Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Lingkungan

10 Merek Fast Fashion dengan Limbah Tertinggi: ZARA hingga Nike

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

22 - Mar - 2025, 12:39

Placeholder
Potret limbah fesyen. (Foto: istimewa)

JATIMTIMES - Fast fashion telah lama menjadi sorotan karena dampak lingkungannya yang besar. Produksi pakaian dalam jumlah besar dengan siklus tren yang cepat menghasilkan limbah tekstil yang signifikan. Termasuk masalah lain seperti eksploitasi tenaga kerja hingga konsumsi sumber daya yang berlebihan juga menjadi masalah dalam fast fashion. 

Apa Itu Fast Fashion?
Fast fashion adalah model bisnis dalam industri pakaian yang berfokus pada produksi cepat dan murah untuk meniru tren mode terbaru. Dalam praktiknya, model ini memungkinkan merek-merek fesyen meluncurkan koleksi baru dalam waktu singkat, sering kali dengan mengorbankan kualitas, keberlanjutan, dan kesejahteraan pekerja. 

Produksi fast fashion umumnya dilakukan di negara berkembang dengan regulasi ketenagakerjaan yang lemah. Para pekerja di industri ini sering menerima upah rendah dan bekerja dalam kondisi yang tidak aman. 

Baca Juga : Ratusan Pelajar Antusias Ikuti Lomba di Festival Ramadan Kota Batu 2025

Selain itu, fast fashion juga berkontribusi terhadap pencemaran lingkungan akibat penggunaan serat sintetis berbasis bahan bakar fosil serta limbah tekstil yang sulit terurai. 

Dengan meningkatnya kesadaran akan dampak negatif fast fashion, banyak konsumen mulai mencari alternatif yang lebih berkelanjutan. Namun, masih banyak merek besar yang tetap mengandalkan model ini. Berikut ini 10 merek terkenal yang memiliki dampak lingkungan dan sosial paling buruk, menurut Kara Harms, penulis Whimsy Soul dikutip Yahoo Creators, Sabtu (22/3/2025). 

1. ZARA
Sebagai salah satu pionir fast fashion, ZARA dikenal dengan siklus produksinya yang sangat cepat. Dalam waktu hanya 15 hari, desain pakaian baru bisa langsung tersedia di toko-toko mereka. Model bisnis ini mendorong konsumsi berlebihan, karena pelanggan terus tergoda untuk membeli pakaian baru yang dengan cepat menjadi usang. 

Dampak lingkungannya sangat besar. Mulai dari limbah tekstil yang tinggi hingga penggunaan bahan kimia beracun dalam proses produksi. 

Meskipun ZARA telah berupaya meningkatkan keberlanjutan dengan menggunakan kapas organik dan energi terbarukan, laporan tentang kondisi kerja yang buruk di pabriknya masih menjadi masalah di brand tersebut. 

2. Shein
Shein dikenal sebagai salah satu merek fast fashion dengan siklus produksi paling cepat di dunia. Dalam sehari, mereka bisa merilis ribuan desain baru dengan harga sangat murah. Namun, murahnya harga ini dibayar dengan eksploitasi pekerja di pabrik-pabriknya yang dikabarkan memiliki kondisi kerja yang tidak layak. 

Selain itu, Shein juga sering dikritik karena menjiplak desain dari desainer independen. Kualitas produknya juga meragukan, dengan banyak pelanggan melaporkan bahwa pakaian mereka cepat rusak setelah dicuci. Model bisnis ini semakin memperparah masalah limbah tekstil dan polusi lingkungan. 

3. Victoria’s Secret
Victoria’s Secret bukan hanya menghadapi isu ketidakadilan gender dalam pemilihan modelnya, tetapi juga memiliki sejarah pelanggaran ketenagakerjaan. 

Produksi cepat mereka bergantung pada kain sintetis yang sulit terurai, dan laporan menunjukkan bahwa mereka menggunakan tenaga kerja paksa, termasuk di wilayah Uighur, Tiongkok. 

Selain itu, beberapa produk Victoria’s Secret disebut mengandung formaldehida, zat kimia berbahaya yang menimbulkan risiko kesehatan bagi penggunanya. 

4. Boohoo
Boohoo kerap dikritik karena membayar pekerja dengan upah rendah dan mempekerjakan mereka dalam kondisi tidak aman. Selama pandemi COVID-19, misalnya, pekerja mereka dipaksa bekerja tanpa perlindungan kesehatan yang memadai. 

Dari sisi lingkungan, model bisnis Boohoo yang berbasis produksi massal menyebabkan limbah tekstil dalam jumlah besar. Bahan sintetis yang mereka gunakan tidak dapat terurai, sehingga semakin memperburuk pencemaran lingkungan. 

Merek mode cepat serupa yang memiliki dampak lingkungan dan sosial yang buruk dengan Hoohoo adalah Pretty Little Thing dan Brandy Melville. 

5. Primark
Primark dikenal dengan harga pakaiannya yang sangat murah, tetapi di balik itu, ada laporan tentang penggunaan pekerja anak dan kondisi kerja yang buruk. Pabrik-pabrik mereka sering kali tidak memenuhi standar upah layak dan keselamatan kerja. 

Dari segi lingkungan, Primark juga menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Meskipun mereka telah mencoba mengadopsi beberapa praktik berkelanjutan, transparansi mengenai rantai pasokan mereka masih menjadi masalah. 

6. Nike
Nike lebih dikenal sebagai merek pakaian olahraga, tetapi model produksinya juga mengandalkan fast fashion. Perusahaan ini pernah menghadapi skandal besar terkait eksploitasi tenaga kerja di pabrik-pabrik mereka, khususnya di Asia. 

Baca Juga : DLH Kabupaten Malang Perkirakan Volume Sampah Bertambah Jelang Lebaran 2025

Dari segi lingkungan, Nike masih banyak menggunakan bahan sintetis yang berkontribusi pada pencemaran plastik. Meskipun telah melakukan beberapa inisiatif keberlanjutan seperti penggunaan bahan daur ulang, skala produksinya yang besar tetap berdampak negatif pada lingkungan. 

7. Forever 21
Forever 21 mengandalkan produksi pakaian dengan bahan sintetis yang murah dan mudah rusak. Model bisnis mereka mendorong konsumen untuk membeli pakaian dalam jumlah besar, yang kemudian cepat dibuang. 

Selain itu, perusahaan ini telah beberapa kali tersandung kasus hukum terkait pelanggaran ketenagakerjaan dan pencurian desain dari desainer independen. 

8. H&M
H&M sering memasarkan dirinya sebagai merek yang peduli lingkungan dengan kampanye "Conscious Collection". Namun, banyak yang menilai ini sebagai strategi greenwashing, upaya untuk terlihat ramah lingkungan, padahal masih beroperasi dengan model fast fashion yang menghasilkan limbah besar. 

Praktik ketenagakerjaan mereka juga masih dipertanyakan. Meskipun berjanji untuk memperbaiki kondisi kerja, laporan tentang upah rendah dan kondisi kerja buruk masih sering muncul. 

9. Urban Outfitters
Urban Outfitters menghadapi banyak tuduhan terkait ketenagakerjaan, termasuk memaksa karyawan bekerja di akhir pekan tanpa bayaran. Merek ini juga masih mengandalkan produksi massal dengan bahan sintetis, yang menyebabkan pencemaran lingkungan. 

Kurangnya transparansi dalam rantai pasokan mereka membuat sulit untuk menilai apakah perusahaan benar-benar berusaha memperbaiki dampak sosial dan lingkungannya. 

10. Topshop
Topshop pernah menjadi ikon fashion di Inggris, tetapi merek ini juga memiliki catatan buruk dalam hal etika bisnis. Pemiliknya, Philip Green, sempat tersandung kasus penggelapan pajak yang memicu kemarahan publik. 

Di sektor produksi, Topshop belum menunjukkan komitmen kuat dalam mengurangi emisi karbon atau menggunakan bahan ramah lingkungan. Model bisnis mereka yang terus mendorong tren cepat memperburuk masalah konsumsi berlebihan dan limbah tekstil. 

Itulah 10 merek fast fashion yang disebut memiliki dampak lingkungan dan sosial paling buruk. Jadi, fast fashion bukan sekadar tentang pakaian murah dan tren cepat. Di balik harga yang terjangkau, ada dampak lingkungan yang besar serta eksploitasi tenaga kerja yang sering kali terjadi. 

Jika ingin mengurangi dampak negatifnya, konsumen dapat mulai mempertimbangkan solusi lain. Seperti membeli pakaian dari merek berkelanjutan, mendukung desainer lokal, atau bahkan beralih ke konsep slow fashion yang lebih ramah lingkungan. Setiap pilihan kecil bisa memberikan dampak besar bagi masa depan industri fasyen yang lebih etis dan bertanggung jawab. Semoga informasi ini bermanfaat.


Topik

Lingkungan Fast Fashion pencemaran lingkungan Nike zara



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tulungagung Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Sri Kurnia Mahiruni