Jatim Times Network Logo
Poling Pilkada 2024 Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Poling Pilkada 2024
Peristiwa

Heboh Soal UKT Naik hingga Rencana Datangkan Dokter Asing, Begini Respon Dokter Lokal

Penulis : Binti Nikmatur - Editor : Nurlayla Ratri

22 - May - 2024, 12:00

Placeholder
Ilustrasi dokter asing. (Foto: iStock)

JATIMTIMES - Berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) telah merilis biaya kuliah terbarunya untuk tahun akademik 2024/2025. Informasi UKT terbaru itu tak sedikit membuat mahasiswa kaget, lantaran beberapa kampus ada yang menaikkan besarannya hingga 10 kali lipat dibandingkan 2023. 

Termasuk kedokteran menjadi salah satu jurusan dengan UKT termahal di beberapa kampus. Misalnya kedokteran gigi di Universitas Brawijaya masuk melalui jalur SNBT 2024 besaran UKT untuk golongan 12 adalah Rp 33,7 juta. 

Baca Juga : Puluhan Pendukung Kawal Abah Anton, Daftar ke 4 Partai Fraksi Damai

Pegiat Media Sosial (Medsos) yang juga berprofesi sebagai dokter, dr Eva Sri Diana Chaniago merespons rumor UKT dengan rencana Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yang hendak mendatangkan dokter asing.  

"UKT meroket naik. Apalagi Fakultas kedokteran.. Ngga naik aja dah muahaaal.. Nanti siapa yg jadi dokter di Indonesia? Tenang, sudah disediain dokter-dokter asing," jelas Eva. 

Karena UKT mahal, Eva menyindir pemerintah agar masyarakat Indonesia cukup dengan menamatkan sekolah di jenjang SMA. Hal ini terjadi lantaran sebelumnya Kemendikbud, melalui Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek Tjitjik Sri Tjahjandarie menegaskan jika pendidikan tinggi merupakan pendidikan tersier atau pilihan yang tidak masuk dalam wajib belajar 12 tahun. Pendidikan wajib di Indonesia saat ini hanya 12 tahun yakni dari SD, SMP hingga SMA.

"Kalian cukup tamat SMA aja.. Kuliah hanya kebutuhan tersier. Miskin ngotot kuliah ? Ambil Pinjol sana..," sindir Eva. 

Selain itu, Eva mempertanyakan soal rencana dokter asing yang bakal dilakukan oleh Kemenkes. Lantas apakah dokter asing berkenan dibayar sebagai dokter di Indonesia dengan gaji Rp2-8 ribu tiap pasien BPJS Kesehatan. 

"Btw, dokter asing mau ya ke indonesia di gaji cuma 2 ribu - 8 ribu per pasien BPJS ??," tanya Eva. 

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan kehadiran tenaga kesehatan (nakes) asing bisa membuat Indonesia naik kelas. Dia menganalogikan tenaga kesehatan, dengan pemain naturalisasi sepak bola Timnas Indonesia. Budi menyebut kehadiran dokter asing akan menciptakan kompetisi dan membuat nakes lokal bakal lebih baik.

Baca Juga : Lathifah Bakal Maju Bareng Anak Mantan Bupati, Begini Pandagannya terhadap Phrosakh

Namun langkah Menkes itu menuai beragam kritikan dari dokter lokal. Salah satu yang menjadi sorotan adalah pendayagunaan tenaga medis dan kesehatan asing dikhawatirkan menimbulkan masalah baru bagi sektor kesehatan di Indonesia, bila tidak diiringi regulasi, pengawasan dan rencana yang terukur. 

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) bahkan meminta pemerintah agar pengadaan dokter asing dilakukan dengan penyetaraan kompetensi dan proses adaptasi yang diatur secara ketat. Sebab demografi penyakit dan teknologi medis yang ada di Indonesia bisa sangat berbeda dari negara dokter asing tersebut berasal.

Dokter Eva juga menyoroti kinerja Kemenkes. Di mana daripada membicarakan soal mendatangkan dokter asing, lebih baik mengurus stok obat yang kosong. 

"Pak Jokowi, sebelum naturalisasi dokter, tolong dong obat-obat banyak kosong, obat TBC pula..nanti makin meledak TBC, dokter Indonesia pula yang dibilang tolol," pungkas Eva. 


Topik

Peristiwa UKT naik dokter asing Eva Chaniago



JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tulungagung Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Binti Nikmatur

Editor

Nurlayla Ratri