JATIMTIMES - Di tengah pusaran zaman, tatkala Pajang bergolak di antara senjakala Demak dan fajar Mataram, berdirilah nama Pangeran Benawa, seorang pewaris sah yang terlempar oleh intrik, dijepit oleh hegemoni spiritual pesisir, dan dijadikan pion dalam permainan pusaka dan dendam Jawa. Kisah Benawa bukan hanya tentang perebutan takhta, melainkan tentang bagaimana pusaka, mimpi spiritual, dan dendam sejarah membentuk peralihan kekuasaan dari pantai utara ke pedalaman Jawa.
Sebagaimana dicatat dalam Babad Tanah Djawi dan Serat Kandha, riwayat Benawa merupakan babak ketika kekeramatan Demak bertaut dengan pragmatisme Kudus, yang licin menjinakkan takhta Pajang sebelum akhirnya jatuh ke tangan Ki Ageng Pamanahan, pendiri dinasti Senapati.
Senjakala Pajang dan Bayang-bayang Kudus

Setelah Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir) wafat dan dimakamkan di Butuh, istana Pajang kehilangan tiang penyangga. Para bupati yang mewakili suara aristokrasi Pajang sepakat menabalkan Pangeran Benawa, putra kandung Sultan, sebagai pengganti. Namun rencana itu segera diremuk oleh suara pesisir.
Sunan Kudus, tokoh rohani yang menguasai hegemoni Demak dan Kudus, mendaku hak penentu suksesi. Menurut Babad Tanah Djawi (Meinsma, 93–94) dan Serat Kandha, Sunan Kudus memanfaatkan momen sakral kematian raja untuk memaksakan kehendaknya. Dikisahkan, sang Sunan tiba di Pajang tepat menjelang mangkatnya Sultan, dan setelah jenazah disemayamkan, ia berdiri di hadapan keluarga besar dan para bupati, lalu mengumumkan:
“Kesultanan Pajang diserahkan kepada menantu tertua Sri Baginda, Adipati Demak. Adapun Pangeran Benawa hanya layak menjadi Adipati Jipang.”
Baca Juga : Daftar Tanggal Penting September 2025: Nasional, Internasional, Libur dan Long Weekend
Tak ada perlawanan berarti. Senapati Mataram, yang di kemudian hari akan dikenal sebagai Panembahan Senapati, hanya bisa menahan gejolak hatinya. Ki Juru Martani yang bijak menasihati agar menahan diri: konfrontasi terbuka hanya akan menghancurkan modal politik Mataram yang masih rapuh.
Dalam logika spiritual-politik Jawa, figur Sunan Kudus memanggul legitimasi keulamaan Demak — warisan para Wali Sanga. Di mata para bupati Pajang, membantah Sunan Kudus sama saja dengan menantang restu langit. Maka Benawa pun diasingkan ke Jipang, bekas wilayah Arya Penangsang — sebuah wilayah tandus di perbatasan yang pernah membelot.
Strategi Pisah dan Kuasai
Pemisahan dua calon pewaris, Senapati ke Mataram dan Benawa ke Jipang, bukan sekadar keputusan pragmatis. Inilah strategi klasik divide et impera ala rohaniwan pesisir: satu pewaris di pedalaman, satu di perbatasan, sementara pusat Pajang diambil alih oleh klan Demak yang menumpang restu Kudus.
Muncul pertanyaan, mengapa garis Demak masih begitu kuat mencengkeram Pajang? Jawaban historisnya terletak pada perkawinan silang dinasti. Adipati Demak yang diangkat menjadi raja Pajang adalah Arya Pangiri, putra Sunan Prawata, raja Demak yang dibunuh oleh Arya Penangsang pada 1549. Setelah tragedi itu, Pangiri diasuh oleh Ratu Kalinyamat, pusat resistensi Demak.
Politik perkawinan ini menegaskan bahwa Demak, walau telah runtuh secara simbolik, tetap hidup di jalur darah. Pajang hanya menjadi panggung baru bagi ambisi Demak-Kudus menuntut balas dendam. Penobatan Pangiri menjadi Raja Pajang pun diiringi migrasi massal orang-orang Demak ke Pajang. Tanah rakyat Pajang dirampas sepertiganya untuk menampung pendatang Demak. Aparatur Demak dinaikkan pangkatnya. Pusaka Demak diboyong ke istana Pajang.
Namun penindasan ini melahirkan bara. Penduduk Pajang, yang kehilangan sawah, mulai meratap. Muncul kejahatan kecil. Sebagian orang melarikan diri ke Mataram, mendekat pada Senapati. Semua ini menumbuhkan benih aliansi pedalaman.

Benawa dan Mimpi Roh Sultan
Di Jipang, Benawa hidup dalam sunyi. Rasa jengkel merajam dada. Menurut Babad Tanah Djawi (95–96), sang pangeran kerap tidur beralaskan teriris, meratap di malam hari di bawah pohon. Pada suatu malam, ia bermimpi. Sang ayahanda Sultan Hadiwijaya datang dari alam gaib, memerintah: “Carilah bantuan pada Senapati.”
Mimpi ini bukan sekadar wangsit spiritual, melainkan simbol keputusasaan dan tanda restu leluhur. Benawa pun mengirim utusan ke Mataram. Senapati awalnya menolak. Ia menegaskan tidak mau mencampuri pertengkaran keluarga yang penuh duri. Namun Benawa, dalam jurang frustrasi, mengirim utusan kedua. Kali ini ia bertaruh nyawa: “Aku serahkan Kerajaan Pajang kepadamu. Jika Adipati Demak tetap berada di takhta, lebih baik aku mati.”
Tawaran itu mengguncang Senapati. Dalam batin, Senapati melihat kesempatan emas: legitimasinya atas Pajang bakal diabsahkan oleh pewaris sah. Ia pun menyusun strategi rahasia: Benawa harus menemuinya lewat Gunung Kidul, menghindari jalur Prambanan yang dijaga pasukan Demak.
Di Weru, sepotong bumi di Gunung Kidul, dua pewaris Pajang dan Mataram berangkulan di sebuah pondok kecil. Di situ mereka bersumpah, “Kita rebut kembali Pajang.”
Serangan Pajang dan Berkah Senjata Api
Serangan ke Pajang tercatat mendetail dalam Babad Tanah Djawi (Meinsma, 96–98). Ketika kabar menyerang tersebar, prajurit Pajang justru menyeberang ke pihak Benawa. Mereka jijik pada penghisapan Demak. Senapati dan Benawa pun merancang serangan dari dua arah: Benawa memimpin orang Pajang dari timur, Senapati bersama pasukan Mataram menggempur dari barat.
Yang menarik, tentara Adipati Demak didominasi orang pesisir, Bali, Bugis, dan Makassar, bahkan ada serdadu Cina peranakan. Para budak sewaan itu dijanjikan peluru emas dan perak. Namun di titik kritis, Senapati memanfaatkan celah: ia menjanjikan kebebasan bagi budak pesisir dan memecah loyalitas mereka.
Pertempuran pecah. Senapati, menunggang kuda emas Bratayuda, berdoa di tengah dentuman senapan. Dalam kosmologi Jawa, doa di tengah medan laga adalah bentuk penggabungan raga, dunia, dan gaib. Para makhluk halus dipercaya turut membantu. Pintu benteng Pajang didobrak Kiai Gedong, seorang mantri Pajang yang mendukung Mataram.
Ketika istri Adipati Demak tertangkap di gerbang pertama, ia menangis sambil mencium kaki Senapati. Adipati Demak pun ditangkap, diikat sutra, lalu diarak. Kejatuhan Demak di Pajang menandai rapuhnya hegemoni pesisir di hadapan konsolidasi kekuatan pedalaman.
Pusaka, Penobatan, dan Hilangnya Benawa
Pasca kemenangan, Benawa justru melakukan hal tak terduga. Ia menolak berkuasa penuh. Kepada Senapati, ia menawarkan seluruh Pajang. Namun Senapati menolak: “Aku hanya ingin Mataram. Adinda, tetaplah menjadi raja Pajang. Hanya, berikan padaku gong Kiai Sekar Delima, kendali Kiai Macan Guguh, pelana Kiai Jatayu, dan pusaka lainnya.”
Inilah puncak narasi pusaka Jawa: lebih berharga dari tanah, lebih keramat dari jabatan. Pusaka adalah simbol restu gaib dan mandat langit. Senapati paham benar: legitimasi Mataram tak lengkap tanpa pusaka Pajang. Penobatan pun dilaksanakan. Benawa duduk di kursi raja, Senapati di kursi emas di sampingnya. Para bupati disumpah menjadi saksi.
Namun kebesaran Benawa berumur singkat. Versi Babad Tanah Djawi menyebut ia wafat hanya setahun kemudian. Versi Serat Kandha lebih mistis: Benawa tak pernah benar-benar duduk di takhta. Ia pergi diam-diam ke sungai, hanyut ke Sidayu, lalu berjalan ke barat hingga Parakan (Kendal). Di Gua Gunung Kukulan, ia bertapa, berpuasa, menolak dunia. Ia menobatkan dirinya wali — Susuhunan Parakan — sebuah manifestasi spiritual bahwa takhta sejati adalah sunyi.
Senapati, sang saudara politik, dikisahkan menangis kehilangan Benawa. Namun pusaka tetap tinggal di Mataram, menjadi dasar legitimasi para penerus hingga Sultan Agung.
Baca Juga : Ramalan Zodiak 27 Agustus 2025: Capricorn Jangan Patah Semangat, Virgo Raih Kesempatan Baru
Dalam skema historiografi Jawa, peristiwa Benawa menandai momen langka, poros politik berpindah permanen dari pesisir ke pedalaman. Sejak era Demak, pesisir menjadi pusat, Giri, Kudus, dan Kalinyamat, semua berakar pada kekuatan maritim, berdagang dengan rempah, serta menampung pengaruh Islam ortodoks pesisir. Pajang, sebagai istana di pinggir Bengawan, menjadi titik transisi.
Tetapi intrik Benawa, kudeta Senapati, dan migrasi pusaka mengokohkan Mataram di pedalaman. Inilah penaklukan laten: pesisir ditaklukkan bukan dengan meriam, melainkan dengan mimpi, pusaka, dan restu gaib.

Selain itu, hilangnya Benawa ke Parakan mengukuhkan satu pola spiritual, raja yang gagal seringkali menepi menjadi wali. Di sinilah dendam sejarah, spiritualitas, dan simbolisme pusaka bertaut. Panembahan Senapati, yang licin memainkan nasib Benawa, merintis fondasi dinasti baru dengan mengunci pusaka lama sekaligus mewarisi dendamnya.
Hari ini, nama Benawa nyaris terkubur di sela-sela silsilah raja Jawa. Namun, ia tetap menjadi simpul sejarah: pengingat bahwa legitimasi tak selalu dipegang pewaris darah, tetapi siapa yang pandai merawat mimpi leluhur, membelah dendam, dan menggenggam pusaka.
Pajang lenyap. Demak tinggal nama. Kudus pun surut ke pinggir. Mataram mekar di pedalaman, menjemput abad ke-17 dengan benteng baru — di atas sunyi Benawa, pusaka Pajang, dan doa seorang Senapati di medan laga.
Keberadaan Benawa, meski nyaris terlupakan, meletakkan fondasi spiritual dan politik yang mengalir hingga generasi berikutnya. Dari sunyi pusaka Pajang dan doa Senapati di medan laga, benih-benih darah dan legitimasi itu menuntun pada sosok Sultan Agung, yang menyatukan warisan Senapati dan Benawa menjadi puncak kejayaan Mataram Islam.
Sultan Agung: Darah Kejayaan Senapati dan Benawa

Dalam panggung sejarah Jawa, nama Sultan Agung Hanyakrakusuma memancar sebagai puncak kejayaan Mataram Islam, sebuah rajutan nasab, wahyu, dan dendam sejarah yang menitis dari dua poros darah, Senapati pendiri Mataram dan Benawa, putra mahkota Pajang. Garis silsilah ini bukan sekadar urutan nama. Ia adalah sungai spiritual dan politik yang membasuh legitimasinya sebagai raja Jawa.
Segalanya berakar pada figur Jaka Tingkir, Mas Karebet, atau Sultan Hadiwijaya Hing Pajang. Terlahir sebagai putra Raden Kebo Kenanga, cucu Prabu Brawijaya V Majapahit, Jaka Tingkir sejak kecil terlempar ke pusaran konflik Demak-Pengging. Ditinggal wafat ayahnya di tangan keris Sunan Kudus, Karebet tumbuh di bawah asuhan Nyai Ageng Tingkir, membesarkan diri dalam ritual tapa brata dan pengembaraan spiritual. Sejarah mencatat, wahyu ratu jatuh padanya, sebagaimana tersurat dalam Babad Tanah Jawi: “cinarita Jumungah marêngi lingsir wêngi…”—tanda Jaka Tingkir ditakdirkan menjadi raja penurun raja-raja Jawa.
Melalui pernikahannya dengan Ratu Mas Cempaka, putri Sultan Trenggana Demak, benih Pajang semakin bertunas. Pangeran Benawa, putra bungsu Sultan Hadiwijaya, adalah simpul penting. Ketika ayahnya wafat pada 1582, Pajang jatuh ke tangan Arya Pangiri, menantu Sultan Hadiwijaya, menyingkirkan Benawa dari tahta sahnya. Dalam situasi inilah dendam politik merangkai poros perlawanan.
Di sisi lain, di tanah Mentaok, Danang Sutawijaya, putra Ki Ageng Pamanahan, memupuk wahyu kekuasaan yang bersemi di Kotagede. Ia adalah cucu spiritual Ki Ageng Selo, sosok mistik penangkap petir, yang diyakini menurunkan raja Jawa. Dari ayahnya, Sutawijaya mewarisi trah Brawijaya V melalui jalur Ki Ageng Getas Pandawa, Ki Ageng Selo, hingga Ki Ageng Pamanahan. Dari ibunya, Nyai Ageng Sabinah, tersambung pula ke Sunan Giri. Silsilah inilah yang kelak melahirkan Panembahan Senapati, pendiri Kerajaan Mataram Islam.
Takdir mempertemukan Sutawijaya dengan Sultan Hadiwijaya yang mengangkatnya sebagai anak, menempatkannya di utara pasar Pajang sebagai Raden Ngabehi Loring Pasar. Keberanian Sutawijaya dalam menumpas Arya Penangsang, pembunuh Pangeran Hadlirin suami Ratu Kalinyamat, menegaskan bakat kepemimpinan dan kemampuan militer yang akan diwariskan pada generasi berikutnya.
Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan pada 1575, Danang Sutawijaya tampil sebagai Senapati Ing Alaga. Keputusannya melepaskan Mataram dari Pajang pada 1587 menandai titik balik. Panembahan Senapati membangun Mataram dari pedalaman menjadi kekuatan penakluk, menundukkan Pajang, Demak, Madiun, Kediri, hingga Ponorogo. Babad menegaskan, “Wahyu Lintang Jauhari” jatuh padanya, legitimasi kosmis membenarkan ekspansi militernya.
Di sinilah benih dendam Benawa dan cita-cita Senapati berjalin. Pangeran Benawa, yang dijauhkan dari takhta Pajang, membangun aliansi dengan Panembahan Senapati untuk menumbangkan Arya Pangiri. Setelah Arya Pangiri tersingkir, Benawa sempat menduduki takhta Pajang, tetapi ajal menjemputnya dalam usia muda. Melalui Kanjeng Ratu Mas Hadi, putri Benawa yang dipersunting Panembahan Hanyakrawati—putra Panembahan Senapati—jalur darah Pajang berpadu dengan trah Mataram. Dari rahim Ratu Mas Hadi lahirlah Sultan Agung, cucu Panembahan Senapati sekaligus cucu Pangeran Benawa.
Kronologi ini menegaskan bahwa Sultan Agung bukan sekadar pewaris satu jalur darah. Ia adalah simpul sah nasab Pajang (Benawa) sekaligus penanggung wahyu Panatagama dari Senapati. Kekuatan ideologi spiritual membalut klaim politiknya: memadukan warisan Majapahit–Demak–Pajang–Mataram dalam satu denyut kekuasaan. Dendam sejarah Benawa atas pengkhianatan Arya Pangiri tertebus melalui kebesaran cucunya, Sultan Agung, yang di masa pemerintahannya (1613–1645) membawa Mataram ke puncak hegemoni, menundukkan pesisir, mengepung Batavia demi mengusir VOC (meski gagal total), serta menata hukum Jawa dengan Sastra Gending.
Sejarah mencatat Sultan Agung bukan sekadar raja dengan bala tentara. Ia adalah pembawa visi, menegakkan panatagama, menertibkan keyakinan rakyat, dan memadukan desa-desa perdikan ke dalam jantung Mataram. Segala legitimasi wahyu yang dahulu membasuh Jaka Tingkir, dendam Benawa yang membara, dan cita Panembahan Senapati mendirikan “Negara Agung” menitis sempurna pada Sultan Agung. Di bawah panji keris, wahyu, dan mantra penaklukan, darah kejayaan itu mengalir deras, menjadi warisan politik Jawa yang bergema hingga keruntuhan Mataram berabad kemudian.
Warisan politik dan spiritual yang mengalir deras pada Sultan Agung sejatinya berakar dari dua poros darah: garis Senapati yang menaklukkan pedalaman dan Benawa yang membawa legitimasi Pajang. Dari persilangan inilah kisah Mataram Islam mencapai puncak kejayaannya, menjadikan darah Benawa tidak sekadar sejarah, tetapi fondasi hidup kerajaan yang mengikat pesisir dan pedalaman.
Di tengah kemegahan itu muncul sosok nyaris hilang dari catatan resmi, namun memegang peran penting dalam alur sejarah kerajaan: Pangeran Benawa II, pewaris Jaka Tingkir, yang meniti jalan antara kejayaan dan pengasingan.
Pangeran Benawa II: Pewaris Jaka Tingkir yang Tersingkir oleh Sejarah
Di persimpangan antara runtuhnya Majapahit dan bangkitnya Mataram, Pangeran Benawa II muncul sebagai sosok aristokrat berdarah raja yang nyaris terlupakan. Cicit Prabu Brawijaya V dan cucu Sultan Hadiwijaya, Benawa II mengalirkan darah Majapahit, Demak, dan Walisongo, simpul spiritual dan politik yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan Jawa.

Setelah ayahnya, Benawa I, menapaki takhta Pajang, Benawa II diangkat menjadi Adipati Jipang Panolan pada 1586, membangun basis kekuasaan di tepi Bengawan Solo dan mendirikan kompleks Pulo Santren Panolan sebagai pusat pembinaan elite alim. Pada 1591, ia dipindahkan ke Pajang, menggantikan Pangeran Gagak Baning, dan memerintah sebagai kadipaten semi-otonom hingga 1618. Ia bukan raja, namun kekuasaannya melebihi adipati biasa, tercatat dalam manuskrip lokal seperti Babad Pajang Kajoran dengan gelar Prabu Wijaya hingga Tumenggung Benowo.
Awal abad ke-17 menandai konsolidasi Mataram. Panembahan Senapati dan penerusnya menundukkan Pajang, pusat ideologi Islam politik. Benawa II berada di posisi kompleks, keponakan Sultan Agung sekaligus pewaris identitas mandiri trah Pajang. Ketegangan memuncak pada 1617 ketika banyak bangsawan mendorongnya melepaskan Pajang dari hegemoninya. Ia mengangkat senjata, tetapi pasukannya kalah. Insiden simbolik, penolakan Tambakbaya menyerahkan kudanya, memicu pertempuran yang menjerumuskan Pajang ke kehancuran, sementara Benawa II melarikan diri melalui Bengawan Solo.
Setelah kekalahan, ia menyepi ke Giri, pusat spiritual Walisongo, dan kemudian kemungkinan Surabaya, menempuh laku spiritual sebagai raja tanpa mahkota. Benawa II nyaris tidak disebut dalam babad utama; sejarah memilih diam. Namun di tingkat lokal, nama dan doa untuknya tetap hidup. Ia menjadi simbol aristokrasi spiritual yang menolak tunduk pada kekuasaan represif.
Benawa II bukan sekadar tokoh yang kalah; ia representasi darah, doa, dan pusaka yang menolak dilupakan. Sejarah mungkin senyap, tetapi ingatan rakyat menegaskan bahwa pewaris Jaka Tingkir itu, meski tersingkir, tetap hadir dalam denyut zaman Jawa.
