Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Hukum dan Kriminalitas

BNN Rehabilitasi 8 Warga Kota Batu, 6 Orang Adiksi Berat

Penulis : Prasetyo Lanang - Editor : Dede Nana

07 - Apr - 2024, 13:23

Badan Narkotika Nasional Kota Batu.
Badan Narkotika Nasional Kota Batu.

JATIMTIMES - Penyalahgunaan narkoba masih menjadi pekerjaan rumah bersama, tak terkecuali di Kota Batu. Diketahui sebanyak 8 warga Kota Batu masih harus menjalani rehabilitasi akibat adiksi narkoba. Dimana enam orang di antaranya memiliki gejala gangguan adiksi berat dan harus menjalani rawat inap.

Hak tersebut diungkapkan Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Batu Wahjudi Santoso. Rehabilitasi terhadap gejala atau gangguan adiksi narkotika dilakukan di tempat yang berbeda tergantung dari tingkatannya. Yakni rehabilitasi rawat jalan dengan pendampingan puskesmas dilakukan pada tingkatan ringan, sedangkan tingkatan berat dirujuk dan menjalani rawat inap di rumah sakit.

Baca Juga : Setahun 303 Pelajar Jadi Korban Kecelakaan di Kabupaten Malang

"Saat ini yang direhabilitasi Puskesmas dengan rawat jalan ada 2 orang. Puskesmas yang menangani berbeda di Batu. Yang terkategori berat ada enam orang di RSJ Menur Surabaya," kata Wahjudi saat ditemui di Kantornya, Jumat (5/4/2024).

Dikatakan, perbedaan perlakuan itu ditentukan dengan jenis pelayanan dan keamanan. Mengingat di Kota Batu belum ada tempat yang memiliki fasilitas yang cukup untuk rehabilitasi tingkat berat. "Kalau di RSJ Menur keamanan dan fasilitas bisa memadai dengan kondisi pasien, di sini belum," tambah Wahjudi.

Berdasarkan data yang dipaparkan, kedelapan pecandu yang direhabilitasi mayoritas adalah pecandu sabu-sabu. Seluruhnya adalah warga Kota Batu. Mereka tertangkap dan mengajukan rehabilitasi untuk penyembuhan. Menurutnya, rehabilitasi harus dilakukan secara komprehensif kepada penyalahguna agar tidak kembali kepada narkoba saat sembuh.

Wahjudi menyampaikan, BNN juga meminta agar pihak keluarga dari pasien rehabilitasi dapat menerima kembali dengan baik anggota keluarganya yang sempat terjerat narkoba. Sebab, stigma lingkungan sosial masih sangat kuat dan harus diperangi. Serta penyintas harus mendapatkan perhatian agar ketika terjadi masalah tak kembali mencari jalan pintas adiksi narkoba.

Masyarakat yang ingin keluar dari adiksi barang haram tersebut bisa menghubungi BNN. Pihaknya juga menjamin akan merahasiakan identitas para pecandu dan korban yang melakukan rehabilitasi. Selain itu juga tetap akan mendampingi pasien hingga benar-benar sembuh. Dimana proses rehabilitasi bisa dilakukan dengan rawat inap atau rawat jalan.

Baca Juga : 5 Cara Menghancurkan Lemak Membandel di Perut dari Ahli Diet

Prosedur rehabilitasi pertama yang dilakukan bagi calon peserta rehabilitasi adalah datang ke BNN dan melakukan konfirmasi administrasi. Lalu menjalani serangkaian asesmen. Yakni untuk mengetahui latar belakang dari calon peserta rehabilitasi untuk mengetahui sejauh mana tingkat kecanduan dalam menggunakan obat-obatan terlarang.

Dari hasil tes urine, itu menjadi syarat yang bersangkutan harus menjalani rehabilitasi secara rawat jalan atau di rujuk ke tempat rehabilitasi. Jika rawat jalan akan ada sekitar 10 pertemuan, tergantung progres dari pasien tersebut. Sedangkan untuk rawat inap, pihak BNN sudah bekerja sama dengan fasilitas kesehatan.

"Keputusan ditentukan setelah asesmen terpenuhi secara hukum dan medis, seberapa banyak narkoba, berapa lama penggunaan dan status orang tersebut sebagai pengedar atau hanya pemakai," pungkasnya.


Topik

Hukum dan Kriminalitas bnn kota batu narkoba adiksi


Bagaimana Komentarmu ?


JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tulungagung Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Prasetyo Lanang

Editor

Dede Nana