JATIMTIMES - Keberadaan koloni kera di kawasan Wisata Wendit, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, selama ini menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung. Namun di balik keberadaannya, satwa tersebut diduga memiliki jejak sejarah panjang yang berkaitan dengan bangunan suci serta ekosistem kuno di sekitar telaga Wendit.
Sejarawan Malang Dwi Cahyono menyebut bahwa kawanan kera di kawasan tersebut diperkirakan sudah ada sejak masa Kerajaan Mataram Kuno sekitar tahun 891 Masehi. Menurutnya, keberadaan kera di Wendit kemungkinan berkaitan dengan adanya bangunan suci yang pernah berdiri di kawasan tersebut pada masa lampau.
Baca Juga : Hukum Merayakan Lebaran Ketupat dalam Islam, Tradisi Jawa yang Sarat Makna Silaturahmi
“Mungkin ya, keberadaan kawanan kera karena di situ merupakan bangunan suci,” kata Dwi.
Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi lama pada masa Hindu-Buddha, bangunan suci seringkali memiliki hubungan dengan keberadaan satwa tertentu yang hidup di sekitarnya. Fenomena tersebut dapat ditemukan di berbagai kawasan di Asia yang memiliki situs keagamaan kuno.
“Kalau kita ke India, ke Bali, ke Jawa pada masa lalu, bangunan suci itu seringkali ada dua binatang yang hadir, kera dan merpati,” jelasnya.
Dwi mencontohkan beberapa lokasi yang hingga kini dikenal sebagai habitat alami kera karena berada di sekitar bangunan suci dan sumber air. Di antaranya kawasan Batu Caves di Malaysia, Pura Uluwatu dan Sangeh di Bali, hingga sejumlah situs keagamaan di India.
Menurutnya, keberadaan kera di kawasan-kawasan tersebut tidak terlepas dari kondisi lingkungan yang mendukung kehidupan satwa liar, seperti sumber air serta vegetasi yang lebat.
“Kera ini pada masa lalu terkait dengan bangunan suci. Karena bangunan suci sering ditempatkan di dekat sumber air. Di situ ada pohon-pohon besar, ada vegetasi lebat,” ujarnya.
Kondisi tersebut dinilai sangat mirip dengan lanskap kawasan Wendit pada masa lampau. Dwi menjelaskan bahwa kawasan tersebut dulunya merupakan telaga alami yang dikelilingi pepohonan besar dengan vegetasi yang cukup rapat.
“Wendit itu telaganya cekung, tapi sekitarnya meninggi dan pohonnya besar-besar. Itu ekosistem alami yang mendukung habitat kera,” katanya.
Indikasi sejarah kawasan tersebut juga diperkuat dengan keberadaan sejumlah prasasti yang berkaitan dengan wilayah di sekitar Wendit, seperti Prasasti Balingawan tahun 891 Masehi dan Prasasti Muncang tahun 944 Masehi.
Baca Juga : Liburan ke Timur Tengah Batal? Ini 6 Destinasi Alternatif yang Tak Kalah Menarik
“Prasasti Muncang itu tahun 944. Jadi lebih muda sekitar 50 tahunan. Ada kemungkinan candi di Wendit itu semasa dengan era Prasasti Balingawan, berarti akhir abad ke-9, di masa Mataram,” ujarnya.
Pada periode tersebut, pusat pemerintahan Kerajaan Mataram masih berada di wilayah Jawa Tengah dan belum berpindah ke Jawa Timur seperti yang terjadi pada masa pemerintahan Mpu Sindok setelah tahun 929 Masehi.
Dwi juga mengungkapkan bahwa di kawasan Wendit ditemukan indikasi adanya bangunan candi serta petirtaan kuno. Beberapa struktur bata kuno masih terlihat di sejumlah titik di kawasan wisata tersebut.
Sisa-sisa struktur tersebut dapat ditemukan di sekitar pendopo hingga area kolam tertutup yang diduga merupakan bagian dari kompleks bangunan kuno.
“Di Wendit itu ada candi dan ada petirtaan. Kalau ada candi pasti ada petirtaan. Dan di sini ada dua-duanya,” terangnya.
Berdasarkan sejumlah temuan sejarah tersebut, Dwi menilai keberadaan koloni kera di kawasan Wendit bukanlah fenomena baru. Satwa tersebut diduga telah menghuni kawasan tersebut sejak ratusan tahun lalu dan menjadi bagian dari ekosistem yang terbentuk di sekitar situs suci kuno.
“Merujuk pada prasasti-prasasti itu, dan diperkuat dengan cerita dari Kitab Negarakertagama. Sejak 891 Masehi kera sudah berada disana,” tuturnya.
