Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Hukum dan Kriminalitas

Alasan Kakak Adik Rampok dan Bunuh Lansia Difabel di Malang: Butuh Biaya Nikah dan Bayar Utang

Penulis : Ashaq Lupito - Editor : Dede Nana

03 - Apr - 2024, 11:38

Wakapolres Malang Kompol Imam Mustolih (baris depan, tengah) saat memimpin konferensi pers kasus perampokan berujung pembunuhan di Kecamatan Pakis yang berlangsung di Halaman Kantor Satreskrim Polres Malang pada Rabu (3/4/2024). (Foto: Ashaq Lupito / JatimTIMES)
Wakapolres Malang Kompol Imam Mustolih (baris depan, tengah) saat memimpin konferensi pers kasus perampokan berujung pembunuhan di Kecamatan Pakis yang berlangsung di Halaman Kantor Satreskrim Polres Malang pada Rabu (3/4/2024). (Foto: Ashaq Lupito / JatimTIMES)

JATIMTIMES - Faktor ekonomi menjadi motif kakak dan adik tega membunuh seorang lansia saat melancarkan aksi perampokan di sebuah rumah yang berlokasi di Jalan Anggodo Wendit Timur, Dusun Krajan, Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Kedua bersaudara yang baru saja diamankan Satreskrim Polres Malang tersebut masing-masing bernama M. Wakhid Hasyim Afandi (29). Sedangkan adiknya bernama M. Iqbal Faisal Amir (28). Kedua tersangka merupakan tetangga korban yang tinggal di Desa Mangliawan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang.

Baca Juga : 10 Hewan dengan Masa Hidup Paling Singkat di Dunia, Ada Yang Hanya 24 Jam

"Motif dari kedua tersangka, berdasarkan pendalaman sementara yang sudah dilakukan oleh penyidik adalah tersangka ini butuh uang untuk biaya pernikahan, sekaligus untuk membayar tanggungan utang yang mereka miliki," ungkap Wakapolres Malang Kompol Imam Mustolih saat memimpin konferensi pers yang berlangsung pada Rabu (3/4/2024).

Sebagaimana diberitakan, aksi perampokan berujung pembunuhan tersebut terjadi pada Jumat (22/3/2024) malam. Sedangkan korbannya berjumlah dua orang. Satu korban diketahui mengalami luka berat, sedangkan satu korban lainnya ditemukan meninggal dunia.

Kedua korban perampokan sadis tersebut merupakan saudara. Korban meninggal bernama Sri Agus Iswanto (60) yang merupakan penyandang disabilitas tuna netra. Korban meninggal dunia akibat luka tusuk senjata tajam jenis pisau.

Sedangkan korban luka berat bernama Esther Sri Purwaningsih. Korban yang kini berusia 69 tahun tersebut mengalami luka lebam di bagian wajah dan kepala.

Sesaat setelah kejadian, Esther atau yang karib disapa Bu Pur tersebut langsung dilarikan ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) Kota Malang, guna mendapatkan perawatan intensif, Jumat (22/3/2024) malam.

Baca Juga : Ini 5 Artis Hollywood yang Tertarik Belajar Islam dan Al-Quran, Terbaru Ada Will Smith

Sementara itu, untuk jenazah korban meninggal dunia turut di evakuasi menuju kamar mayat RSSA Malang guna dilakukan Visum et Repertum (VeR). Hingga akhirnya, kedua tersangka berhasil diamankan polisi sekitar satu minggu setelah melancarkan aksi bengisnya tersebut, Sabtu (30/3/2024).

Sementara itu, diterangkan Imam, akibat perbuatannya para tersangka diancam dengan pasal berlapis. Diantaranya Pasal 365 ayat (1), ayat (2) angka 1, 2 dan 3, ayat (3) dan ayat (4) KUHP. Yakni tentang pencurian dengan kekerasan (Curas) yang mengakibatkan luka berat atau mati.

Selain itu, para tersangka juga dijerat dengan Pasal 351 ayat (1), ayat (3) KUHP. Yakni tentang penganiayaan yang mengakibatkan orang luka dan mati. "Para tersangka dikenakan pasal berlapis dengan ancaman hukuman pidana mati atau penjara seumur hidup, atau paling lama 20 tahun," pungkas Imam.


Topik

Hukum dan Kriminalitas perampokan pembunuhan di malang disabilitas dibunuh polres malang


Bagaimana Komentarmu ?


JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tulungagung Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Ashaq Lupito

Editor

Dede Nana