Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Agama

Jangan Remehkan Kaum Miskin, Rasulullah Sebut Orang Lemah Dekat dengan Surga

Penulis : Anggara Sudiongko - Editor : Sri Kurnia Mahiruni

24 - May - 2026, 09:24

Placeholder
Ilustrasi: Islam mengajarkan untuk kaum muslim tidak menghina orang yang miskin (ist)

JATIMTIMES - Kemiskinan dalam pandangan Islam tidak pernah dijadikan ukuran rendahnya martabat seseorang. Ajaran Islam justru menempatkan manusia dalam posisi setara di hadapan Allah SWT. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya, sebagaimana ditegaskan dalam banyak ayat dan hadis Nabi Muhammad SAW. Karena itu, memandang hina orang miskin menjadi sikap yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Dalam kehidupan sosial, ukuran kemuliaan kerap dihubungkan dengan kekayaan, jabatan, atau status duniawi. Padahal, Rasulullah SAW berulang kali mengingatkan bahwa orang-orang yang dianggap lemah justru bisa memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah SWT. Dalam sebuah hadis riwayat Harits bin Wahb, Nabi SAW bersabda, “Maukah kalian aku beri tahu siapakah ahli surga itu? Mereka adalah orang-orang yang lemah dan dianggap lemah oleh manusia, tetapi jika mereka bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah mengabulkannya.”

Baca Juga : Ramalan Zodiak Minggu 24 Mei 2026: Saatnya Menata Emosi dan Membuka Peluang Baru

Hadis tersebut ditafsirkan sebagian ulama sebagai gambaran tentang kaum miskin yang hidup sederhana, jauh dari kemewahan dunia, namun memiliki hati yang dekat dengan Allah SWT. Tafsiran lain menyebut orang lemah yang dimaksud ialah mereka yang tawadhu, lembut hati, dan tidak sombong meskipun dipandang rendah oleh manusia.

Keutamaan orang miskin juga tergambar dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah. Rasulullah SAW bersabda, “Orang beriman yang miskin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya, yakni lebih dulu setengah hari yang ukurannya sama dengan lima ratus tahun.” Hadis riwayat Ibnu Majah dan Tirmidzi itu menunjukkan bahwa keterbatasan materi tidak menjadi penghalang seseorang memperoleh kemuliaan di akhirat.

Nabi Muhammad SAW bahkan pernah mengingatkan para sahabat agar tidak merasa lebih mulia karena kelebihan duniawi. Dalam sebuah riwayat sahih, Sa’ad sempat merasa dirinya memiliki keutamaan dibanding sahabat lain. Rasulullah SAW kemudian menasihatinya dengan sabda, “Kalian mendapatkan pertolongan dan rezeki karena adanya orang-orang lemah di antara kalian.” Hadis riwayat Bukhari itu menegaskan bahwa keberadaan kaum lemah dan miskin justru menjadi sebab turunnya rahmat Allah SWT.

Pesan serupa juga disampaikan dalam hadis lain yang diriwayatkan an-Nasai. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemah di antara mereka, yaitu dengan doa, shalat, dan keikhlasan mereka.” Syekh al-Albani menilai hadis tersebut berstatus shahih.

Dari berbagai riwayat itu, Islam mengajarkan bahwa orang miskin tidak boleh dipandang sebelah mata. Di balik keterbatasan hidup mereka, terdapat doa yang tulus, kesabaran, dan keikhlasan yang bisa menjadi sebab datangnya pertolongan Allah SWT bagi banyak orang. Karena itu, meremehkan kaum dhuafa bukan hanya melukai sesama manusia, tetapi juga menunjukkan kesombongan yang dibenci agama.

Baca Juga : Wabup Lathifah Dorong Lulusan Shirothul Fuqoha' Gondanglegi Jadi Contoh Generasi Muda yang Berakhlakul Karimah

Rasulullah SAW pun memberikan penjelasan tentang hakikat kemiskinan. Nabi bersabda bahwa orang miskin bukan sekadar mereka yang meminta-minta makanan, melainkan orang yang hidup dalam kekurangan namun menjaga kehormatan dirinya dan tidak memaksa meminta kepada orang lain. Gambaran itu menunjukkan betapa Islam menjaga martabat kaum miskin sekaligus mendorong masyarakat agar lebih peka terhadap kondisi sosial di sekitarnya.

Ajaran membantu fakir miskin juga ditegaskan dalam Alquran. Pada awal dakwah Islam, Surah Al-Mudatsir telah mengingatkan pentingnya kepedulian sosial dan larangan membiarkan kaum dhuafa hidup dalam penderitaan. Allah SWT berfirman dalam QS Al-Mudatsir ayat 42-44 yang artinya, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)? Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak memberi makan orang miskin.”

Ayat tersebut memperlihatkan bahwa ibadah dalam Islam tidak hanya berkaitan dengan hubungan kepada Allah SWT, tetapi juga kepedulian terhadap sesama manusia. Membantu orang miskin bukan sekadar tindakan sosial, melainkan bagian dari ajaran agama yang memiliki nilai ibadah besar di sisi Allah SWT.


Topik

Agama Rasulullah orang miskin surga



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Indonesia Online. Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tulungagung Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Anggara Sudiongko

Editor

Sri Kurnia Mahiruni