JATIMTIMES - Universitas Brawijaya (UB) kembali menambah jajaran guru besarnya. Lima akademisi lintas disiplin akan dikukuhkan dan menyampaikan orasi ilmiah di hadapan Senat Akademik Universitas, Selasa (10/2/2026), di Gedung Samantha Krida. Momentum ini bukan sekadar seremoni akademik, melainkan penegasan kontribusi ilmu pengetahuan UB dalam menjawab persoalan riil masyarakat, dari pandemi, pencemaran laut, hingga kompleksitas data modern.
Kelima profesor yang dikukuhkan yakni Prof. Dra. Trisilowati, M.Sc., Ph.D. dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Prof. Defri Yona, S.Pi., M.Sc.stud., D.Sc. dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Prof. Dr. Eng. Fadly Usman, MT., Prof. Dr. Eng. Ir. Riyanto Haribowo, ST., MT., IPM., ASEAN Eng. dari Fakultas Teknik, serta Prof. Achmad Efendi, S.Si., M.Sc., Ph.D. dari FMIPA.
Baca Juga : Sosok Mohan Hazian Disorot: Profil Pendiri Thanksinsomnia yang Namanya Viral di X karena Isu Sensitif
Prof. Trisilowati menyoroti peran matematika sebagai fondasi pengambilan kebijakan kesehatan publik. Ia memperkenalkan model kontrol optimal SVEIAQHR yang dirancang untuk membantu mitigasi penyebaran COVID-19 melalui pendekatan simultan vaksinasi, edukasi, dan karantina. Menurutnya, matematika bukan sekadar alat hitung, melainkan instrumen strategis yang melengkapi riset kedokteran dan biologi dalam menghadapi pandemi global akibat SARS-CoV-2.
“Model ini dirancang untuk menekan jumlah kasus terinfeksi sekaligus mengoptimalkan biaya intervensi, sehingga sumber daya dapat digunakan secara lebih efektif,” ujarnya, Senin, (9/2/2026) dalam konferensi pers.
Keunggulan riset ini terletak pada penggunaan model orde fraksional yang dinilai lebih akurat dalam merepresentasikan dinamika data kasus aktif. Melalui simulasi, kombinasi kebijakan vaksinasi massal, penguatan edukasi protokol kesehatan, dan karantina mandiri terbukti paling efisien dalam mengendalikan laju penyebaran.
Ia berharap model yang mencakup populasi rentan hingga pasien rawat inap tersebut dapat menjadi rujukan ilmiah bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pengendalian penyakit menular ke depan. Prof. Trisilowati tercatat sebagai profesor aktif ke-39 di FMIPA, profesor aktif ke-251 di UB, dan profesor ke-443 sepanjang sejarah Universitas Brawijaya.
Dari ranah kelautan, Prof. Defri Yona menawarkan gagasan KERIS-LAUT, sebuah kerangka risiko integratif untuk pengendalian pencemaran laut Indonesia. Alumni Pukyong National University, Korea Selatan ini menekankan bahwa pencemaran laut tidak bisa dipandang parsial. Kerangka yang ia kembangkan menggabungkan alur perpindahan polutan, proses akumulasi, hingga dampak ekologis dan kesehatan manusia dalam satu sistem analisis. “Pencemaran laut bermula dari masuknya polutan ke ekosistem, berdampak pada biota, dan pada akhirnya kembali ke manusia. Itu yang harus kita kendalikan bersama,” katanya.
Melalui KERIS-LAUT, hotspot pencemar dapat diidentifikasi, prioritas penanganan ditentukan, dan strategi mitigasi disesuaikan dengan karakter ekosistem. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, pendekatan ini dinilai relevan untuk mengaitkan isu pencemaran dengan keamanan pangan dan kesehatan masyarakat. Prof. Defri Yona dikukuhkan sebagai profesor aktif ke-28 di FPIK, profesor aktif ke-252 di UB, serta profesor ke-444 Universitas Brawijaya.
Isu kebencanaan pesisir menjadi fokus Prof. Fadly Usman. Dalam orasi bertema Model KOSTAL, ia menekankan pentingnya kesiapsiagaan manusia sebagai kunci mitigasi tsunami di kawasan pesisir berisiko rendah. Lulusan Universitas Miyazaki ini menjelaskan bahwa KOSTAL menitikberatkan pada peningkatan kapasitas masyarakat melalui teknologi informasi yang terjangkau. “Kesiapsiagaan itu ada pada orangnya. Masyarakat harus mengenali tanda-tanda alam sebelum tsunami terjadi,” tuturnya.
Ia mencontohkan kearifan lokal masyarakat Simeulue yang mampu menyelamatkan diri saat tsunami Aceh karena memahami isyarat alam, serupa dengan budaya siaga bencana di Jepang. Dari riset penataan kawasan pantai, ia kemudian mengembangkan sistem peringatan dini portabel yang bisa diproduksi secara mandiri oleh desa. Alat ini mendeteksi pola gelombang laut dan memungkinkan peringatan cepat melalui akses aparat desa.
“Sistem peringatan dini konvensional biayanya sangat mahal, sementara kami mengembangkan versi portabel dengan biaya sekitar belasan juta rupiah yang bisa dibuat desa sendiri,” ungkapnya. Prof. Fadly Usman tercatat sebagai profesor aktif ke-34 di Fakultas Teknik, profesor aktif ke-253 di UB, dan profesor ke-445 Universitas Brawijaya.
Baca Juga : TPG Guru Kini Cair Tiap Bulan! Ratusan Pendidik di Kota Batu Sudah Terima Tunjangan 2026
Sementara itu, Prof. Riyanto Haribowo mengangkat persoalan kualitas perairan tropis yang kian tertekan oleh aktivitas manusia. Ia memperkenalkan konsep River Index sebagai kerangka penilaian kualitas air yang mengintegrasikan mikroplastik, parameter fisik dan kimia air, serta tata guna lahan. Menurutnya, ancaman terhadap ekosistem perairan tidak bisa dipahami sebagai dampak tunggal satu jenis pencemar.
“Risiko ekologis terbentuk dari kombinasi berbagai tekanan yang bekerja secara simultan dan memengaruhi fungsi perairan,” jelasnya.
Kebaruan River Index terletak pada cara memosisikan mikroplastik sebagai penguat risiko ekologis ketika berinteraksi dengan faktor lain, bukan sekadar pencemar berdiri sendiri. Ia berharap konsep ini dapat memperkuat riset, kebijakan, dan praktik pengelolaan perairan berkelanjutan di wilayah tropis. Prof. Riyanto merupakan profesor ke-35 di Fakultas Teknik dan profesor ke-446 Universitas Brawijaya.
Dari bidang statistika, Prof. Achmad Efendi memaparkan pengembangan mixed model untuk optimasi klasifikasi data melalui pendekatan hybrid PCA dan ICA. Ia menjelaskan bahwa tantangan data modern semakin kompleks, bersifat bertingkat, berdimensi tinggi, dan berasal dari beragam sektor, mulai kesehatan, ekonomi, hingga media sosial. Mixed model yang ia kembangkan mengombinasikan efek tetap dan acak, memungkinkan analisis yang relevan untuk populasi maupun subjek spesifik.
Pendekatan hybrid PCA dan ICA digunakan untuk reduksi dimensi data dan memastikan variabel prediktor saling independen. Riset ini telah diaplikasikan pada berbagai data bertingkat, seperti kemiskinan, kinerja kredit perbankan, polling, hingga pasar saham. Ke depan, ia menekankan pentingnya integrasi mixed model, pendekatan Bayesian, dan statistika komputasi untuk menjawab tantangan data masa depan.
“Struktur data akan semakin rumit, sehingga penguatan metode komputasi dan pemodelan menjadi keniscayaan,” pungkasnya.
