JATIMTIMES - Meski sudah memasuki musim hujan, cuaca di Malang Raya masih terasa terik dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini lantaran dipicu anomali pola angin regional yang menyebabkan minimnya tutupan awan sehingga paparan sinar matahari langsung mengenai permukaan Bumi.
Hal tersebut dibeberkan BMKG Stasiun Klimatologi Karangploso, Kabupaten Malang. Menurut prakirawan BMKG Karangploso Ahmad Luthfi, panas terik tersebut dipicu anomali pola angin regional yang memengaruhi pembentukan awan di wilayah Malang Raya.
Baca Juga : Pemkot Surabaya Prioritaskan Penanganan Banjir Simo dan Tanjungsari pada 2026
“Karena tutupan awan sangat minim, sinar matahari langsung menembus ke permukaan Bumi tanpa penghalang. Akibatnya, suhu terasa lebih panas,” ucap Luthfi, Selasa (6/1/2026).
Fenomena ini terlihat jelas dari pantauan citra satelit. Sepanjang hari, wilayah Malang Raya didominasi warna biru gelap yang menandakan hampir tidak adanya awan tebal.
Berbeda dengan daerah lain yang menunjukkan tutupan awan cukup signifikan, Malang Raya justru tampak kosong dari pembentukan awan. Secara geografis, Malang Raya yang berada di dataran tinggi seharusnya memiliki suhu lebih sejuk.
Namun kondisi tersebut bisa berubah drastis saat awan yang berfungsi sebagai penyaring panas matahari tidak terbentuk. “Walaupun elevasinya tinggi, kalau awannya minim, panas tetap terasa,” imbuh Luthfi.
BMKG juga mencermati kadar uap air di atmosfer yang saat ini belum mencukupi untuk membentuk awan hujan. Salah satu penyebab utamanya adalah anomali angin yang dipengaruhi keberadaan Siklon Tropis Anggrek di wilayah selatan Indonesia.
Baca Juga : Milad ke-48 MIN 2 Kota Malang: Dari Tasyakuran Sederhana Menuju Target Prestasi Nasional
Dalam kondisi normal, uap air akan bergerak mengikuti arah angin dan menyebar merata. Namun tarikan siklon tropis tersebut membuat distribusi uap air terhambat dan terkonsentrasi di wilayah tertentu. Akibatnya, pasokan uap air ke Jawa Timur, termasuk Malang Raya, menjadi terbatas.
“Awan tidak bisa bergerak tanpa angin. Karena ada tarikan dan belokan angin akibat siklon, uap air menumpuk di satu titik dan tidak menyebar ke wilayah lain,” tambah Luthfi.
Meski demikian, BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi cuaca panas ekstrem di tengah musim hujan serta menjaga kondisi tubuh agar terhindar dari dampak paparan panas berlebih.
