JATIMTIMES - Sejarah Kartasura pada awal abad ke-18 merupakan kisah tentang dendam, pencarian legitimasi, dan upaya menegakkan keadilan di tengah retaknya takhta Jawa. Nama Pangeran Arya Blitar, atau Sultan Ibnu Mustafa Pakubuwana sebagaimana disebut dalam sumber babad, muncul dari kegelapan istana yang dipenuhi intrik, pengkhianatan, dan permainan senjata yang akhirnya menyeret Kartasura ke ambang kehancuran.
Bersama Pangeran Purbaya, saudaranya yang tak kalah garang, Pangeran Arya Blitar menorehkan babak pemberontakan besar yang tidak hanya menggerakkan pasukan desa, lurah-lurah bawahan, dan kyai-kyai pedalaman, tetapi juga mengguncang posisi Amangkurat IV, sang raja muda Kartasura.
Baca Juga : 19 Film dan Serial Tayang di Netflix Agustus 2025, Ada Wednesday Season 2
Isyarat zaman menyiratkan bahwa penobatan raja di Kartasura bukan lagi sekadar soal garis keturunan, melainkan pelunasan dendam lama yang menuntut tumbal darah baru.
Latar: Intrik Takhta dan Pusaka Legitimasi
Sejak wafatnya Pakubuwana I pada tahun 1719, bayang-bayang perpecahan mulai merambat ke setiap sudut keraton. Raden Mas Suryaputra, putra mahkota yang naik takhta dengan gelar Amangkurat IV, duduk di atas kursi emas yang dibasahi air mata para adiknya yang merasa dikhianati. Pangeran Arya Blitar dan Pangeran Purbaya, dua di antara para pangeran muda itu, memandang diri mereka sebagai pewaris sah darah Mataram yang lebih layak menguasai Kartasura.
Di balik itu, ada dukungan para elite agama dan spiritualis keraton, para kyai terpandang yang muak pada dominasi kompeni Belanda (VOC) di sekitar istana. Kartasura kala itu nyaris menjadi loji besar, di mana meriam, senapan lontak, dan pasukan sabrang (Makasar, Bugis, Ambon) menjaga raja lebih erat ketimbang kawula sendiri.
Dalam pusaka ideologi Jawa, seorang raja bukan hanya pemangku hukum dunia, melainkan juga sinar ilahiah. Maka, ketika raja kehilangan kepercayaan rakyat, takhta pun dinodai. Di sinilah Pangeran Arya Blitar, Pangeran Purbaya, dan para pengikutnya membentuk barisan pemberontakan.
Malam Penyerbuan: Garwakanda dan Prajurit Gendara
Sumber Babad Kartasura menyingkap detail gerakan pasukan Blitaran. Nama-nama seperti Ki Garwakanda, Ki Patih Secadikara, Jaladara, Banendra Sudira, hingga barisan prajurit andalan seperti Katepa dan Nirada, semua bergerak dari desa ke desa, membawa kobaran nyali rakyat pedalaman.
Ki Garwakanda, sosok karismatik yang berperan sebagai patih lapangan, memimpin langsung penyerbuan ke jantung Kartasura. Kisahnya penuh dengan drama yang memilukan. Ketika benteng keraton runtuh, ia menghancurkan pintu penjara untuk membebaskan Ragum, putranya, yang dijadikan sandera oleh Amangkurat IV. Seruannya yang menggema, "Hai Ragum, buah hatiku! Ayah tak menyangka kau masih hidup," menjadi lambang dendam pribadi yang membakar semangat seluruh pasukan.
Sementara itu, para prajurit Kablitaran memasuki loji, menembaki pasukan kemit istana. Mantri gedong panik, seisi istana hiruk-pikuk. Sumber menuturkan: “Hah, Kartasura runtuh! Kartasura menyerah! Akan kuboyong badaya-badaya Kartasura, akan kumiliki harta yang berharga!” Ini bukan sekadar penjarahan; inilah cara mengembalikan harga diri yang dicabut pelan-pelan oleh dominasi kompeni.

Pertempuran Pamengkang: Meriam dan Duka
Saat pasukan Kablitaran menembus benteng Kartasura, pasukan kompeni Belanda segera bereaksi. Dari arah Pamengkang, meriam gurnat dan gurnada menyalak tanpa henti. Peluru-peluru menembus dada Ki Secadirana, menghancurkan Panji Tohpati, membabat Labasa yang gagah berani.
Serangan balasan begitu rapat, mengakibatkan barisan Kablitaran terpecah. Di sinilah Pangeran Arya Blitar sadar bahwa kekuatan senjata kompeni melampaui nyali rakyatnya. Tangisan para prajurit pedalaman terdengar di antara dentuman mesiu. Sebagaimana tertulis: “Duhai Pangeran sesembahanku, kita telah banyak mengalami kekalahan, apakah barisan yang tersisa tidak ditarik mundur saja?”
Atas nasihat tersebut, Pangeran Arya Blitar memerintahkan pasukannya untuk mundur ke Kapurbayan, tempat yang menjadi pusat spiritual sekaligus benteng moral. Di sanalah Kangjeng Ratu Ageng menanti dengan mata basah. “Duhai Sri Bupati,” ratapnya, “lebih baik aku ikut mati saja.”
Kapurbayan: Kelahiran Raja Baru
Di Kapurbayan, drama penobatan lahir dari reruntuhan Kartasura. Pangeran Arya Blitar bertemu Pangeran Purbaya. Dengan sedu sedan, Purbaya merangkul adiknya. Sumber Babad Kartasura merekam kata-kata Purbaya yang menggetarkan: “Sudahlah, adimas. Jangan menangis. Kanda bersedia membantumu. Prajurit Kartasura tinggal sedikit. Siapkan barisan, kita bangun kerajaan baru.”
Pada Senin pagi, rakyat, para ulama, dan para kyai berkumpul di balai penghadapan Nagari Kartasari, nama baru bagi tanah Kartawinatan. Dengan suara lantang, Pangeran Purbaya menobatkan Pangeran Blitar sebagai raja bergelar Sultan Ibnu Mustafa Pakubuwana ing Alaga Senapati Abdulrahman Sayidin Panatagama. Gelar ini menegaskan bahwa legitimasi spiritual tetap menjadi pilar utama takhta Jawa. Doa dari Kyai Wanagiri menggenapkan prosesi penobatan.
Para pengikut pun menerima gelar baru. Garwakanda diangkat sebagai Tumenggung Jayabadra, Wangsadirya menjadi Tumenggung Wiranagara, dan Pangeran Arya dianugerahi gelar Pangeran Adipati Anom.
Sumber lain mencatat bahwa kerajaan baru itu bernama Kartasekar. Arya Blitar mendirikan kerajaan penerus Mataram ini di bekas keraton Karta, istana peninggalan Sultan Agung yang telah lama ditinggalkan.
Kartasari menjadi simbol: raja baru terlahir di pinggir runtuhnya raja lama.

Jaringan Kekuasaan: Dari Banyumas hingga Mataram
Tak cukup hanya bertahan di Kartasari, pasukan Kapurbayan dan Kablitaran merencanakan perluasan pengaruh. Tumenggung Martasura ditugaskan menaklukkan Kedu, Toyamas (Banyumas), dan Wanakarta. Dalam perjalanan berdarah, daerah-daerah itu jatuh. Pamreden, Bandar, Sigaluh tunduk setelah pertempuran sengit. Banyumas takluk, Tumenggung Banyumas melarikan diri ke Tegal.
Jaringan perlawanan meluas ke Pajang, Dersanan, dan Gunung Merapi. Para mantri Kartasura pun satu per satu menyerah kepada kerajaan baru. Rakyat Kartasura berbondong-bondong menyeberang ke Kartasari, meninggalkan Amangkurat IV yang bersembunyi di bawah meriam kompeni.
Intrik Belanda: Diplomasi, Senjata, dan Penjajahan
Amangkurat IV, putra Pakubuwana I, tak mau tinggal diam. Ia memanggil pasukan kompeni dari Surabaya, mengutus permohonan kepada Tumenggung Cakrajaya dan Tuan Amral. Kapten Besi memimpin satu bregada ke Kartasura, sementara pasukan sabrang Makasar, Bugis, Ambon, Sumbawa menjaga sitinggil keraton.
Dalam dewan Surabaya, Tumenggung Cakrajaya menitikkan air mata. Ia paham, Kartasura pecah bukan hanya karena rebutan takhta, tetapi karena kehilangan kesaktian moralnya: “Bahwasanya Kartasura akan pecah, sudah menjadi takdir Ilahi,” katanya pada para adipati. Sejak saat itu, Kartasura menjadi panggung diplomasi VOC—kapan pun raja tak taat, mereka selalu punya ‘pangeran cadangan’ untuk dinaikkan.

Akhir Pangeran Blitar: Senja di Mataram
Baca Juga : Lewat Kirab KP3, Wali Kota Blitar Ajak Pramuka Tanamkan Semangat Bhinneka Tunggal Ika
Perang Takhta Jawa Kedua, begitu catatan Belanda menamai episode ini, membentang antara 1719–1723. Penobatan Pangeran Arya Blitar menjadi raja baru hanya bertahan sekejap di tengah hujan mesiu dan hasutan kompeni. Pangeran Arya Mataram yang sempat mendukung, akhirnya menyerah. Pangeran Arya Blitar gugur pada 1721 di Lumajang, dalam kepungan pasukan gabungan VOC dan loyalis Kartasura.
Pada bulan Mei dan Juni tahun 1723, sisa-sisa pemberontak seperti Surengrana, Pangeran Purbaya, dan Pangeran Arya Dipanagara akhirnya menyerah. Sebagian dari mereka diasingkan ke Sri Lanka. Pangeran Purbaya, yang masih dianggap memiliki legitimasi darah keturunan yang suci, dibawa ke Batavia. Ia disimpan oleh VOC sebagai kartu andalan jika sewaktu-waktu Amangkurat IV menunjukkan tanda-tanda pembangkangan.
Kisah Pangeran Arya Blitar adalah fragmen dari pusaka dendam dan harapan rakyat Jawa. Gerakannya memperlihatkan bahwa spiritualitas, pusaka ideologi, dan nyanyian para kyai masih menjadi mesin penggerak perlawanan. Namun di hadapan meriam gurnat VOC, bambu runcing rakyat pedalaman kalah.
Runtuhnya Kartasura bukan sekadar jatuhnya dinding batu, melainkan jatuhnya kepercayaan rakyat pada raja yang lebih patuh pada kompeni ketimbang kawula. Dari puing itulah lahir Mataram Kartasari, raja bayangan yang tak pernah betul-betul bertakhta. Kartasura pun mewariskan ironi: di bumi Jawa, takhta bisa direbut, tetapi legitimasi rakyat tak bisa dibeli dengan senapan.
Setelah Pangeran Arya Blitar, nyala api perlawanan tetap menyala. Di kemudian hari, Pangeran Mangkubumi, Raden Mas Said, hingga Diponegoro menyalakan lagi pusaka perlawanan, merangkai dendam para pangeran yang pernah menjerit di Kapurbayan. Pangeran Arya Blitar, meski dikalahkan peluru VOC, namanya hidup sebagai simbol bahwa di setiap reruntuhan istana, selalu ada nyanyian Durma yang tak pernah padam.
Keraton dari Luka: Purbaya, Arya Blitar, dan Awal Mula Mangkunegaran
Pangeran Arya Blitar, yang lahir dengan nama Raden Mas Sudomo, adalah putra Pakubuwana I dan Ratu Mas Blitar, seorang bangsawan Madiun yang merupakan keturunan Retno Dumilah. Ia bukan sekadar pejabat kerajaan, melainkan simpul dari dua garis agung: trah Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa, dan garis Madiun yang sejak masa Pajang dikenal sebagai wilayah oposisi.
Gelar "Arya Blitar" merupakan milik trah Mataram–Madiun, yang mencerminkan garis genealogi kekuasaan dari Panembahan Juminah, putra Panembahan Senapati dan Retno Dumilah. Artinya, tokoh-tokoh bergelar Arya Blitar dalam trah ini bukanlah Bupati Blitar, melainkan Bupati Madiun, termasuk Ratu Mas Blitar, ibu dari Raden Mas Sudomo.
Ketika Arya Pulangjiwa, pemegang gelar sebelumnya, dihukum karena simpati terhadap Amangkurat III, Pakubuwana I menempatkan Arya Blitar sebagai pengganti. Namun penunjukan ini menyimpan kontradiksi: Blitar dijadikan alat konsolidasi pusat, tapi juga diberi misi militer yang menempatkannya di garis depan represi. Dalam Perang Suksesi Jawa I (1704 hingga 1708), ia memimpin operasi militer di Lumajang dan Pasuruan, wilayah strategis yang sebelumnya menjadi basis kekuatan Amangkurat III. Keberhasilan ini justru mengukuhkan posisi Arya Blitar sebagai figur kunci yang menjembatani legitimasi kekuasaan pusat dengan kendali atas daerah-daerah rawan pembelotan.
Namun perlu dicatat, nama Arya Blitar kerap menimbulkan kebingungan karena merujuk pada dua tokoh berbeda. Selain Raden Mas Sudomo yang bergelar Pangeran Arya Blitar pada masa pemerintahan Pakubuwana I, terdapat pula sosok lain bernama Arya Balitar. Ia adalah seorang adipati Blitar pada masa Kesultanan Demak sekitar abad kelima belas. Tokoh ini berasal dari trah bangsawan istimewa, sebagai putra Raden Kusen, Adipati Terung, yang juga merupakan saudara dari Raden Patah, raja pertama Kesultanan Demak. Dengan silsilah tersebut, Arya Balitar termasuk dalam keluarga inti Kesultanan Demak dan turut berperan dalam pembentukan kekuasaan Islam di wilayah timur Pulau Jawa.
Wafatnya Pakubuwana I pada 1719 menjadi titik balik. Amangkurat IV naik takhta bukan karena musyawarah, melainkan hasil intervensi Kompeni. Arya Blitar kehilangan sejumlah apanage penting seperti Blora dan Jagaraga, simbol kontrol politiknya di wilayah timur. Penghapusan wilayah ini bukan tindakan administratif, melainkan strategi politis untuk memotong akses Arya Blitar terhadap basis kekuatan sosialnya.
Maka Arya Blitar pun menarik diri ke Kartasekar, sebuah wilayah peninggalan Sultan Agung yang sarat makna spiritual. Di tempat itulah ia mendirikan pemerintahan tandingan dan memproklamasikan diri sebagai Sultan Ibnu Mustafa Pakubuwana. Ia membentuk koalisi perlawanan bersama Arya Dipanagara dan para ulama pesantren. Penobatan ini, meskipun bersifat lokal, merupakan bentuk penolakan terhadap otoritas yang disokong oleh kekuatan bayonet VOC. Ungkapan "takhta tidak lahir dari senjata Kompeni, melainkan dari darah raja" menjadi mantra yang diam-diam hidup di lingkaran Kartasekar.
Namun kekuatan spiritual dan politik ini tidak seimbang menghadapi tekanan militer. Serangan VOC-Kartasura pada 1720–1721 menghancurkan Kartasekar. Arya Blitar terluka dan wafat dalam pelarian di Lumajang, tanah yang sebelumnya ia taklukkan untuk Pakubuwana I. Ironi sejarah itu menegaskan bahwa loyalitas istana bisa berubah menjadi pemberontakan ketika kekuasaan beralih dari wahyu menjadi keputusan kolonial.
Jika Arya Blitar adalah manifestasi militeristik aristokrasi, maka Pangeran Purbaya mewakili spiritualitas yang dikhianati. Saudara seayah Arya Blitar, Purbaya turut menolak legitimasi Amangkurat IV. Bersama-sama, mereka menghimpun kekuatan di Soca, Kedu, hingga Marbung. Namun di tengah kepungan militer, suara-suara dari putut dan ahli tapa menyusup ke barisan: “Perlawanan ini akan runtuh, tapi kelak cucunda Purbaya akan menegakkan takhta baru.” Nubuat ini merasuki medan laga, menggerogoti semangat prajurit yang mulai percaya bahwa garis sejarah telah ditentukan.
Tahun 1721, Arya Blitar gugur. Dua tahun kemudian, Purbaya menyerah. Sebagian kerabat dibuang ke Batavia dan Sri Lanka. Namun ramalan tetap hidup, menyebar dari pesantren ke pasar, dari para pengungsi ke istana yang berkuasa. Di tengah kehancuran, memori darah tetap menyala.

Dari pernikahan Pangeran Arya Blitar dengan Raden Ayu Brebes lahirlah Raden Ayu Wulan. Ia kemudian menikah dengan Pangeran Arya Mangkunegara, putra Amangkurat IV. Dari garis keturunan inilah lahir Raden Mas Said, yang kelak dikenal sebagai Pangeran Sambernyawa. Ia merupakan cucu dari dua pilar utama perlawanan, yaitu Arya Blitar dan Purbaya. Dalam dunia yang telah dikuasai Kompeni, Sambernyawa tumbuh dengan memilih jalannya sendiri.
Selama 16 tahun, Sambernyawa berperang melawan VOC dan Kartasura, dari Segawe hingga Panambangan. Ia tidak mengakui Giyanti, dan baru berdamai dalam Perjanjian Salatiga 1757, ketika Kadipaten Mangkunegaran resmi diakui. Ngadipala, yang dahulu hanya fragmen nubuat, menjadi nyata di Kadipolo. Keraton itu bukan hadiah politik, melainkan kristalisasi dari dendam dan doa yang bertahan seabad.
Pakubuwana III adalah putra dari Pakubuwana II dan Raden Ajeng Suwiyah, putri dari Purbaya. Ia menjadi wujud lain dari ramalan lama. Meski naik takhta di bawah bayang-bayang kekuasaan VOC, darahnya membawa legitimasi spiritual dari garis keturunan yang pernah dikalahkan. Dalam sosoknya dan dalam diri Mangkunegara I, cucu-cucu perlawanan itu menjelma menjadi dua sisi dari takhta yang lahir dari luka sejarah.
Dalam historiografi resmi VOC dan istana, nama Blitar dan Purbaya nyaris tak disebut. Tapi dalam babad rakyat dan manuskrip pesantren, mereka tetap hidup. Kartasekar hancur, Purbaya dibuang, tapi darah mereka menubuatkan kemenangan masa depan.
