JATIMTIMES - Gambus Misri merupakan kesenian khas Jombang yang lahi tahun 1960. Kesenian legend berisi dakwah Islam ala 'Santri Jombangan' itu, kini mulai dibangkitkan kembali.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Jombang mulai membangkitkan lagi kesenian legenda Kota Santri ini. Kelompok Gambus Misri yang masih eksis hingga kini hanya kelompok Bintang Sembilan dari Desa Kendalsari, Kecamatan Sumobito.
Baca Juga : Seni Sanduk Sah Jadi Warisan Budaya Nasional, Wali Kota Batu Terima Sertifikat WBTb dari Menteri Kebudayaan
Disdikbud Jombang mengajak Bintang Sembilan untuk menampilkan pertunjukan Gambus Misri di Gedung Kesenian, Jalan Kusuma Bangsa. Pertunjukan Gambus Misri dibawakan dengan karakter khas santri.
Yaitu menceritakan kisah-kisah bernuansa Islam dengan alunan musik gambus. Di dalam pertunjukan ini, disisipkan candaan ala ludruk Jawa Timur. Sehingga pertunjukan Gambus Misri tampak religius dan humoris.
Gambus Misri sendiri pertama kali dikenalkan oleh teater rakyat yang didirikan oleh Asmuni pada tahun 1960. Di era 1965, Gambus Misri mengalami masa kejayaan. Kesenian khas Jombang ini mulai kehilangan pamornya di tahun 1980 karena gempuran modernisasi.
"Pelestarian Gambus Misri penting karena generasi muda belum sepenuhnya mengenal kesenian ini. Pemerintah Kabupaten Jombang berkomitmen untuk terus mendukung, melindungi, dan memanfaatkan potensi seniman agar warisan budaya tak benda ini tetap lestari," kata Sekda Jombang, Agus Purnomo usai melihat pertunjukan Gambus Misri, (23/02/2026).
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Jombang Anom Antono menegaskan bahwa Gambus Misri Bintang Sembilan merupakan satu-satunya kesenian sejenis di Kabupaten Jombang. Berdasarkan implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, Pemkab Jombang akan melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan objek pemajuan kebudayaan.
Baca Juga : 1 Tahun Jabat Bupati Jombang, Warsubi Raih 18 Penghargaan Bergengsi
"Melalui pementasan ini, Disdikbud Jombang berupaya menghadirkan kembali identitas budaya daerah sebagai bagian dari penguatan karakter generasi muda di tengah derasnya arus globalisasi," pungkasnya.(*)
