi/konten adalah tanggungjawab penulis bukan JatimTIMES.com.
Kami berhak menolak atau menyunting isi konten yang tidak sesuai dengan kode etik penulisan dan kaidah jurnalistik.
Kami juga berhak menghapus isi/konten karena berbagai alasan dan pertimbangan dan tidak bertanggungjawab atas kegagalan atau penundaan penghapusan materi tersebut.

Berita Lainnya