JATIMTIMES - Situs Tri Tingal di Dusun Centong, Desa Purworejo, Kecamatan Sanankulon, Kabupaten Blitar, kini telah dikukuhkan sebagai cagar budaya oleh Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Namun, lebih dari sekadar situs bersejarah, Tri Tingal menyimpan jejak pertemuan tiga tokoh penting dalam sejarah spiritual dan politik Jawa: Syekh Siti Jenar, Sunan Kalijaga, dan Raden Kebo Kenongo.
Pengakuan ini bukan sekadar formalitas administratif. Sebelumnya, Keraton Kasunanan Surakarta menerjunkan tim riset yang menyimpulkan bahwa Tri Tingal adalah tempat di mana ketiga tokoh ini bertemu untuk meluruskan ajaran-ajaran yang telah diselewengkan oleh pihak-pihak yang mengaku sebagai Syekh Siti Jenar. Namun, pertanyaannya adalah: siapa sebenarnya Syekh Siti Jenar yang datang ke Tri Tingal? Apakah ia sosok asli atau bagian dari polemik dua Syekh Siti Jenar palsu yang menciptakan kontroversi besar di Jawa abad ke-16?
Syekh Siti Jenar dan Kesimpangsiuran Ajarannya
Baca Juga : Lebaran Ketupat 2025 Jatuh Tanggal Berapa? Ini Sejarah dan Maknanya
Nama Syekh Siti Jenar lekat dengan ajaran Manunggaling Kawula Gusti, yang dalam pemahaman umum diartikan sebagai penyatuan antara manusia dengan Tuhan. Namun, dalam dokumen-dokumen historiografi seperti Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Tanah Jawi, dan Nagara Kretabhumi, terdapat narasi berbeda mengenai kematiannya.
Dalam Carita Purwaka Caruban Nagari, Syekh Siti Jenar disebut berasal dari Baghdad dan seorang penganut Syi'ah Muntadhar. Ia datang ke Pengging untuk mengajarkan Islam kepada Ki Ageng Pengging dan masyarakat sekitar. Namun, karena ajarannya dianggap bertentangan dengan doktrin yang diterima para Wali Songo, ia dieksekusi oleh Sunan Kudus dengan keris Kanthanaga pada tahun 1505 M.
Sementara itu, dalam versi lain, Syekh Siti Jenar tidak benar-benar dihukum mati, melainkan ada dua tokoh lain yang menyamar dan menggunakan namanya untuk menyebarkan ajaran menyimpang. Kedua orang ini adalah Hasan Ali, yang mengaku sebagai Syekh Lemah Abang, dan San Ali Anshar al-Isfahani, seorang sufi dari Persia. Hasan Ali beroperasi di Jawa bagian Barat, sedangkan San Ali Anshar berdakwah di pusat wilayah Kesultanan Demak dan berkelana ke Jawa bagian Timur.
Keberadaan dua sosok palsu ini membuat ajaran Syekh Siti Jenar menjadi simpang siur. Beberapa komunitas mengklaim mengikuti ajarannya, padahal mereka sebenarnya menerima doktrin dari dua tokoh pemalsu ini. Hal ini memunculkan dilema besar di antara para Wali Songo, yang kemudian memutuskan untuk mengambil langkah drastis dalam meluruskan pemahaman masyarakat.
Historiografi Dua Tokoh Siti Jenar Palsu: Antara Mitos dan Intrik Politik
Kisah Syekh Siti Jenar telah menjadi salah satu narasi sejarah yang penuh kontroversi dalam sejarah Islam di Nusantara. Dalam berbagai babad dan serat, namanya dikaitkan dengan ajaran manunggaling kawula-Gusti serta hukuman mati yang dijatuhkan oleh Wali Songo. Namun, di balik kisah ini, terdapat silang pendapat mengenai keaslian tokoh yang dihukum mati. Apakah benar Syekh Siti Jenar yang asli dihukum mati? Ataukah ada pihak lain yang mengatasnamakan dirinya dan menyebarkan ajaran yang menyimpang?
Salah satu sumber yang mencatat hukuman mati terhadap Syekh Lemah Abang adalah Carita Purwaka Caruban Nagari. Dalam naskah ini, diceritakan bahwa seorang tokoh bernama Syekh Lemah Abang yang berasal dari Baghdad adalah penganut ajaran Syi'ah Muntadhar. Ia datang ke Pengging, Jawa Timur, dan mengajarkan agama kepada Ki Ageng Pengging serta masyarakat sekitar. Namun, ajarannya dianggap menyimpang oleh para pemuka agama. Atas perintah Wali Songo, ia dihukum mati oleh Sunan Kudus menggunakan Keris Kanthanaga, pusaka milik Susuhunan Jati Purba (Syekh Datuk Kahfi).
Naskah ini juga menyebutkan bahwa eksekusi terjadi di Masjid Sang Cipta Rasa pada tahun 1505 Masehi, dan jenazahnya dimakamkan di Mandala Anggaraksa, Cirebon. Namun, ada beberapa kejanggalan dalam kisah ini. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa Syekh Siti Jenar berasal dari Baghdad atau berafiliasi dengan Syi'ah. Selain itu, ajaran Sasahidan yang dikaitkan dengannya lebih menyerupai konsep spiritual dalam tasawuf, bukan doktrin Syi'ah.
Jika ditelusuri lebih jauh, beberapa sumber menyebutkan bahwa yang sebenarnya dihukum mati bukanlah Syekh Siti Jenar yang asli, melainkan dua orang tokoh yang mengaku sebagai dirinya.
Tokoh pertama adalah Hasan Ali, yang juga dikenal sebagai Pangeran Anggaraksa. Ia merupakan putra dari Rsi Bungsu yang semula berambisi menguasai Cirebon, tetapi kemudian terusir dari keraton akibat kedurhakaannya kepada Rsi Bungsu serta pemberontakannya terhadap Cirebon. Hasan Ali menaruh dendam kepada Syekh Siti Jenar, yang berhasil menjadi seorang guru suci di Giri Amparan Jati. Dengan niat buruk, ia kemudian mengaku sebagai Syekh Lemah Abang dan menyebarkan ajaran yang menyimpang di wilayah Jawa bagian barat.
Tokoh kedua adalah San Ali Anshar al-Isfahani, seorang ulama dari Persia yang pernah belajar bersama Syekh Siti Jenar di Baghdad. Namun, ia menyimpan rasa iri karena kalah dalam hal ilmu dan kerohanian. Setelah Syekh Siti Jenar menua, San Ali Anshar mulai berkeliling ke berbagai pelosok Jawa bagian timur dan mengajarkan berbagai praktik mistik serta perdukunan. Ia mengaku sebagai Syekh Siti Jenar, sehingga ajaran-ajarannya merusak pemahaman masyarakat tentang Islam.
Kedua tokoh ini memainkan peran dalam mendistorsi ajaran Syekh Siti Jenar. Mereka menjadikan manunggaling kawula-Gusti sebagai ajaran yang menyimpang dari tauhid. Akibatnya, Wali Songo akhirnya menjatuhkan vonis hukuman mati terhadap mereka, bukan kepada Syekh Siti Jenar yang asli. Hasan Ali dieksekusi di Cirebon oleh Sunan Gunung Jati, sementara San Ali Anshar dihukum mati di Demak oleh Sunan Kalijaga.
Selain faktor ajaran, ada unsur politik yang turut berperan dalam kisah ini. Pada masa awal Kesultanan Demak, terjadi berbagai intrik perebutan kekuasaan. Sultan Trenggono, misalnya, merebut takhta dengan mengeliminasi saudaranya, Pangeran Suronyoto (Pangeran Sekar Seda Ing Lepen), yang berhak menjadi sultan setelah Adipati Yunus. Trenggono dikenal memiliki ambisi besar, tetapi tidak disukai oleh banyak adipati dan rakyat, termasuk masyarakat Pengging yang sejak masa Raden Fatah belum tunduk pada Demak.
Beberapa murid utama Syekh Siti Jenar, seperti Pangeran Panggung dari Bojong, turut menentang kekuasaan Demak. Oleh karena itu, Sultan Trenggono dan para ulama yang mendukungnya kemudian membentuk narasi bahwa Syekh Siti Jenar dihukum mati oleh Wali Songo di Masjid Demak. Bahkan, beredar cerita bahwa setelah dieksekusi, jasadnya berubah menjadi anjing kudisan dan dikuburkan di bawah mihrab masjid. Ini jelas merupakan propaganda politik untuk mendiskreditkan ajaran Syekh Siti Jenar yang memiliki banyak pengikut tetapi tidak berpihak pada kekuasaan.
Dari berbagai sumber yang ada, tampak jelas bahwa kisah hukuman mati terhadap Syekh Siti Jenar mengandung banyak distorsi. Kemungkinan besar, yang dihukum mati oleh Wali Songo bukanlah Syekh Siti Jenar yang asli, melainkan dua tokoh yang mengatasnamakan dirinya, yaitu Hasan Ali (Pangeran Anggaraksa) dan San Ali Anshar al-Isfahani.
Selain itu, ada faktor politik yang memperkeruh keadaan. Sultan Trenggono dan para penguasa Demak menggunakan narasi ini untuk menekan pengikut Syekh Siti Jenar yang tidak tunduk pada mereka. Akibatnya, hingga kini kisah Syekh Siti Jenar tetap menjadi legenda yang penuh kontroversi, dengan batas yang kabur antara fakta sejarah dan mitos yang dibentuk oleh kepentingan politik.
Tri Tingal dan Upaya Meluruskan Sejarah Syekh Siti Jenar
Dalam konteks ini, pertemuan di Tri Tingal menjadi sangat penting. Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga datang atas perintah Syekh Datuk Kahfi dari Cirebon untuk membenahi penyimpangan ajaran yang disebarkan oleh Syekh Siti Jenar palsu di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Setiap lokasi yang telah terpengaruh oleh ajaran ini ditandai dengan keberadaan pohon jenar atau kemuning tua, batu gilang, serta penamaan tempat seperti Tanah Abang, Tanah Putih, Tanah Kuning, dan Tanah Hitam.
Kebo Kenongo, atau Ki Ageng Pengging, dikenal sebagai seorang pengembara yang haus akan ilmu pengetahuan. Di masa mudanya, ia meninggalkan Pengging untuk menimba ilmu dari berbagai tokoh di tanah Jawa. Sebagai seorang Muslim yang saleh, pencariannya terhadap pemahaman spiritual yang mendalam membawanya pada pertemuan dengan seorang pengajar yang mengaku sebagai Syekh Siti Jenar. Nama asli pengajar itu adalah San Ali Anshar, seorang pendakwah yang menyebarkan ajaran “Manunggaling Kawula Gusti” dengan pemahaman yang dianggap menyimpang dari syariat Islam.
Tertarik dengan ajaran tersebut, Kebo Kenongo menganggap San Ali Anshar sebagai gurunya. Ia mengikuti pengajaran dengan sungguh-sungguh, menyerap setiap kata yang dianggapnya sebagai kebenaran. Namun, seperti banyak pencari kebenaran lainnya, perjalanannya tidak berakhir di situ.
Suatu hari, Kebo Kenongo mengunjungi kakaknya, Raden Kebo Kanigoro, yang saat itu menjabat sebagai Adipati Kanigoro. Kadipaten ini terletak di daerah yang kini dikenal sebagai Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Sebagai seorang saudara yang baik, Kebo Kanigoro memberi Kebo Kenongo tempat tinggal di Dusun Centong, sekitar lima belas kilometer dari pusat Kadipaten Kanigoro. Di tempat inilah, dalam kesunyian dan ketenangan alam, Kebo Kenongo bermunajat dan memperdalam ilmunya.
Namun, berita tentang ajaran San Ali Anshar yang menyebar dengan cepat di tanah Jawa tidak luput dari perhatian para wali. Syekh Datuk Kahfi dari Cirebon, seorang mursyid terkemuka, menugaskan dua muridnya yang terbaik, Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga, untuk meluruskan kesimpangsiuran yang telah mengaburkan ajaran asli Amparan Jati. Dua tokoh ini memulai perjalanan panjang dari pesisir utara Jawa Barat menuju timur, menandai setiap tempat yang disinggahi dengan simbol-simbol seperti pohon jenar, batu gilang, dan tanah berwarna yang menggambarkan tahap-tahap spiritual.
Ketika Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga tiba di Kadipaten Kanigoro, mereka diterima dengan hormat oleh Kebo Kanigoro. Namun, Kebo Kenongo, yang mendengar kabar kedatangan mereka, terkejut. Ia mengira bahwa gurunya, Syekh Siti Jenar, datang ke Kadipaten. Namun, ketika berhadapan dengan Syekh Siti Jenar yang asli, ia menyadari bahwa pengajar yang selama ini diikutinya adalah seorang penipu.
Kebo Kenongo kemudian mengajak Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga ke kediamannya di Dusun Centong. Di sana, di hadapan Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga, Kebo Kenongo mengalami pencerahan. Sebagai penengah, Sunan Kalijaga mengungkapkan bahwa sosok yang mengajarinya selama ini bukanlah Syekh Siti Jenar yang asli, melainkan San Ali Anshar. Ajaran yang disampaikan oleh San Ali Anshar telah menyimpang dari pemahaman yang benar tentang “Manunggaling Kawula Gusti.”
Sunan Kalijaga menegaskan bahwa ajaran Syekh Siti Jenar yang asli tidaklah bertentangan dengan syariat Islam. Sebaliknya, ia justru mengajarkan jalan spiritual yang berpegang teguh pada Al-Qur'an, Hadist, serta syariat Islam yang diwariskan oleh Nabi Muhammad. Kebo Kenongo menyadari bahwa pemahaman sebelumnya adalah ilusi yang diciptakan oleh ajaran palsu.
Sunan Kalijaga memandang Kebo Kenongo dengan penuh kebijaksanaan. Dengan suara tenang namun berwibawa, ia mulai berbicara, meluruskan segala kekeliruan yang telah menyesatkan murid Syekh Siti Jenar yang sejati itu.
"Ketahuilah, wahai Kebo Kenongo, bahwa sosok yang selama ini kau anggap sebagai gurumu bukanlah Syekh Siti Jenar yang sejati. Ia hanyalah seorang penipu bernama San Ali Anshar. Ia telah menyalahgunakan ajaran hakikat dengan menanggalkan syariat, menyesatkan murid-muridnya dengan paham yang bertentangan dengan tuntunan Rasulullah," ujar Sunan Kalijaga.
Ia melanjutkan, "Syekh Siti Jenar yang asli berpegang teguh pada Al-Qur’an dan hadist, mengajarkan kesejatian hidup tanpa meninggalkan syariat. Ia tetap mendirikan shalat, berpuasa, dan meneladani akhlak Nabi Muhammad. Namun, San Ali Anshar memutarbalikkan ajaran itu. Ia berkata bahwa shalat tidak perlu, karena manusia sudah menyatu dengan Tuhan. Ia mengajarkan kebebasan tanpa batas, mengingkari perintah syariat dengan dalih telah mencapai makrifat tertinggi. Padahal, hakikat tanpa syariat adalah kesesatan."
Sunan Kalijaga lalu menatap lurus ke arah Kebo Kenongo, seolah menegaskan makna dari ucapannya. "Jalan yang benar adalah keseimbangan antara syariat dan hakikat. Tanpa syariat, manusia akan tersesat dalam ilusi, merasa telah dekat dengan Tuhan padahal justru menjauh. Syekh Siti Jenar yang asli tidak mengajarkan kebebasan tanpa aturan, melainkan kedekatan kepada Allah dengan tetap mematuhi perintah-Nya. Kini, kau telah menemukan kebenaran itu. Jangan lagi kau biarkan hatimu goyah oleh ajaran yang menyesatkan."
Baca Juga : Libur Lebaran di Kota Malang, Yuk Mampir ke 6 Kampung Tematik Ini
Kebo Kenongo terdiam, meresapi setiap kata yang diucapkan Sunan Kalijaga. Perlahan, kesadarannya pulih. Ia kini memahami bahwa selama ini ia telah tersesat oleh ajaran palsu, dan di hadapannya kini, Syekh Siti Jenar yang sejati berdiri, tetap teguh pada tuntunan Islam yang murni.
Syekh Siti Jenar yang asli pun membabarkan kembali pemahaman tentang Manunggaling Kawula Gusti. Baginya, penyatuan antara hamba dan Tuhan bukanlah penolakan terhadap syariat, melainkan pemahaman spiritual yang mendalam yang menempatkan syariat sebagai fondasi utama. Ia mengajarkan bahwa kesejatian hidup hanya dapat dicapai dengan menjaga keseimbangan antara lahiriah dan batiniah, antara amal ibadah yang benar dan pemahaman spiritual yang murni.
Hubungan antara ketiga tokoh ini menjadi semakin erat. Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga kerap bertukar pikiran dengan Kebo Kenongo, yang kini mendapatkan pemahaman yang lebih terang tentang ajaran Islam. Di tempat yang kini dikenal sebagai Situs Tri Tingal, mereka melakukan serangkaian ritual sebagai simbol penyatuan pemahaman. Dan di tempat inilah, Syekh Siti Jenar mengangkat Kebo Kenongo sebagai murid.
Sunan Kalijaga menandai peristiwa ini dengan meletakkan sebuah batu gilang sebagai palenggahan atau tempat bermunajat. Sementara itu, Syekh Siti Jenar menanamkan pohon jenar atau kamuning, simbol dari ajaran murni yang akan tumbuh dan berkembang. Dalam peristiwa itu, mereka juga menyelenggarakan ritual dengan membuat tumpeng nasi gurih dan ingkung ayam jago putih, yang dilengkapi dengan gereh petek sebanyak tiga ekor sebagai simbolisasi tiga tokoh besar yang hadir.
Nama “Tri Tingal” pun menjadi sebuah penanda. “Tri” merujuk pada tiga tokoh besar yang bertemu di tempat itu, sementara “Tingal” berarti gamblang atau terang, melambangkan proses pelurusan pemahaman yang sebelumnya simpang siur menjadi jelas dan terang.
Di Situs Tri Tingal ini, Kebo Kenongo menemukan kesejatian yang selama ini dicarinya. Bukan melalui jalan pintas yang menolak syariat, tetapi melalui proses panjang penyucian diri yang mengintegrasikan antara ajaran spiritual dan hukum-hukum agama yang benar. Perjalanannya dengan Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga menjadi fondasi kokoh bagi pemahaman kesejatian yang murni.
Hingga kini, Situs Tri Tingal tetap dipandang sebagai tempat sakral yang menyimpan jejak tiga tokoh besar tersebut. Tiga batu nisan yang berada di sana menjadi simbol dari pertemuan agung yang mengubah pemahaman Kebo Kenongo dan memberikan terang bagi ajaran Islam yang sejati.
Di tempat yang kini dikenal sebagai Situs Tri Tingal, Syekh Siti Jenar dan Sunan Kalijaga akhirnya meluruskan pemahaman Kebo Kenongo. Mereka membahas berbagai aspek spiritual, termasuk makna sejati dari Manunggaling Kawula Gusti. Sebagai bentuk pengukuhan, diadakan ritual tumpeng nasi gurih dan ingkung ayam jago putih, yang ditandai dengan wiji jenar (biji kemuning) dan batu gilang sebagai simbol pelurusan ajaran.
Tri Tingal: Simbol Pelurusan Sejarah dan Ajaran
Kini, dengan dikukuhkannya Tri Tingal sebagai situs cagar budaya, ada harapan bahwa situs ini bisa menjadi tempat pembelajaran sejarah yang lebih objektif.
Dengan demikian, Tri Tingal bukan hanya tempat ziarah, tetapi juga titik balik dalam memahami ajaran Syekh Siti Jenar yang asli. Ia adalah saksi bisu dari upaya para wali untuk meluruskan ajaran yang telah dipelintir oleh pihak-pihak berkepentingan.
Kisah Syekh Siti Jenar tidak pernah sekadar tentang ajaran spiritual semata. Ia juga berkaitan dengan politik, intrik kekuasaan, dan manipulasi sejarah. Situs Tri Tingal menjadi bukti bahwa sejarah perlu dibaca dengan kritis.
Selain faktor ajaran, ada unsur politik yang turut berperan dalam kisah ini. Pada masa awal Kesultanan Demak, terjadi berbagai intrik perebutan kekuasaan. Sultan Trenggono, misalnya, merebut takhta dengan mengeliminasi saudaranya, Pangeran Suronyoto (Pangeran Sekar Seda Ing Lepen), yang berhak menjadi sultan setelah Adipati Yunus. Trenggono dikenal memiliki ambisi besar, tetapi tidak disukai oleh banyak adipati dan rakyat, termasuk masyarakat Pengging yang sejak masa Raden Fatah belum tunduk pada Demak.
Beberapa murid utama Syekh Siti Jenar, seperti Pangeran Panggung dari Bojong, turut menentang kekuasaan Demak. Oleh karena itu, Sultan Trenggono dan para ulama yang mendukungnya kemudian membentuk narasi bahwa Syekh Siti Jenar dihukum mati oleh Wali Songo di Masjid Demak. Bahkan, beredar cerita bahwa setelah dieksekusi, jasadnya berubah menjadi anjing kudisan dan dikuburkan di bawah mihrab masjid. Ini jelas merupakan propaganda politik untuk mendiskreditkan ajaran Syekh Siti Jenar yang memiliki banyak pengikut tetapi tidak berpihak pada kekuasaan.
Dari berbagai sumber yang ada, tampak jelas bahwa kisah hukuman mati terhadap Syekh Siti Jenar mengandung banyak distorsi. Penelitian terbaru tegas menyatakan, yang dihukum mati oleh Wali Songo bukanlah Syekh Siti Jenar yang asli, melainkan dua tokoh yang mengatasnamakan dirinya, yaitu Hasan Ali (Pangeran Anggaraksa) dan San Ali Anshar al-Isfahani.
Selain itu, ada faktor politik yang memperkeruh keadaan. Sultan Trenggono dan para penguasa Demak menggunakan narasi ini untuk menekan pengikut Syekh Siti Jenar yang tidak tunduk pada mereka. Akibatnya, hingga kini kisah Syekh Siti Jenar tetap menjadi legenda yang penuh kontroversi, dengan batas yang kabur antara fakta sejarah dan mitos yang dibentuk oleh kepentingan politik.
Tri Tingal: Fondasi Spiritual dan Leluhur Dinasti Mataram Islam
Di tengah dataran subur Pulau Jawa, tempat di mana politik dan agama berkelindan dalam anyaman yang kompleks, berdirilah Tri Tingal. Bagi mereka yang memahami simbolisme situs-situs sakral, Tri Tingal bukan hanya petilasan. Ia adalah penanda dari rantai keturunan yang melahirkan para penguasa besar Mataram Islam, yang puncak kejayaannya diraih di bawah naungan Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Penulis, dalam pendekatan historiografis yang teliti, mengingatkan bahwa di balik setiap dinasti yang besar, selalu ada kisah-kisah kecil yang membentuk fondasi dari kekuasaan tersebut. Tri Tingal menjadi salah satu dari tempat-tempat itu—sebuah monumen yang tidak hanya menandai keberadaan leluhur dinasti, tetapi juga mewariskan legitimasi yang bersifat spiritual dan politik.
Sunan Kalijaga, tokoh mistik yang dipandang sebagai penyebar Islam terpenting di Jawa, memiliki tiga istri. Dewi Sarah, Siti Zaenab, dan Siti Hafsah. Namun, di antara mereka, nama Siti Zaenab sering kali disebutkan sebagai penghubung vital bagi keturunan Mataram. Putri Syekh Siti Jenar ini, melahirkan keturunan yang kelak akan memegang kendali atas sebagian besar wilayah Jawa.
Dari pernikahan Sunan Kalijaga dan Siti Zaenab lahirlah Ratu Pembayun, yang kemudian dinikahkan dengan Sultan Trenggana, Raja Kedua Kesultanan Demak. Pernikahan ini bukan hanya penyatuan dua darah bangsawan, tetapi juga langkah strategis dalam meneguhkan pengaruh spiritual dan politik di tanah Jawa.
Dari mereka lahir Ratu Mas Cempaka, yang kelak menjadi permaisuri Sultan Hadiwijaya Pajang, seorang penguasa yang mengarahkan peralihan kekuasaan dari Demak ke Pajang. Dari rahim Ratu Mas Cempaka lahirlah Pangeran Benawa, raja kedua Pajang yang dikenal lebih mengutamakan ketenangan spiritual daripada dominasi militer. Namun, keturunan inilah yang terus melahirkan penguasa besar, termasuk Ratu Mas Hadi, yang kemudian menikah dengan Hanyakrawati.
Dari pernikahan tersebut, lahirlah seorang tokoh besar yang namanya menembus sejarah: Sultan Agung Hanyakrakusuma. Di bawah kekuasaannya, Mataram mencapai puncak kejayaan. Namun, aliran keturunan ini tidak berhenti di situ. Garis keluarga ini bercabang ke berbagai pusat kekuasaan yang kelak menjadi Surakarta dan Yogyakarta.
Namun, kekuasaan tidak hanya mengalir dari satu jalur. Pangeran Timur, putra lain dari Sultan Trenggana dan Ratu Pembayun, menjadi Panembahan Madiun dan menurunkan Retno Dumilah, seorang tokoh yang namanya kerap dipuja dalam kronik-kronik lokal. Perkawinannya dengan Panembahan Senopati, pendiri Mataram Islam, menjadi poros penting bagi kelanjutan kekuasaan Mataram. Dari mereka lahirlah Panembahan Juminah, yang tercatat sebagai paman sekaligus ayah tiri Sultan Agung.
Setelah menjadi janda, Ratu Hadi menikah dengan Juminah dan melahirkan Pangeran Balitar. Dari garis keturunan Pangeran Balitar inilah muncul Kanjeng Ratu Mas Blitar, yang kemudian dipersunting oleh Susuhunan Paku Buwana I, pendiri Dinasti Surakarta. Pernikahan ini melahirkan Sunan Amangkurat IV, leluhur dari para raja penerus Dinasti Mataram yang berkuasa di Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman.
Garis keturunan yang bermula dari Pangeran Balitar dan diteruskan oleh Kanjeng Ratu Mas Balitar hingga Susuhunan Paku Buwana I menjadi simpul penting dalam rantai panjang kejayaan Mataram Islam. Dalam kesadaran kolektif masyarakat Jawa, Tri Tingal bukan sekadar monumen; ia berdiri sebagai simbol kekuatan dan kesinambungan dinasti yang tak tergoyahkan. Di sanalah, akar-akar kekuasaan yang membentang ke berbagai cabang kerajaan—Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman—bertemu dalam satu titik yang sama: Situs Tri Tingal.
Keberadaan Situs Tri Tingal bukanlah sesuatu yang dapat dipandang sebelah mata. Bukan sekadar monumen biasa, melainkan nisan penanda dari cikal bakal lahirnya dinasti agung yang menguasai tanah Jawa.
