JATIMTIMES - Rentetan banjir besar dan tanah longsor yang kembali menghantam sejumlah wilayah di Sumatra dalam beberapa hari terakhir membuat banyak orang mulai bertanya-tanya: apa sebenarnya yang terjadi? Cuaca ekstrem memang jadi pemicu awal, tapi dugaan rusaknya kawasan Hutan Batang Toru disebut-sebut ikut memperparah bencana yang kini meluas.
Isu ini mencuat setelah konten kreator TikTok @KakVivi mengunggah sebuah video yang ramai dibahas warganet. Dalam videonya, ia membahas penyebab banjir dari sudut pandang ekologi, terutama kondisi hutan di Batang Toru yang semakin menyusut.
Baca Juga : Tarif Tol Turun hingga 20 Persen Spesial Nataru, Ini Ruas-ruasnya
Di video tersebut, Kak Vivi menjelaskan bahwa Batang Toru yang selama ini dikenal sebagai rumah bagi Orangutan Tapanuli sudah tidak lagi seutuh dulu. Ia menyebutkan adanya aktivitas pembukaan lahan, pembangunan, sampai kegiatan industri yang ikut menggerus tutupan hutan.
Ketika hutan hilang, air hujan yang seharusnya terserap masuk ke dalam tanah justru langsung mengalir deras ke sungai. Tanah pun tidak lagi mampu menahan air. Akibatnya, limpasan air meningkat dan memicu banjir bandang.
Batang Toru sebenarnya adalah daerah tangkapan air penting. Fungsinya seperti spons besar yang menjaga aliran air tetap stabil. Namun, ketika kondisi hutan memburuk, efeknya langsung terasa.
Air hujan mengalir terlalu cepat ke sungai sehingga dalam waktu singkat debit air meningkat dan sungai meluap. Itulah sebabnya banjir yang terjadi beberapa hari terakhir berlangsung begitu cepat dan merendam banyak wilayah pemukiman.
Selain banjir, longsor juga ikut melanda beberapa titik di Sumut. Dalam videonya, Kak Vivi menegaskan bahwa longsor bukan hanya persoalan hujan lebat, melainkan juga akibat hilangnya akar pohon yang biasanya mengikat tanah.
Ketika hutan dibabat, lereng pegunungan menjadi rapuh. Tanah yang tidak lagi memiliki penahan mudah sekali bergerak dan jatuh ketika turun hujan deras. Ini pula yang menyebabkan sejumlah akses jalan terputus.
Kerusakan hulu seperti Batang Toru bukan hanya berdampak pada area sekitar. Beberapa kabupaten di Sumatra Utara seperti Tapanuli Selatan dan Deli Serdang, hingga sebagian wilayah Sumatra Barat, ikut menerima dampaknya. Air dari hulu mengalir ke berbagai daerah di hilir dan ketika pengaturan air di hulu terganggu, maka banjir menjadi tak terhindarkan.
Walhi Sumut: Bencananya Bukan Murni Karena Hujan
Temuan Kak Vivi ini ternyata selaras dengan analisis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut. Direktur Eksekutif Walhi Sumut, Rianda Purba, menyebut kerusakan Ekosistem Harangan Tapanuli atau Batang Toru sebagai pemicu utama banjir bandang dan longsor yang terjadi.
Menurut Rianda, daerah-daerah yang mengalami kerusakan terparah berada di Kabupaten Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara, dan Kota Sibolga.
“Batang Toru ini bentang hutan tropis esensial terakhir di Sumatera Utara. Fungsinya vital: sumber air, pencegah erosi, penyangga DAS,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Jumat (28/11/2025).
Distribusi tutupan hutan Batang Toru pun disebut semakin menyusut, yang secara administratif terbagi di:
• Tapanuli Utara: 66,7%,
• Tapanuli Selatan: 22,6%,
• Tapanuli Tengah: 10,7%.
Kayu Gelondongan di Lokasi Banjir Jadi Petunjuk Penting
Rianda menambahkan bahwa setiap banjir besar yang terjadi kerap membawa potongan kayu berukuran besar. Ini menjadi tanda kuat adanya penebangan pohon di sekitar kawasan hutan.
Ia juga menyinggung citra satelit yang menunjukkan banyak area gundul. Menurutnya, ada perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan celah perizinan untuk membuka kawasan hutan dan melakukan penebangan dalam jumlah besar.
Baca Juga : 300 Nyawa Jadi Korban, Bencana di Sumatera Belum Juga Berstatus Darurat Nasional
Risiko Bencana Sudah Dipetakan Sejak 2022
Dalam dokumen Kajian Risiko Bencana Nasional Provinsi Sumatera Utara 2022–2026, area Batang Toru sudah sejak lama digolongkan ke kategori risiko tinggi banjir dan longsor.
Yang menarik, wilayah yang saat ini paling terdampak banjir memang wilayah yang sebelumnya sudah dipetakan sebagai kawasan rawan bencana.
Selain fungsi ekologi, Batang Toru juga merupakan rumah bagi sejumlah satwa langka seperti harimau Sumatra, tapir, dan terutama Orangutan Tapanuli yang populasinya sangat terbatas. Kerusakan hutan tidak hanya mengancam mereka, tetapi juga masyarakat yang hidup di bawahnya.
“Kerusakan ekosistem dan illegal logging yang masif membuat bencana semakin sering terjadi,” jelas Rianda.
Ada Dugaan Keterlibatan Tujuh Perusahaan
Walhi menuding ada tujuh perusahaan mulai dari sektor tambang hingga perkebunan yang diduga terlibat merusak kawasan DAS Batang Toru. Aktivitas mereka tersebar di Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Tengah.
Organisasi ini meminta pemerintah untuk:
• menghentikan aktivitas industri ekstraktif di Batang Toru,
• menindak tegas pelaku perusakan lingkungan,
• memperkuat regulasi perlindungan Batang Toru melalui RTRW,
• serta memastikan kebutuhan para penyintas bencana terpenuhi.
Kasus banjir dan longsor yang melanda Sumatra bukan lagi persoalan cuaca ekstrem semata. Kerusakan lingkungan di kawasan hulu—terutama di Batang Toru—memegang peran besar dalam memperparah bencana.
Penjelasan dari TikTok @KakVivi, ditambah temuan Walhi, menunjukkan bahwa kondisi ekologis Batang Toru sudah berada pada titik kritis. Jika aktivitas perusakan hutan tidak segera dihentikan, risiko bencana serupa akan terus menghantui wilayah-wilayah hilir.
