JATIMTIMES – Pemerintah Kota Blitar terus mempercepat pemenuhan kuota peserta didik Sekolah Rakyat menjelang dimulainya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Melalui School Visit ketiga, Minggu (19/7/2026) sore. Wali Kota Blitar H. Syauqul Muhibbin mengajak sekitar 200 kepala keluarga bersama calon siswa melihat langsung lingkungan dan fasilitas Sekolah Rakyat Kota Blitar.
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 16.00 WIB itu menjadi bagian dari pendekatan langsung pemerintah kepada keluarga yang masuk kelompok prioritas. Wali kota yang akrab disapa Mas Ibin memandu calon siswa dan orang tua berkeliling kompleks sekolah, sekaligus menjelaskan sistem pendidikan, pola pengasuhan, hingga kehidupan siswa di asrama.
Baca Juga : Gelapkan Motor Milik Keluarga, Pelaku Diamankan Polisi
Sebagian keluarga yang hadir memiliki anak yang sebelumnya telah diterima di SD maupun SMP melalui jalur afirmasi. Pemkot Blitar menawarkan Sekolah Rakyat sebagai alternatif pendidikan berasrama dengan dukungan pembelajaran dan pengasuhan yang lebih komprehensif bagi anak-anak dari keluarga sasaran.
“Kita mengajak calon siswa Sekolah Rakyat berikut orang tuanya untuk meninjau langsung. Ini School Visit yang ketiga, hari ini sekitar 200 kepala keluarga. Sebagian anak sudah diterima di SD atau SMP melalui jalur afirmasi. Kalau memang memenuhi kriteria dan ingin bersekolah di sini, silakan memanfaatkan kesempatan ini,” kata Mas Ibin.
Menurut dia, sasaran utama program tersebut adalah anak-anak dari keluarga desil 1 dan desil 2, termasuk keluarga dengan kondisi sosial ekonomi rentan. Karena itu, Pemkot berupaya memastikan keluarga yang memenuhi kriteria memperoleh informasi lengkap sebelum menentukan pilihan pendidikan anak.
Pemkot Prioritaskan Warga Kota Blitar Isi Kuota 270 Siswa

Mas Ibin menjelaskan, penerimaan Sekolah Rakyat berbeda dengan mekanisme pendaftaran sekolah pada umumnya. Pemerintah terlebih dahulu mengidentifikasi calon peserta didik berdasarkan data sosial ekonomi, kemudian melakukan penjangkauan dan verifikasi.
Dari pemetaan awal, terdapat sekitar 7.000 anak dari keluarga desil 1 dan desil 2. Jumlah tersebut kemudian dikerucutkan berdasarkan jenjang sasaran kelas I SD, kelas I SMP, kelas I SMA, serta anak putus sekolah hingga ditemukan sekitar 1.200 calon potensial.
Pemerintah kemudian melakukan penyisiran lebih lanjut. Hingga menjelang School Visit ketiga, jumlah calon siswa yang telah terjaring masih sekitar 100 anak. Mas Ibin berharap kegiatan tersebut dapat mendorong jumlah calon peserta didik mendekati 200 anak.
Sekolah Rakyat Kota Blitar memiliki kapasitas 270 peserta didik. Pemkot memprioritaskan kesempatan tersebut bagi warga Kota Blitar sebelum kekurangan kuota nantinya dapat diisi peserta didik dari daerah lain.
“Kuotanya 270. Kami memberikan kesempatan terlebih dahulu kepada warga Kota Blitar supaya kuota itu bisa terpenuhi. Ini kesempatan yang sangat baik. Kalau nanti sudah penuh, tentu sudah tidak bisa lagi menerima,” ujarnya.
Mas Ibin meminta keluarga yang sebelumnya telah didatangi dan disurvei petugas segera memberikan respons. Terlebih, MPLS Sekolah Rakyat direncanakan mulai 31 Juli 2026.
“Sebelum MPLS saya berharap kuota 270 sudah terpenuhi, sehingga ketika MPLS dimulai jumlah siswanya sudah penuh. Masyarakat yang kemarin sudah disurvei kami harapkan segera merespons dan memanfaatkan kesempatan ini,” kata dia.
Wali Asuh Disiapkan, Orang Tua Tak Perlu Khawatir Sistem Asrama

Selain soal kuota, kekhawatiran orang tua terhadap sistem asrama menjadi perhatian dalam School Visit. Sejumlah orang tua mempertanyakan kesiapan anak tinggal terpisah dari keluarga, terutama bagi peserta didik usia sekolah dasar.
Mas Ibin memastikan sistem Sekolah Rakyat dilengkapi wali asuh, pengelola asrama, dan guru yang mendampingi kehidupan peserta didik. Pola tersebut dirancang agar anak tetap memperoleh perhatian dan pendampingan selama berada jauh dari orang tua.
“Kalau orang tua khawatir itu wajar. Tetapi di sini anak-anak ada wali asuh, ada pengurus asrama, dan ada guru-guru. Kami yakin pengelola Sekolah Rakyat akan membuat anak-anak nyaman dan betah belajar di sini,” tuturnya.
Baca Juga : Pendampingan Berlanjut, 45 Keluarga Korban Kanjuruhan Ikuti Ziarah Religi
Kepala Dinas Sosial Kota Blitar Eka Atikah menjelaskan, sistem penerimaan Sekolah Rakyat menerapkan konsep multi entry multi exit. Dengan sistem tersebut, perpindahan peserta didik dari jenjang atau kelas tertentu dimungkinkan sepanjang calon siswa memenuhi persyaratan dan lolos proses verifikasi.
“Dari kelas berapa pun pindah dimungkinkan. Sepanjang sudah dilakukan penjangkauan, kemudian diplenokan dan disetujui berdasarkan hasil verifikasi lapangan, selanjutnya ditetapkan melalui keputusan kepala daerah,” ujar Eka.
Masyarakat yang merasa memenuhi kriteria dan ingin memperoleh informasi mengenai Sekolah Rakyat dapat mendatangi Dinas Sosial Kota Blitar maupun menghubungi pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) di masing-masing kelurahan.
Progres Pembangunan 87 Persen, Dikebut Siap MPLS 31 Juli

Di tengah percepatan pemenuhan peserta didik, pembangunan fisik Sekolah Rakyat Kota Blitar juga terus dikebut. Berdasarkan laporan terakhir yang diterima Dinas Sosial, progres pembangunan telah mencapai sekitar 87 persen.
Meski kontrak pekerjaan berlangsung hingga Agustus 2026, pemerintah menargetkan area utama yang digunakan peserta didik sudah siap menjelang MPLS pada 31 Juli. Pekerjaan diarahkan agar lingkungan sekolah aman, bersih, dan tidak lagi terganggu aktivitas konstruksi berat.
“Informasi terakhir progresnya sekitar 87 persen dan terus meningkat. Memang kontraknya sampai Agustus, tetapi karena kita mengejar MPLS, diharapkan tanggal 31 Juli sudah siap. Minimal alat berat dan material sudah tidak mengganggu, lingkungan juga sudah lebih rapi,” kata Eka.
Melalui tiga kali School Visit, Pemkot Blitar berupaya meyakinkan keluarga prioritas dengan memperlihatkan langsung lingkungan dan fasilitas Sekolah Rakyat. Selain ruang kelas, sekolah ini dilengkapi laboratorium, perpustakaan, asrama, ruang makan, fasilitas ibadah, hingga sarana olahraga seperti lapangan basket dan mini soccer. Sistem pengasuhan juga diperkuat dengan keberadaan wali asuh yang mendampingi siswa selama tinggal di asrama.
Melalui School Visit ini, Pemkot Blitar berharap pemenuhan kuota 270 peserta didik dapat dipercepat menjelang MPLS, sekaligus memastikan fasilitas pendidikan gratis dan berkualitas tersebut dimanfaatkan secara optimal oleh keluarga yang menjadi sasaran program.
