Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Ruang Sastra

Giri Menobatkan Trunajaya Jadi Raja Jawa: Lahirnya Panembahan Maduretna

Penulis : Aunur Rofiq - Editor : Nurlayla Ratri

21 - Jun - 2025, 10:36

Placeholder
Lukisan cat minyak bergaya realis menggambarkan dua tokoh legendaris abad ke-17: Raden Trunajaya dari Madura (kiri) dan Karaeng Galesong dari Sulawesi (kanan). (Foto: AI oleh JatimTIMES)

JATIMTIMES - Dalam pusaran sejarah Jawa abad ke-17, pemberontakan Raden Trunajaya tidak dapat semata-mata dipahami sebagai reaksi lokal terhadap dominasi Mataram atau Kompeni Belanda. Ia adalah momen kulminasi dari kekuatan-kekuatan spiritual, militer, dan sosial yang terselubung dalam jaringan lama, salah satunya adalah otoritas religius Giri yang selama puluhan tahun tampak senyap setelah dihancurkan oleh Sultan Agung pada 1636. 

Namun justru pada masa genting ini, Giri muncul kembali, bukan sebagai kerajaan, tetapi sebagai pusat legitimasi simbolik dan spiritual. Di sanalah, dalam kekacauan, lahir sosok yang menamakan dirinya Panembahan Maduretna—Trunajaya.

Baca Juga : Sinopsis KPop Demon Hunters, Rekomendasi Tontonan Akhir Pekan yang Tidak Biasa

Awal mula kebangkitan ini dapat ditelusuri pada pelarian besar-besaran pasukan Makassar yang tersisa di Panarukan pada awal Juli 1676. Laporan Daghregister tanggal 20 Juli menyebut bahwa pasukan Makassar meninggalkan garis pertahanan darat mereka, menelusuri pesisir timur Jawa dan membakar kapal-kapal mereka sendiri. Sekitar 25 orang prajurit terampil ikut dalam pelarian. Kemana arah mereka?

Satu bulan kemudian, pada 8 Agustus 1676, Couper mencatat bahwa rombongan ini telah tiba di Sampang, Madura, dan bergabung dengan Raden Trunajaya. Mereka tidak datang sebagai pengungsi, tetapi sebagai kekuatan tambahan yang mulai menjarah kapal-kapal yang melintasi selat Madura. Dalam Daghregister tanggal 13 Agustus 1676, mereka disebut telah menyatu dengan kekuatan Trunajaya dan siap mengembangkan serangan ke arah pesisir utara Jawa.

Tokoh sentral di balik pelarian ini adalah Karaeng Galesong. Dalam laporan tertanggal 29 September 1676, Galesong tercatat menyelinap melalui blokade VOC dengan 80 kapal, menuju Madura. Laporan dari Batavia pada 4 Oktober 1676 menguatkan: kapal-kapal Belanda tak mampu menghadang laju armada Galesong menuju basis Trunajaya. Sejak itu, nama Galesong tidak lagi muncul dalam daftar pasukan Makassar di Jawa. Artinya, ia telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kekuatan Trunajaya.

Namun persekutuan ini lebih dari sekadar taktis-militer. Ia merupakan proses pendirian pemerintahan alternatif yang didasarkan pada pengakuan simbolik dan spiritual. Laporan Daghregister tanggal 29 September 1676 mencatat untuk pertama kalinya gelar "Panembahan Maduretna" digunakan oleh Trunajaya. Dalam suratnya yang diterima di Batavia tanggal 7 November 1676, Trunajaya bahkan menyebut dirinya sebagai "Raja Maduretna".

Dalam waktu yang berdekatan, Karaeng Galesong pun mulai memakai gelar "Adipati", bahkan "Adipati Anom" (Laporan Umum 15 Agustus 1677, K.A. No. 1218, hlm. 1789). Transformasi simbolik ini tidak mungkin dilepaskan dari pengaruh seorang tokoh spiritual yang muncul di pegunungan belakang Gresik: Pangeran Mas Giri.

Pangeran Mas Giri, seorang ulama kharismatik, dipuja sebagai wali dan diramalkan akan membawa perubahan besar. Laporan Poleman menyebut bahwa ia menyebarkan ramalan runtuhnya Mataram selama Belanda masih bercokol di tanah Jawa. Desas-desus ini bukan sekadar ujaran spiritual, melainkan alat propaganda efektif yang memperkuat legitimasi pemberontakan Trunajaya. Ulama ini, sebagaimana kakek dan ayahnya, memiliki sejarah menobatkan para raja sejak masa Demak. Tradisi ini, yang dianggap telah punah sejak kekalahan Giri oleh Sultan Agung, kini menunjukkan tanda kebangkitan.

Oleh sebab itu, besar kemungkinan bahwa gelar "Panembahan Maduretna" yang diadopsi Trunajaya adalah hasil penobatan atau setidaknya restu spiritual dari Pangeran Mas Giri. Poleman menegaskan bahwa gelar ini muncul bersamaan dengan kegiatan intens tokoh Giri, yang dalam tahun-tahun terakhir hidupnya memainkan kembali peran sebagai penobat raja. Bahkan dalam wacana politik elite saat itu, Giri dianggap sebagai satu-satunya sumber sah untuk mengangkat pemimpin di luar legitimasi istana.

Yang menjadikan Trunajaya lebih dari sekadar pemberontak adalah keberhasilannya menggalang aliansi: bangsawan Madura, armada Makassar, dan otoritas spiritual Giri. Ini bukan koalisi dadakan, melainkan bentuk front revolusioner dengan kekuatan penuh: militer, keagamaan, dan legitimasi historis. Tak heran, begitu ia menyandang gelar Panembahan Maduretna, pengaruhnya meluas cepat di Jawa. Banyak bangsawan memujanya, rakyat mengharap padanya, bahkan sebagian kerabat Mataram bersikap ambigu.

Sementara itu, aktivitas militer terus meningkat. Pasukan Makassar yang kini berada di bawah koordinasi Trunajaya–Galesong menjadi sangat aktif di laut Jawa. Daghregister menyebut, setidaknya 21 perahu dirampas di selat Madura tanpa pembunuhan, hanya pelucutan senjata. Ini bukan pembajakan brutal, melainkan unjuk kekuasaan yang terkontrol. Mereka bahkan mengumumkan akan mendarat di kota-kota pesisir dari Pasuruan hingga Semarang.

Dalam laporan Couper tertanggal 13 Agustus 1676 dari Jepara, direncanakan bahwa pada 12 Jumadilakir (23 Agustus 1676), mereka akan menyerang secara besar-besaran. Jepara dan Semarang berada dalam ancaman nyata. Mataram dilanda kekacauan.

Namun di balik itu, terdapat satu elemen krusial: hubungan antara Trunajaya dan Pangeran Adipati Anom, putra mahkota Mataram. Adipati Anom dikenal berpihak pada Kompeni, sebagaimana Sunan Amangkurat I. Namun beberapa rumor menyebutkan bahwa ia memiliki agenda terselubung dan komunikasi rahasia dengan Trunajaya. Jika benar, maka gelar Panembahan yang diambil Trunajaya bisa dibaca sebagai langkah untuk mengambil alih kekuasaan sepenuhnya, bukan hanya pemberontakan.

Dengan demikian, pemberontakan Trunajaya tidak dapat dilepaskan dari konteks legitimasi yang bersifat simbolik dan spiritual. Giri, yang tampaknya telah hilang dari politik Jawa, justru kembali sebagai sumber kekuasaan alternatif. Ia menantang hegemoni keraton dan kolonialisme, dan menawarkan jalan spiritual-politik bagi kebangkitan Islam pesisir.

Trunajaya, yang menyebut dirinya Panembahan Maduretna, tidak hanya menyatakan perang terhadap Mataram, tetapi juga membangun narasi baru bahwa kepemimpinan sejati di Jawa harus kembali pada jalur walisantri, bukan pada istana yang telah tunduk pada kekuasaan asing.

Kisah ini memperlihatkan bahwa kekuasaan di Jawa bukan hanya ditentukan oleh kekuatan militer atau kehendak pusat, melainkan juga oleh jaringan simbolik dan spiritual yang bekerja di balik layar. Giri, Trunajaya, dan Kraeng Galesong menjadi tiga poros perubahan yang mengoyak stabilitas lama dan membuka babak baru dalam sejarah politik Jawa abad ke-17.

Dan di balik semua itu, sejarah mencatat, gelar "Panembahan Maduretna" bukan sekadar nama. Ia adalah pengakuan atas kebangkitan kembali sebuah cita-cita: bahwa di tanah Jawa, raja sejati ditentukan bukan hanya oleh garis darah atau kekuatan senjata, tetapi oleh suara para wali dan restu langit yang bergema dari puncak-puncak Giri.

Pangeran Mas Giri Menobatkan Raja: Ulama di Balik Tahta Trunajaya

Dalam gemuruh sejarah peralihan kekuasaan Jawa pada akhir abad ke-17, muncul satu sosok yang nyaris tak tercatat dalam narasi-narasi besar kolonial maupun babad keraton, namun memiliki pengaruh tak terduga dalam dinamika kekuasaan: Pangeran Mas Giri. Ia bukan raja dalam pengertian politik dinasti, melainkan ulama karismatik dari Giri Kedaton, pewaris legitimasi spiritual dari Sunan Giri yang berperan penting menobatkan para raja sejak abad ke-15. Peran tokoh ini dalam penobatan Raden Trunajaya sebagai "Panembahan Maduretna" menandai kebangkitan ulang Giri sebagai pusat otoritas keagamaan dan simbol perlawanan terhadap dominasi Mataram yang mulai condong ke arah Kompeni.

Laporan Poleman dalam Daghregister (29 September 1676) mencatat penggunaan gelar baru oleh Trunajaya: Panembahan Maduretna. Ini bukan sekadar perubahan nama, melainkan transformasi posisi: dari bangsawan pemberontak menjadi pemimpin spiritual dan politik. Dalam surat kepada Batavia tanggal 7 November 1676, Trunajaya menandatangani sebagai Raja Maduretna, menegaskan ambisinya untuk menjadi penguasa sah. Kemunculan gelar ini hampir bersamaan dengan kedatangan Kraeng Galesong, panglima Makassar yang membawa 80 kapal dan kekuatan bersenjata besar, ke Madura. Namun kekuatan militer semata tidak cukup. Trunajaya membutuhkan legitimasi spiritual agar dapat diterima luas oleh rakyat Jawa, dan di sinilah Pangeran Mas Giri memainkan peran krusial.

Sumber Belanda menggambarkan Pangeran Mas Giri sebagai seorang kiai yang tinggal di pegunungan belakang Gresik, dihormati sebagai orang suci, bahkan dianggap seperti dewa oleh para pengikutnya. Ia adalah bagian dari dinasti Giri Kedaton, kemungkinan besar adalah Pangeran Mas Witono (berkuasa 1660–1680), keturunan langsung Sunan Giri. Meski Giri secara militer dihancurkan oleh Sultan Agung pada 1636, jaringan spiritual dan karismatiknya tetap hidup. Sebagai ulama, Pangeran Mas Giri tak memimpin pasukan, tetapi memengaruhi arah sejarah lewat fatwa, simbol, dan legitimasi. Ia menyebarkan ramalan bahwa Kerajaan Mataram akan runtuh karena bekerja sama dengan Belanda, dan ramalan itu tersebar luas, dipercayai rakyat, dan menyulut perlawanan.

Karena itu, seperti ditulis Poleman, besar kemungkinan gelar "Panembahan Maduretna" diberikan oleh Pangeran Mas Giri. Bukan hal baru bagi Giri: sebelumnya, kakek dan ayahnya juga telah menobatkan penguasa besar seperti Hadiwijaya di Pajang dan Panembahan Senapati di Mataram. Legitimasi Giri bukan hanya simbolik, tapi telah menjadi tradisi yang mengakar. Dalam konteks Jawa, kekuasaan tanpa restu spiritual kerap dianggap cacat. Maka ketika Trunajaya memperoleh pengakuan dari Giri, para bangsawan dan rakyat pesisir Jawa Timur memandangnya sebagai pemimpin sah. Bahkan banyak pembesar Jawa memujanya, meski ia sendiri kerap berpura-pura merendah, mengeluh tentang rusaknya pemerintahan Mataram.

Sementara itu, di sisi militer, kekuatan Makassar yang dibawa Galesong semakin merajalela. Mereka merampas 21 kapal di Selat Madura tanpa membunuh, hanya melucuti senjata dan membebaskan awaknya. Tindakan ini memperlihatkan kebijakan taktis dan propaganda terselubung: menampilkan diri sebagai pembebas, bukan penjajah. Dalam laporan Couper dari Jepara (13 Agustus 1676), disebutkan bahwa pada 23 Agustus 1676 (12 Jumadilakir), mereka berencana mendarat di Semarang dan melanjutkan ke Mataram.

Baca Juga : Peta Ruhani Jawa: Empat Puluh Sahabat, Ki Ageng Pengging, dan Warisan Sufistik Tanpa Mahkota

Giri Kedaton sendiri merupakan entitas politik dan keagamaan unik dalam sejarah Jawa. Didirikan oleh Sunan Giri (1487–1506), dilanjutkan oleh Sunan Dalem dan Sunan Prapen, Giri menjadi pusat legitimasi Islam yang dihormati bahkan oleh Majapahit di masa akhir. Pada abad ke-16 dan awal ke-17, Giri menobatkan raja tanpa pertumpahan darah. Setelah penaklukan Sultan Agung, otoritas fisik Giri memang lemah, tetapi aura karismatiknya tidak lenyap. Justru saat Mataram tunduk pada Kompeni, Giri muncul kembali sebagai simbol perlawanan dan alternatif moral.

Keterlibatan Pangeran Mas Giri dalam koalisi Trunajaya-Galesong menunjukkan bahwa ulama masih memainkan peran kunci dalam konflik politik. Giri tidak pernah memiliki ambisi kekuasaan duniawi, tapi memberi restu kepada mereka yang dianggap membawa perubahan. Dalam konteks ini, Trunajaya bukan semata pemberontak, tetapi kandidat pemimpin baru yang dikehendaki oleh kekuatan spiritual dan rakyat tertindas.

Kebangkitan Giri melalui figur Pangeran Mas Giri menjungkirbalikkan asumsi historiografi kolonial dan keraton, yang menyebut Giri telah mati sejak 1636. Fakta bahwa seorang Pangeran Mas Giri masih berpengaruh pada 1676 menunjukkan bahwa Giri tidak runtuh, tapi bertransformasi menjadi kekuatan moral yang tak terlihat. Ia melampaui kekuasaan administratif dan menjadi lambang harapan akan keadilan, di saat Mataram dianggap korup dan tunduk pada kekuatan asing.

Maka, sejarah penobatan Trunajaya bukan semata soal ambisi kekuasaan, tetapi pergulatan antara dua sumber legitimasi: kekuatan senjata dan kekuatan spiritual. Trunajaya memiliki keduanya: armada dari Makassar dan restu dari Giri. Kombinasi ini menjadikannya ancaman serius bagi Mataram dan Kompeni. Bahkan setelah kekalahannya, memori tentangnya tak pernah lenyap. Dan di balik itu semua, berdiri seorang ulama yang tak memegang pedang, tapi menggerakkan sejarah dengan karisma dan kata: Pangeran Mas Giri.

Api di Plered: Trunajaya–Galesong dan Guncangan Takhta Mataram (1674–1680)

Dalam sejarah abad ke-17 di Nusantara, Raden Trunajaya bukan sekadar pemimpin pemberontakan. Ia adalah simbol resistensi terhadap kekuasaan Mataram dan dominasi kolonial VOC. Berasal dari trah bangsawan Arosbaya, Madura, Trunajaya mewarisi garis darah Majapahit melalui Aria Damar, Adipati Palembang—putra Brawijaya V—yang kemudian menurunkan Kiai Demang Plakaran dan Pangeran Arosbaya.

Keluarga Arosbaya dikenal sebagai pusat dakwah Islam awal di Madura. Raden Pratanu alias Panembahan Lemah Duwur bahkan menjalin ikatan politik dengan Sultan Hadiwijaya (Jaka Tingkir), yang darinya lahir Pangeran Tengah. Pada 1624, kekuasaan Arosbaya runtuh dihantam ekspedisi Sultan Agung. Seorang bangsawan muda bernama Raden Prasena berhasil diselamatkan dan kemudian diangkat sebagai Adipati Madura bergelar Cakraningrat I. Dari putranya, Demang Malayakusuma, lahirlah Raden Trunajaya—pewaris luka sejarah atas kolonisasi dan subordinasi Madura oleh Mataram.

Trunajaya tumbuh sebagai bangsawan muda yang berani dan cerdas secara politik. Pernikahannya dengan putri Raden Kajoran, seorang ulama sufi dari Kedu, memperkuat jejaring spiritual-politik. Kajoran, keturunan Sunan Tembayat, adalah mantan penasihat Amangkurat I yang kecewa pada kebijakan istana. Ia mendukung gerakan pembaruan moral dan keadilan sosial di Jawa.

Aliansi ini meluas dengan masuknya Karaeng Galesong, bangsawan eksil dari Gowa, Sulawesi Selatan. Setelah kekalahan Gowa dari VOC dalam Perjanjian Bongaya (1667), Galesong memimpin ratusan eksil Makassar, Bugis, dan Mandar yang enggan tunduk pada Belanda. Koalisi Trunajaya–Kajoran–Galesong menjelma menjadi gerakan militer transnasional yang menantang dua kekuatan: Mataram dan VOC.

Pada akhir 1675, mereka berkonsolidasi di Demung, Madura Timur, dengan sekitar 2.100 prajurit dan 150 perahu. Serangan dilancarkan terhadap pelabuhan utama Jawa Timur: Pasuruan, Pajarakan, Gerongan, dan Gresik. Menurut Daghregister VOC (1676), kota-kota itu dibakar dan penduduk melarikan diri. Surabaya ditinggalkan dalam ketakutan massal.

Strategi ini menghancurkan jaringan logistik dan perdagangan utara Jawa, membuat Mataram terisolasi. Puncaknya terjadi Juni 1677, ketika pasukan gabungan Trunajaya merebut ibu kota Mataram di Plered. Amangkurat I melarikan diri ke arah barat bersama putranya, Adipati Anom. Dalam pelarian menuju Batavia, ia wafat di Tegal Arum dan dimakamkan di Tegal Wangi.

Kejatuhan Plered adalah pukulan simbolik dan politik terbesar bagi Mataram. VOC, yang selama ini menjaga jarak dari konflik internal Jawa, akhirnya turun tangan langsung. Dengan bantuan Belanda, Adipati Anom naik takhta sebagai Amangkurat II dan memulai serangan balasan.

Namun koalisi Trunajaya-Galesong retak. Galesong merasa dipinggirkan dalam struktur kekuasaan pasca-Plered. Ia membangun basis sendiri di Kakaper, tetapi basis itu diserang oleh VOC dan sekutu Bugis pada Oktober 1679. Galesong melarikan diri kembali ke Trunajaya, lalu wafat pada November—penyebabnya tak pasti, antara sakit, sabotase, atau pembunuhan politik.

Trunajaya bertahan di pegunungan Kediri, tetapi akhirnya ditangkap pasukan Mataram-VOC pada 25 Desember 1679. Ia dieksekusi pada 2 Januari 1680 di Payak, disaksikan langsung oleh Amangkurat II—suatu tindakan teatrikal yang dimaksudkan untuk meneguhkan kembali otoritas raja.

Historiografi kolonial Belanda menyebut Trunajaya sebagai “bandiet” dan perampok. Namun dalam memori Madura dan Gowa, serta dalam tradisi lisan pesantren-pesantren Kedu, ia dikenang sebagai pahlawan yang melawan dominasi asing dan tirani istana. Dalam Babad Tanah Jawi, Trunajaya digambarkan ambigu: pemberani namun durhaka. Narasi ini mencerminkan kecenderungan babad membela dinasti penguasa.

Pemberontakan Trunajaya-Galesong menandai era baru dalam sejarah Jawa: VOC menjadi aktor dominan dalam politik keraton, dan kerajaan-kerajaan lokal mulai tergantung pada kekuatan asing. Meski kalah secara militer, Trunajaya menyuarakan kegelisahan moral dan sosial masyarakat Jawa, serta melambangkan keretakan antara elite dan rakyat.

Ia bukan sekadar pemberontak, tetapi simbol krisis kekuasaan, kehancuran legitimasi, dan awal dari kolonisasi internal. Api yang membakar Plered bukan hanya nyala perlawanan, tapi juga awal dari babak baru ketergantungan politik Jawa pada kekuatan asing.

----- 

artikel ini merupakan hasil rangkuman berbagai sumber 


Topik

Ruang Sastra trunajaya raja jawa panembahan maduretna



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tulungagung Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Aunur Rofiq

Editor

Nurlayla Ratri