JATIMTIMES - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang melihat garam sebagai salah satu komoditas strategis konsumsi maupun industri sangat potensial untuk dikembangkan di wilayah pesisir selatan Kabupaten Malang. Pasalnya, garam di Kabupaten Malang diproduksi melalui metode tunnel.
Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malang Victor Sembiring menyampaikan, dengan melihat potensi besar tersebut pihaknya telah mengusulkan hilirisasi garam yang berada di pesisir selatan Kabupaten Malang, tepatnya di sekitar Pantai Modangan, Desa Sumberoto, Kecamatan Donomulyo.
Baca Juga : Pemkab Magetan Gandeng Kejari Amankan Legalitas 11 Aset Daerah
Victor menyebutkan, upaya mengusulkan hilirisasi garam ke pemerintah pusat ini agar hasil panen garam Kabupaten Malang tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, melainkan dapat dijual dalam bentuk olahan jadi dan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
Pihaknya mengaku, Pemkab Malang dalam hal ini Dinas Perikanan telah menjalin komunikasi intensif dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI untuk dapat memperoleh bantuan anggaran untuk program hilirisasi garam di Kabupaten Malang.
"Kami masih melakukan lobi ke KKP RI untuk anggarannya supaya garam ini bisa jadi final product. Karena kalau garam sudah diolah, harganya akan lebih mahal, sehingga petani bisa lebih sejahtera," ungkap Victor.
Menurutnya, jika program hilirissi garam dapat terwujud atas bantuan dari pemerintah pusat, maka ke depan akan berdiri pabrik garam berskala kecil di Kabupaten Malang yang berfungsi untuk menampung serta mengolah garam hasil panen untuk bahan konsumsi maupun bahan baku industri.
Victor mengatakan, sebenarnya permintaan garam dari pesisir selatan Kabupaten Malang bagus. Pasalnya kualitas garam dari kawasan Pantai Modangan sangat bagus. Sehingga, jika terdapat pabrik garam berskala kecil akan membantu mensejahterakan masyarakat Kabupaten Malang, khususnya yang berada di pesisir Pantai Modangan.
Lebih lanjut, produksi garam dengan metode tunnel di Pantai Modangan saat ini masih berupa garam kasar atau biasa disebut garam krosok. Di mana dalam satu kali panen, masyarakat bisa menghasilkan tiga sampai empat ton garam.
"Harga jual garam krosok tersebut berkisar Rp 2.000 hingga Rp 2.500 per kilogram. Masa panen berlangsung setiap 20 hari sekali dengan memanfaatkan 40 unit tunnel yang telah terpasang," ujar Victor.
Baca Juga : Pembebasan Lahan Jalan Tol Malang-Kepanjen, DPUBM Kabupaten Malang: Harapan di 2027 Bisa Mulai
Untuk pemasaran produk garam krosok dari Pantai Modangan masih menjangkau pasar lokal, utamanya ke beberapa daerah di sekitar Kabupaten Malang, seperti Kabupaten Blitar dan Kabupaten Tulungagung.
Sementara itu, selain produksi garam dengan metode tunnel di kawasan Pantai Modangan, produksi garam dengan metode tunnel juga ada di Desa Sidoasri, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Namun, hasil produksi garam di kawasan tersebut relatif kecil yakni sekitar empat sampai lima kuintal dalam sekali panen.
"Sidoasri lebih sedikit karena faktor angin dan panasnya masih lebih bagus di Modangan, sehingga proses produksinya lebih cepat," kata Victor.
Untuk meningkatkan kualitas dan pengembangan garam dengan metode tunnel, Pemkab Malang dalam hal ini Dinas Perikanan menggandeng Universitas Brawijaya (UB). Hal itu dilakukan sebagai bentuk komitmen dari Pemkab Malang agar produksi garam Kabupaten Malang semakin meningkat dan berkualitas.
