Tahapan jiwa manusia menuju muthmainnah  dan kamaliyah
Tahapan jiwa manusia menuju muthmainnah dan kamaliyah

Luar biasa kedalaman hakikat yang yang terpancar dari tafsir Syaikh Abu Abbas Al-Mursyi saat menjelaskan tentang tujuh golongan yang mendapatkan anugerah tempat bernaung dari Allah SWT. 

Di mana saat tidak ada sama sekali tempat bernaung yang lain kecuali naungan Allah SWT. Pembaca akan menemukan inti atau hakikat dari penjelasan tersebut, yang bahkan mencakup inti dari semua jenis ibadah kepada Allah SWT.

Baca Juga : 1 Juni Besok Adalah Hari Lahirnya Pancasila Ke 75

 

Hadis tujuh golongan yang dimaksud adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra., bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: “Tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah SWT pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Pemimpin yang adil; (2)  Pemuda yang tumbuh di atas kebiasaan ‘ibadah kepada Rabbnya; (3) Lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid; (4) Dua orang yang saling mencintai karena Allah, sehingga mereka tidak bertemu dan tidak juga berpisah kecuali karena Allah; (5) Lelaki yang diajak (berzina) oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik lalu dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah’; (6) Orang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya; (7) Orang yang berdzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri hingga kedua matanya basah karena menangis.” (HR. Imam Malik, Imam Ahmad, Imam Tirmidzi, Imam Nasai, Imam Bukhari dan Imam Muslim, mudah-an Allah SWT meridloi para imam hadis ini).

Tafsir Syaikh Abu Abbas ditulis oleh muridnya, yaitu Syaikh Ibnu Athaillah As-Sakandary  dalam kitab Lathoiful Minan. Dalam cetakan ketiga edisi tahqiq Al-Iman Ad-Doktor Abdul Halim Mahmud halaman 139 disebutkan sebagai berikut. 

Pertama, pemimpin yang adil yang dimaksud adalah hati yang terpaut dengan Arsy Allah. Hati yang terpaut itu selalu kembali bersujud kepada Allah, termasuk keputusan yang adil pemimpin adalah bersumber dari ketundukannya kepada Allah SWT. 

Kedua, seorang pemuda yang tumbuh besar selalu beribadah kepada Allah SWT adalah pemuda yang selalu belajar dan terbiasa berpaling dari hawa nafsunya serta berjalan menuju perlindungan Allah SWT. Ketiga, seorang lelaki yang hatinya terpaut dengan masjid adalah seorang lelaki yang hatinya terpaut dengan arsy, karena sesungguhnya Arsylah masjid kaum mukminin. 

Keempat, Dua orang yang saling mencintai karena Allah SWT adalah dua orang yang bertemu dan berpisah karena condong dan atas dasar lillah ta’ala. Kelima, orang yang menolak ajakan berzina Karen takut kepada Allah adalah orang menyulut permusuhan dengan hawa nafsunya. 

Keenam, orang yang bersedekah secara rahasia adalah orang yang bersedekah dengan menyembukan sedekahnya dari hawa nafsunya. Ketujuh, seorang lelaki yang yang berdzikir dalam kesediriannya sampai menenteskan air mata adalah lelaki yang yang mengosongkan diri dari kepentingan hawa nafsunya. 

Inti dari Tafsir Syaikh Abu Abbas Al-Mursyi di atas adalah ketundukan kepada Allah SWT dengan mengosongkan atau mengendalikan kepentingan-kepentingan hawa nafsu. Karena kegiatan ibadah apapun selalu berhubungan dengan mengendalikan hawa nafsu. Kegiatan ibadah yang masih tercampuri hawa nafsu pasti rentan menyimpang, bukan lagi menjadi pengabdian kepada Allah SWT tapi pemuasan keinginan, kepentingan, dan memperbesar ego diri.

Baca Juga : I'tikaf Berkualitas di Tengah Pandemi Covid-19.

 

Hal ini selaras dengan Firman Allah SWT dalam Surat Al-Fajr (89) ayat 27-30, “Wahai jiwa yang tenang! (27), Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya (28). Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambak-Ku (29), dan masuklah ke dalam surga-Ku (30).” 

Jiwa yang tenang yang dimaksud adalah jiwa yang rela, ridlo, ikhlas, bahkan mungkin rindu untuk meninggalkan kehidupan dunia menuju pada kehidupan berikutnya. Jiwa yang seperti inilah yang dalam doa iftitah dalam salat disebut sebagai “Sesungguhnya Salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah karena Allah SWT.”

Tahapan menuju jiwa yang tenang oleh Syaikh Ihsan Dahlan Jampes Kediri, dalam kitabnya Sirojut Tholibin disebutkan dimulai dengan mengendalikan nafsu ammarah, nafsu lawwamah, nafsu mulhimah, dan sampailah ke nafsu muthmainah. Syaikh Dahlan juga menyebutkan kategori Mutmainnah yang lebih tinggi adalah nafsu radhiyah, nafsu mardhiyyah, sampai ke nafsu kamaliyyah.

Dalam mendidik nafsu ini, Rasulullah menyebutnya sebagai jihad. Tidak hanya jihad biasa, bahkan Beliau SAW menyebutnya Jihad Akbar, melebihi besarnya perang Badar atau perang Uhud yang Fenomenal itu. Hal ini dapat dipahami juga betapa Allah SWT mengajarkan kepada kaum mukminin dari dua surat pendek: Al-Falaq dan An-Nas. Dalam Surat Al-Falaq untuk memohon perlindungan dari luar diri, dengan menyebut 1 kali nama Allah SWT. Dalam Surat An-Nas, untuk memohon godaan yang bersumber di dalam diri sendiri, dengan menyebut 3 kali nama Allah SWT.

Wallohu A’lam.