Jatim Times Network Logo
Agama Ekonomi Gaya Hukum dan Kriminalitas Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Otomotif Pemerintahan Pendidikan Peristiwa Politik Profil Ruang Mahasiswa Ruang Sastra Selebriti Tekno Transportasi Wisata
Serba Serbi

Muncul Flek Coklat Sebelum atau Sesudah Haid Apakah Boleh Puasa?

Penulis : Mutmainah J - Editor : A Yahya

01 - Apr - 2024, 09:45

Ilustrasi flek coklat. (Foto dari internet)
Ilustrasi flek coklat. (Foto dari internet)

JATIMTIMES - Flek coklat memang menjadi salah satu momok bagi perempuan muslim di bulan puasa. Pasalnya, mayoritas umat Islam menganggap flek coklat dapat membatalkan puasa.

Namun, apakah benar flek coklat dapat membatalkan puasa seperti yang kita anggap selama ini? Berikut penjelasannya.

Baca Juga : Ini Bagian Mobil yang Harus Dicek usai Dipakai Mudik, Jangan Langsung Dibawa Pergi Lagi

Muncul Flek Coklat Sebelum Haid Apakah Boleh Puasa dan Salat?

Dikutip dari buku "Haid dan Kesehatan Menurut Ajaran Islam" oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), dinyatakan bahwa flek coklat yang muncul sebelum haid, tanpa disertai rasa sakit atau gejala lain yang mengindikasikan haid, tidak dianggap sebagai bagian dari periode haid.

Maka bisa dipahami, bahwa seorang perempuan masih diwajibkan untuk melaksanakan salat. Begitu pula, bahwa hal ini menunjukkan munculnya flek coklat sebelum haid tidak membatalkan ibadah puasa dan diperbolehkan puasa, ibadahnya sah.

Namun, perlu diingat bahwa munculnya flek coklat sebelum haid juga dapat menjadi pertanda adanya gangguan kesehatan lain pada tubuh. Misalnya, sisa pendarahan pada mulut rahim atau gangguan hormon. Penting bagi seorang perempuan untuk memperhatikan dan mengkonsultasikan kondisinya dengan ahli kesehatan jika mengalami fenomena ini secara teratur.

Ini menunjukkan bahwa munculnya flek coklat sebelum haid memang dapat menjadi sinyal adanya masalah kesehatan yang perlu diwaspadai.

Sementara itu, jika flek coklat yang muncul disertai dengan gejala seperti rasa sakit saat haid atau sakit punggung, hal tersebut bisa dianggap sebagai bagian dari darah haid. Dalam hal ini, seorang Muslimah dilarang untuk melakukan ibadah salat dan tidak boleh puasa.

Pendapat Buya Yahya

Dilansir dari kanal Youtube Al-Bahjah TV, Buya Yahya mengatakan ada dua pendapat tentang flek coklat yang muncul setelah haid. Ada yang menganggap bahwa fek tersebut adalah darah haid dan yang lainnya menganggap bukan bagian dari haid.

“Jika Anda mengikuti golongan yang pertama, maka wajib bersuci. Namun, jika mengikuti golongan yang kedua, maka Anda hanya perlu membersihkan fleknya dan bisa beribadah seperti biasa,” kata Buya Yahya.

“Akan tetapi, pendapat ulama yang paling terkenal adalah menganggap flek bukan bagian dari darah haid,” sambungnya.

Selanjutnya, Buya Yahya menegaskan bahwa masalah ini termasuk dalam perkara khilafiyah, di mana semua dikembalikan ke masing-masing individu.

Pendapat Lain

Baca Juga : 8 Adab Bertamu di Hari Lebaran Sesuai Anjuran Rasulullah

Menurut ilmu fiqih, Imam Nawawi dalam Al Majmu Syarah Al Muhadzdzab juga mengutip pendapat Abu Sa'id Al Astakhri yang menyatakan jika wanita melihat cairan keruh atau warna kekuningan di luar waktu biasanya haid, maka itu bukanlah haid. Hal ini menggarisbawahi bahwa munculnya flek coklat di luar periode haid tidak mempengaruhi status kesucian seseorang dalam menjalankan ibadah puasa.

Hal ini berdasarkan hadits dari Ummu Alqamah, yang meriwayatkan bahwa Aisyah ra pernah ditanya tentang flek setelah haid.

Dalam hadits tersebut, Aisyah menganjurkan agar tidak tergesa-gesa menganggap suci hingga muncul cairan kuning putih. Ini menunjukkan bahwa munculnya flek coklat sesudah haid memiliki implikasi terhadap ibadah puasa dan salat bagi seorang Muslimah.

“Dahulu para perempuan mengirimkan wadah yang berisi kapas yang terdapat flek kekuningan karena darah haid kepada ‘Aisyah RA. Mereka bertanya hukum shalat ketika keluar flek tersebut. ’Aisyah RA menjawab: ‘Janganlah terburu-buru (menganggap suci) sampai engkau melihat al-qashshah al-baydha’ (cairan putih).” (HR. Bukhari).

Masa Haid

Mengutip NU Online, Imam asy Syafii menjelaskan waktu minimal haid adalah sehari semalam. Sedangkan waktu maksimal adalah 15 hari. Perempuan yang haid harus dipastikan darahnya keluar terus menerus sehari semalam atau 24 jam.

Meski rentang waktu keluar darah mencapai satu hari satu malam, tapi saat diakumulasikan tidak mencapai 24 jam, maka itu bukan haid. Jika sebaliknya dengan kondisi darah keluar tidak lancar, maka itu dianggap haid.

Adapun waktu-waktu saat tidak keluar darah, menurut Imam Syafi'i tetap dianggap haid, dengan catatan akumulasi jam keluarnya lebih dari 24 jam. Sementara, rentang waktu hari keluarnya tak lebih dari 15 hari.

Jadi, misalnya, seorang wanita mengalami flek, setelah itu tidak terasa dan tidak terlihat lagi. Maka, dia bisa menunggu sampai 24 jam (waktu minimal haid). Setelah 24 jam flek terbukti tidak keluar lagi maka anggaplah tidak ada haid.


Topik

Serba Serbi Buya yahya haid haid puasa hukum puasa


Bagaimana Komentarmu ?


JatimTimes Media Terverifikasi Dewan Pers

UPDATE BERITA JATIM TIMES NETWORK

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com dengan klik Langganan Google News Jatimtimes atau bisa menginstall aplikasi Tulungagung Times News melalui Tombol Berikut :


Penulis

Mutmainah J

Editor

A Yahya