JATIMTIMES - Kebijakan baru Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang membuka peluang anak usia 5 tahun 6 bulan masuk Sekolah Dasar (SD) menuai perdebatan di media sosial.
Sejumlah warganet mempertanyakan urgensi anak masuk SD lebih cepat, sementara sebagian lainnya menyoroti kesiapan emosional anak yang dinilai tak kalah penting dibanding kemampuan akademik.
Baca Juga : Blush On Cepat Hilang? Teknik Double Blush Ini Bikin Makeup Awet Seharian
Sebelumnya, Kemendikdasmen memberikan pengecualian batas usia calon murid SD menjadi minimal 5 tahun 6 bulan per 1 Juli. Namun, kebijakan tersebut tidak berlaku untuk semua anak.
Pengecualian itu hanya diberikan kepada anak yang memiliki kecerdasan atau bakat istimewa dan harus dibuktikan melalui rekomendasi kesiapan belajar dari psikolog profesional atau dewan guru sekolah tujuan.
Meski demikian, aturan tersebut memicu beragam tanggapan dari masyarakat. Salah satu yang ramai diperbincangkan berasal dari unggahan akun Threads @susiani***.
"Pemerintah merevisi aturan anak masuk SD menjadi 5 th. Yang anaknya lagi SMP SMA, punya stabilitas emosi yang bagus, kayaknya boleh coba disounding masuk jurusan psikologi. Calon pasiennya banyak," tulisnya.
Unggahan tersebut kemudian viral dan memancing diskusi panjang di kolom komentar.
Melihat unggahannya ramai diperbincangkan, pemilik akun kemudian menjelaskan bahwa pernyataannya muncul sebagai bentuk kekhawatiran terhadap dampak kebijakan tersebut.
"Waduh maaf jadi rame. Ini hanya ungkapan emosi sesaat saya karena baru² ini kemendikdasmen mensosialisasikan bahwa tahun ajaran ini anak berusia 5.5 th boleh diterima masuk SD dg SYARAT KESIAPAN DIBUKTIKAN SURAT PEMERIKSAAN PSIKOLOG," tulisnya.
Menurutnya, alasan yang disampaikan pemerintah berkaitan dengan adanya anak-anak yang sebelumnya tidak diterima di jenjang pendidikan tertentu karena faktor usia.
"Dengan Alasan karena banyak anak SMP SMA kemarin yang gak keterima karena usianya kekecilan. Yang menjadi perhatian saya adalah dulu saat sosialisasi usia SD harus 7 th aja banyak ortu yang maksa anaknya sekolah usia 5 th. Apakabar sosialisasinya begini skr," lanjutnya.
Ia juga membagikan pengalamannya sebagai orang tua yang memiliki tiga anak dengan usia masuk SD berbeda-beda.
"Anak saya yg pertama masuk SD 6.8, kedua 7.3, yg ketiga 6.11. buat saya pribadi gak ada yang perlu dikejar dengan masuk SD di umur 5 tahun. Anak² saya bukan anak gifted. Jadi menurut saya pas umur segitu," tulisnya.
Dari pengamatannya, anak yang masuk SD pada usia lebih matang cenderung memiliki kesiapan emosional yang lebih baik. "Menurut pengamatan saya yang sekolah umur 7.3 th paling aman secara emosi," tambahnya.
Dalam unggahan lain, ia menilai tantangan belajar anak saat ini jauh berbeda dibanding masa sekolah generasi sebelumnya.
"Pelajaran sekarang gak sama dengan pelajaran jaman saya dulu SD. Nulis huruf A selembar. Nulis angka 1 selembar. Belajar baca ini ibu Budi. Ini bapak Budi," tulisnya.
Menurutnya, materi pembelajaran saat ini sudah jauh lebih kompleks sejak jenjang awal sekolah dasar.
"Anak sekarang soal math aja sudah soal cerita. Buat saya membiarkan anak bertumbuh alami sesuai usianya itu jauh lebih penting," lanjutnya.
Baca Juga : Tim PkM Dosen Statistika UB Dorong Kapasitas Guru SD Lamongan Hadapi Tantangan Digitalisasi Data Pendidikan
Ia juga menyinggung perbedaan antara kemampuan akademik di sekolah dengan tuntutan asesmen atau tes yang lebih menekankan kecepatan dan kemampuan berpikir tingkat tinggi.
"Karena soal sekolah dan TKA beda jauh beda jenis. TKA itu dituntut jawab cepat dengan benar padahal jenis soalnya hots. Narasinya panjang². Jawabannya gak hanya 1," tulisnya.
Merespons hal itu, akun @asuryan**** yang mengaku sebagai guru kelas 1 SD juga mengkritik hal serupa. Menurutnya, memang ada anak usia 5,5 tahun yang sudah siap masuk SD, tetapi jumlahnya tidak banyak.
"Eeng, saya guru kelas satu. Anak yang 5,5 tahun sudah matang semuanya itu ada tapi jarang," tulisnya.
Ia menjelaskan bahwa kesiapan akademik belum tentu berbanding lurus dengan kesiapan sosial dan emosional.
"Yang siap secara akademik banyak. Tapi yang mau nunggu ketika guru ngomong, yang sudah siap ambil buku sendiri, bersihin meja sendiri, bahkan buka halaman sendiri agak jarang," ujarnya.
Tak hanya itu, kemampuan berinteraksi dengan teman sebaya juga menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian anak usia dini.
"Begitu pula yang sudah bisa maen sama temen tanpa selalu nangis ketika mainnya nggak sesuai maunya," lanjutnya.
Di sisi lain, sejumlah warganet menilai kebijakan tersebut berpotensi membuat sebagian orang tua semakin terdorong mempercepat anak masuk sekolah dasar.
Salah satunya disampaikan akun @taufik.**** yang mempertanyakan alasan di balik keinginan sebagian orang tua agar anak cepat masuk SD.
"Dibikin 7 tahun (aturan masuk SD sebelumnya) aja orangtua pada sibuk masukin anaknya yg umur 6 tahun masuk SD, ini lagi dibikin 5 tahun, anak umur 4 tahun dah didorong2 orangtua buat masuk SD jangan2," tulisnya.
Ia bahkan menyindir fenomena percepatan pendidikan yang dianggap terlalu berorientasi pada target akademik.
"Cepet2 bgt sekolah ngejer apa sih? Pada ga sabar bgt jadi sekrup2 mesin kapitalisme," lanjutnya.
